Bisnis Anggrek Via Internet Tak Selalu Menguntungkan

Ketekunan dan ketelatenan Dedek Setia Santoso menjalani usaha tanaman anggrek membuahkan hasil. Dalam kurun waktu lima tahun, modal Rp 25 ribu berkembang menjadi Rp 250 juta lebih. Dalam usia yang masih muda, Dedek pun sudah bisa hidup mapan.

Tak ada aktivitas menonjol yang dikerjakan Dedek saat ditemui di rumahnya, Dusun Areng-Areng, Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Pemilik Dd’ Orchids itu terlihat asyik melihat foto-foto dokumentasi saat pameran serta beberapa jepretan foto anggrek.

Sesekali dia mengangkat telepon genggamnya. Dalam percakapan, terekam pembicaraan bahwa dia menerima telepon dari orang yang minta dikirimi anggrek. Terkadang telepon berasal dari teman-temannya sesama pecinta dan pelaku usaha anggrek.

Begitulah aktivitas yang dilakoni Dedek di rumah. Di luar jadwal pameran, hari-harinya begitu senggang. Sering ia menghabiskan waktu berkumpul bersama-temannya.

Maklum, aktivitas perawatan maupun kultur jaringan atau pembibitan anggrek yang ditekuni sejak 2003 itu sudah bisa digantikan orang lain. Tiga orang yang direkrut untuk membantunya sudah bisa menggantikan pekerjaan yang dulu dia lakoni sendirian.

Meski demikian, Dedek juga tidak melepaskan begitu saja. Pria yang genap 30 tahun pada Juni lalu itu juga kerap melakukan pembibitan atau perawatan anggrek jikalau tidak ada kegiatan sama sekali. “Kalo gak ada pameran, yo dolen-dolen nang konco. Kadang yo ngumpul nang kene (Kalau tidak ada pameran, ya bermain ke teman. Kadang ya kumpul di sini),” kata Dedek.

Dia mengakui pertemuan dengan teman-temannya itu juga menjadi salah satu bagian kerjanya. Sebab, pertemuan itu bukan hanya sekadar kumpul dengan ngobrol ngalor ngidul tanpa tujuan. Malah, dari pertemuan itu, ada tukar pikiran dan informasi. Mulai perawatan anggrek, pengembangan jaringan pemasaran, infor spesies anggrek baru, hingga info indukan spesies anggrek yang sedang dicari.

Menjadi pengusaha anggrek yang sukses seperti sekarang tidak dicapai Dedek tanpa keuletan dan kesabaran. Dia sangat tekun menjalani bidang usaha tersebut. “Tidak bisa bulan ini bekerja, kemudian bulan berikutnya mendapatkan hasil. Pekerjaan ini tidak instan alias langsung memperoleh hasil,” tandas pria kelahiran 21 Juni 1978 ini.

Dedek sendiri membutuhkan waktu 1,5 tahun untuk mendapatkan hasil dengan menekuni usaha anggrek. Karena lamanya mendapatkan hasil dari usaha itu, sangat lumrah jika tidak banyak yang menekuni usaha tersebut. Apalagi bagi kalangan muda.

Sebenarnya, Dedek menekuni usaha itu sebagai bentuk keputusasaan. Ceritanya, selepas menempuh kuliah di Universitas Brawijaya pada 2001, dia berusaha mencari pekerjaan sesuai dengan jurusan yang digeluti. Sayang, hingga beberapa kali melamar pekerjaan di sejumlah instansi, tak kunjung ada jawaban. Kesal tak ada yang nyantol, akhirnya dia banting setir.

Tepat 2003, dia membulatkan tekad untuk berusaha anggrek. Namun, tekadnya terbentur modal yang sedikit. Dedek saat itu hanya mengantongi modal Rp 25 ribu. Namanya saja sudah berniat usaha, uang Rp 25 ribu pun dianggap cukup. Dia pun membeli dua botol bibit anggrek. Saat itu, satu botol bibit anggrek yang berisi 30 bibit seharga Rp 12,5 ribu. “Sejak awal, saya memang suka menanam. Maklum anak petani,” ungkapnya.

