Suara Terbanyak Hilangkan Ideologi Partai

Penerapan sistem suara terbanyak dalam menentukan caleg yang akan duduk di Legislatif menurut analis politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Asep Nurjaman dapat menghilangkan ideologi partai yang sudah terbangun maupun yang sedang dibangun.

Menurutnya, sebagian besar partai politik peserta Pemilu 2009 menerapkan sistem suara terbanyak, termasuk partai-partai besar yang memiliki basis massa besar, seperti Partai Demokrat, PDIP, PAN dan beberapa lainnya. Bahkan, ada yang menggunakan sistem suara terbanyak murni, tanpa melihat prosentase, adapula yang masih menggunakan prosentase batasan perolehan suara seperti PDIP.

“Dalam jangka panjang, penerapan sistem suara terbanyak itu bisa menghilangkan ideologi partai tersebut. Kesempatan itu akan digunakan politisi kutu loncat untuk meraihnya, karena tidak memiliki basis massa yang kuat,” kata Asep kepada Malang Post, kemarin.

Hanya saja, memang penerapan sistem suara terbanyak yang digunakan parpol dalam jangka pendek memang akan mampu mendulang suara pada Pemilu 2009. Masing-masing Caleg berupaya untuk meraih simpatik masyarakat untuk memilihnya. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk duduk di kursi Legislatif, tanpa harus melihat nomor urut yang ada dalam daftar Caleg tetap (DCT).

Namun, hampir semua parpol peserta Pemilu 2009 tidak konsen pada ideologi yang dibangunnya. Sebab semuanya membuka pasar yang lebih luas untuk mendapatkan dukungan sebesar-besarnya dari berbagai lapisan masyarakat, baik nasionalis, religius ataupun lainnya. “PKS misalnya, dia sudah membuka segemen pasar yang lebih luas dengan iklannya yang sempat mengundang kontroversial,” ungkapnya.

Penerapan sistem suara terbanyak itu juga dapat mengundang konflik internal pasca Pemilu, setelah KPU melakukan penghitungan suara. Dalam UU Pemilu No 10/2008, caleg yang menang itu adalah yang mengantongi minimal 30 persen suara.

Konflik internal dapat terjadi, jika tidak ada satu pun caleg yang mendapatkan suara 30 persen. Dan caleg dengan suara terbanyak bukan bernomor urut satu. Akan terjadi perdebatan, karena secara langsung KPU akan melantik caleg dengan nomor urut satu.

Hanya saja, saat ini pengurus parpol sudah mengantisipasinya sejak dini dengan melakukan kontrak politik dengan seluruh para calegnya. Mereka menandatangani surat pengunduran diri dan persetujuan suara terbanyak yang diputuskan partainya.

“Permasalahan akan terjadi saat penyusunan ulang di KPU pasca penghitungan suara. Karena adanya surat pengunduran diri dari para caleg,” ujar Asep. (aim/udi) (Muhaimin/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s