SPJM Dorong Pengamen Cari Kerja atau Bermusik yang Benar

Operasi preman kini juga menggaruk pengamen jalanan. Khususnya bagi mereka yang bertindak kasar dan memaksa. Kondisi itulah yang membuat Sunaryo, ketua Karang Taruna RW 08, Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, ingin berjuang mengubah pandangan orang terhadap pengamen jalanan yang dibinanya. Seperti apa perjuangannya?

Sebuah rumah petak di gang sempit di kawasan Jl Muharto Gg V terlihat ramai. Keramaian ini berasal dari bunyi-bunyian beragam alat musik yang dimainkan empat pemuda. Ada yang bermain gitar, kentrung, ecek-ecek, dan gendang. Mereka manyanyikan lagu Pengamen Jalanan.

Lagu itu diulang-ulang hingga beberapa kali. ”Gak enak, coba ganti nada C,” ujar seorang pria bertubuh kurus berkaos warna hijau. Setelah dimainkan sekali lagi sesuai nada yang diarahkan, pria ini kembali berujar; ”Nah ngene kan lebih enak didengar.”

Itulah sekilas suasana latihan para pengamen jalanan yang tergabung dalam Serikat Pengamen Jalanan Malang (SPJM). Ketua serikat itu adalah Sunaryo. Kisah perjuangan bapak tiga anak ini dalam menghapus stigma negatif pengamen jalanan tidaklah mudah. Selain memberi motivasi pada remaja-remaja pengamen ini, Sunaryo juga mengajak mereka untuk mengamen yang santun.

Melalui wadah SPJM, kini buah perjuangannya mulai tampak. Hingga pertengahan November ini, anggotanya sudah mencapai 170 orang. ”Mereka semua pengamen jalanan yang biasa beroperasi di Kota Malang,” ujar Sunar, sapaan akrab Sunaryo.

Ide pendirian serikat ini berawal dari stigma buruk yang melekat dari pengamen jalanan yang rata-rata menetap di kawasan tempat Sunaryo tinggal. Saat itu sebagian masyarakat masih ada yang menilai sosok pengamen identik dengan peminta-minta yang membalut dirinya dengan seni musik. Bahkan, tidak jarang, pengamen kerap menjadi biang masalah sebuah peristiwa kriminalitas. Apalagi saat polisi sedang gencar-gencarnya memerangi aksi preman.

Beranjak dari situlah Sunar merasa punya tanggung jawab untuk mengubahnya. ”Saat itu saya berpikir apa daya saya. Untuk pendidikan saja saya hanya kelas 3 SD di SDN Kota Lama VIII (sekarang SDN Kotalama XI, Red),” kata Sunaryo saat ditemui di rumahnya, kemarin.

Namun semangatnya yang besar tetap mendorong Sunar untuk berusaha guna mengangkat citra baik sosok pengamen. Berawal dari aksi kumpul-kumpul di rumah kontrakannya, Sunar yang juga pengamen jalanan ini berhasil mengkoordinir teman-teman senasib membentuk Serikat Pengamen Malang (SPM). Meski ada wadahnya, namun kala itu image pengamen tetap buruk. Hingga akhirnya dia mengubah komunintas SPM menjadi SPJM pada awal 2008. ”Tujuannya untuk mengubah pandangan masyarakat tentang pengamen,” tandasnya.

Eksistensi SPJM di Malang akhirnya mendapat pengakuan Pemkot Malang. Itu seiring dengan turunnya surat keputusan yang ditandatangani Sutiarsi, asisten Sekkota Malang Bidang Administrasi Pembangunan, pada Februari 2008 lalu. SK bernomor 400/285/35.73.124/2008 itu menerangkan SPJM adalah organisasi pengamen jalanan yang diakui eksistensinya dan menjadi sasaran pembinaan pemkot.

Dari 170 anggotanya, 60 persennya lulusan SMP. Sedang yang tidak sekolah hingga tamatan SD sebanyak 20 persen, dan sisanya 20 persen berpendidikan SMA.

Meski organisasi yang didirikan Sunar sudah memperoleh pengakuan pemerintah, namun serikatnya belum memiliki AD/ART layaknya organisasi bonafit. ”Saya juga bingung bagaimana menyusunnya, tapi yang pasti hingga sekarang kami sedang menyusunnya,” katanya.

SPJM sendiri dibentuk dengan lebih memperioritaskan action di lapangan ketimbang beropini di internal organisasi. Misalnya, lebih mengutamakan pengembangan keahlian personal anggota dan aksi sosial ke sesama keluarga pengamen dan tetangga sekitar. Pengembangan keahlian itu misalnya kepiawaian bermain musik dengan membentuk kelompok band atau juga pengembangan keahlian lainnya. Misalnya, membuka bengkel reparasi kendaraan dan menjahit pakaian.

Sedang aksi sosial yang ia tumbuh kembangkan pada anggota adalah membantu setiap tetangga yang mengalami kesulitan terkait layanan publik. ”Kami sering membantu warga yang kesulitan masalah layanan kesehatan di rumah sakit,” ujar Sunar.

Meski hanya bermodal semangat, Sunar mampu membuktikan jika upayanya membuahkan hasil. Ada sejumlah anak buahnya yang kini telah beralih profesi. Mereka tidak hanya menjadi pengamen, tapi sudah berdikari dengan membuka usaha sendiri. Dia menyebut nama Ismael Wahyu Wibowo yang sudah membuka usaha sampingan bengkel motor di Jl Muharto. Ada juga yang menjadi TKI dan membuka usaha warung makanan dan pedagang asongan.

Sunar sendiri terus memotivasi anggota SPJM agar mau berkembang dan tidak cepat puas dengan menjadi pengamen. ”Pengamen sulit untuk dijadikan mata pencarian utama, makanya kami saling memotivasi bekerja sampingan,” jelasnya.

Tak cuma itu, Sunar juga mengimbau seluruh anggota untuk tidak melakukan aksi anarkis. Misalnya, menggores mobil, memaksa minta uang, dan lain sebagainya. ”Saya bersyukur teman-teman mau mendengar saya sehingga aksi negatif seperti itu tidak terjadi,” ucap Sunar.

Kini, selain membina SPJM, Sunar juga berobsesi ingin mengembalikan citra pemuda Muharto yang cenderung dicap negatif. ”Saya berharap citra komunitas pemuda Muharto bisa pulih. Sebab, di mata masyarakat pada umumnya, pemuda Muharto identik dengan pembuat masalah yang berkaitan dengan ganguan kamtibmas,” ungkap Sunar.

Dampak citra buruk itu, mereka merasa kesulitan melamar pekerjaan, kesulitan mengajukan kredit motor dan juga melamar wanita dari luar wilayah Muharto. ”Semoga niat ini dapat dukungan semua pihak, sehingga citra pengamen jalanan tidak seperti anggapan orang selama ini,” ujarnya berharap.

Mardi Sampurno
(*/war/radarmalang)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s