Ketika memulai usaha, Dedek juga hanya memanfaatkan pekarangan di samping rumahnya. Ukurannya pun tidak luas. Hanya sekitar 1 x 3 meter. “Awalnya memang tidak dapat apa-apa karena pertumbuhan anggrek memang lambat,” kata lelaki yang masih betah membujang ini.

Setelah satu tahun kemudian, bibit yang sudah mulai membesar dijual dan dibelikan bibit baru. “Saya belum berani ikut pameran. Masih berjualan anggrek dewasa. Sebagian sudah berbunga,” ungkap dia.

Dedek pertama mengikuti pameran anggrek pada 2005. Saat itu ada pameran anggrek di Tarekot, belakang Balai Kota Malang.

Pameran yang diikuti itu juga bukan atas modal sendiri. Tapi modal keroyokan. Beberapa teman sekampung Dedek dan kenalan penjual anggrek urunan membayar sewa stan.

Mengetahui hasil dari penyelenggaraan pameran cukup menjanjikan, dia pun memilih lebih kerap mengikuti pameran. Hasil penjualan di pameran sebagian diinvestasikan untuk membeli bibit serta anggrek remaja-dewasa dan berbunga. Aktivitas pameran itu tidak hanya dilakukan di Malang Raya. Tapi juga pada beberapa wilayah di Indonesia seperti Surabaya, Jakarta, Papua, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, Bandung, dan Bali.

Kini, Dedek tidak hanya memiliki lahan pembibitan seluas 1 x 3 meter. Sudah ada empat green house dengan masing-masing luas 100 meter persegi. Beberapa lahan kosong di rumahnya juga dimanfaatkan untuk melancarkan usaha itu, seperti di depan rumah dan samping kiri dan kanan rumahnya. Sudah ada puluhan ribu anggrek dengan beragam spesies yang dikoleksi. Dari dalam negeri hingga luar negeri. Asetnya kini mencapai sekitar Rp 250 juta.

Sukses yang saat ini diraih tak membuat Dedek puas. Dia masih menyimpan harapan untuk lebih meningkatkan usaha yang sudah ditekuni selama lima tahun. Di antaranya dengan membeli peralatan laboratorium kultur jaringan yang lebih canggih. Sebab, peralatan yang dimiliki saat ini masih tergolong cukup sederhana.

Merambah Dunia Maya

Selain mengandalkan interaksi langsung dengan para pembeli dan calon konsumen melalui pameran, Dedek juga memanfaatkan jaringan internet untuk mengembangkan usahanya. Dedek juga kerap memasang iklan dan berbagi informasi dengan para pecinta anggrek di dunia maya.

Usahanya itu banyak membuahkan hasil. Sejumlah transaksi yang berkaitan dengan orang luar Malang Raya diperoleh dari aktivitasnya di internet. Meski sudah banyak transaksi yang dilakukan melalui dunia maya, Dedek mengaku hingga saat ini belum memiliki website. “Biasanya, setelah kirim e-mail, pemesan langsung menghubungi nomor telepon saya,” kata dia.

Dedek mengakui, bisnis melalui dunia maya tidak selamanya menguntungkan. Soalnya, ada juga yang jahil. Setelah barangnya dikirim, ternyata uangnya tak kunjung dikirim. “Pengiriman pertama dan kedua lancar. Tetapi, biasanya pengiriman ketiga tidak dibayar,” tuturnya.

Jika dirupiahkan, kerugiannya lumayan, antara Rp 2 juta sampai Rp 4 juta. Dan, kejadian itu tidak hanya berlangsung sekali dua kali. Untuk mengantisipasi kejadian itu, Dedek pun membuat kesepakatan baru dengan kliennya di dunia maya. Sebelum barang dikirim, dia meminta pembayaran separo sebagi uang jaminan. (ahmad yahya/yn/radarmalang)

Iklan

3 Komentar

Filed under Batu

3 responses to “Bisnis Anggrek Via Internet Tak Selalu Menguntungkan

  1. omi

    salut bwt ms dedek! mudah2an sy bisa mengikuti perjuangannya.

  2. Yoelia

    slm knl buat mas dedek,sy jg suka bgt anggrek blh donk bg ilmu-nya budidaya anggrek,thank

  3. Tetep semangat ya mas Dedek.
    Saya kagum dengan anda.
    Semangat..semangat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s