Dirikan Bisnis Bodyguard Profesional, Hilangkan Kesan Preman

BISNIS bodyguard ala film The Bodyguard besutan Mick Jackson, yang dibintangi Kevin Costner dan Whitney Houston, ternyata di Malang tumbuh cukup subur. Bagaimana bisnis ini dikelola? Berikut catatan Malang Post menelusuri ruang gerak Mad Bull Profesional Guard (Mad Bull).

Tidak seperti kelompok atau kumpulan pengawal lainnya di Indonesia, Mad Bull mungkin satu-satunya jasa layanan pengawalan yang secara terang-terangan hadir di Indonesia. Karena, Mad Bull secara tegas dan meyakinkan, telah memproklamirkan diri sebagai bisnis jasa pengawalan profesional.

Menempati kantor di kawasan Jalan Lahor Malang, nama Mad Bull bukan sekadar berarti sapi jantan gila semata. Sebaliknya, nama Mad Bull diambil sebagai identitas sekaligus patron sistem kerja orang-orang didalamnya. Bahkan agar image Mad Bull gampang dikenali, digunakan pula logo berlambang Banteng Ketaton, sekilas mirip logo pabrikan mobil terkenal Ferrari.

Seperti layaknya film The Bodyguard, yang sukses dirilis 25 November 1992 lalu, tampang para pengawal yang dipekerjakan didalamnya juga jauh dari kesan sangar atau ganas.

Sebaliknya, penampilan mereka tampak necis dan rapi. Hanya saja, penampilan necis dan rapi ini tidak selalu diterapkan dalam setiap pengawalan.

‘’Tergantung siapa dan kapan pengawalan dilakukan. Ada kalanya kita tampil necis dan berdasi, tapi ada kalanya juga kita tanpil rapi saja. Tergantung sikon ketika itu,’’ papar Taufiqur Rahman, pimpinan Mad Bull.

Memang, tidak semua anggota Mad Bull yang jumlahnya sekarang ini resmi tercatat 64 orang, berpenampilan gagah dan ganteng. Tetapi, mayoritas diantara mereka rata-rata memiliki postur tubuh dan wajah cukup meyakinkan. Kulit kuning langsat, rambut rapi dan postur tubuh cukup gempal.

‘’Kami hindari penampilan kusam, sangar dan sejenisnya yang justru membuat citra Mad Bull kurang bagus. Meski saat melayani kami harus menyabung nyawa, tetapi kesan angker dan sangar jangan ditampakkan,’’ papar Muhammad Assegaf, pria berwajah ganteng yang juga Account Manager Mad Bull.

Ketika ditanya, apa Mad Bull tidak sekadar organisasi resmi tempat mangkalnya para preman? ‘’Bukan. Kami bukan dari kalangan itu. Kami tahu, jasa seperti ini pasti diidentikan dengan persoalan preman. Sebelumnya, kami justru lebih banyak bergerak di bidang olahraga. Misalnya, lomba panco atau sejenisnya,’’ kilah Assegaf.

Kemudian pola kerja yang diterapkan mereka juga tidak sendiri-sendiri. Artinya, pada satu sisi pengawalan, mereka minimal menempatkan tiga hingga empat orang dalam melayani konsumen. Masing-masing memiliki tugas dan fungsi yang berbeda, tetapi tetap dalam kerangka melindungi sang konsumen.

Ada yang berperan sebagai pendamping konsumen atau diistilahkan bagian ring satu. Ada yang mengawal dan memperhatikan dari jauh atau posisi di ring dua, hingga bagian pembuka jalan.
‘’Pola ini sebelum terjun, kita konsep dahulu. Lalu, masing-masing diberi tugas sesuai fungsinya. Tujuannya sama, mengamankan konsumen,’’ jelas Momon, panggilan akrab Taufiqur.

Lantas bagaimana mereka bisa memperoleh orang-orang berperawakan tinggi tegap, berotot kuat dan bertubuh gempal ini? ‘’Kami rekrut mereka dari kelompok gym-gym yang ada di Malang . Seperti layaknya perekrutan perusahaan, kami pun melakukan seleksi ketat dan tidak sembarangan memilih orang,’’ papar Momon, sembari menunjukkan beberapa anggotanya. (hary santoso) (Hary Santoso/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s