Melongok Bisnis Jasa Pengawalan ala Film The Bodyguard

JASA kawalan atau pengawalan yang diberikan Mad Bull, tidak hanya terbatas dari kalangan artis saja. Tetapi, para Tenaga Kerja Wanita (TKW) sampai turis local pun, juga dilayani. Lantas siapa saja artis yang pernah memanfaatkan kinerja mereka, lalu bagaimana fee yang dikenakan?

Dikalangan artis ibukota, anggota Mad Bull sebetulnya sudah cukup dikenal. Bahkan, artis manca Negara sekelas Skid Row pun pernah dikawalnya. Hanya saja, ketika itu mereka bukan dikenal sebagai anggota Mad Bull karena secara resmi dan terang-terangan mad Bull baru diproklamirkan, Minggu malam kemarin.
Sebut saja Ahmad Dany, personel Dewa 19, Mulan Jameela, Dewi Sandra bahkan Maia Estianty.
‘’Artis-artis Jakarta yang ikut meramaikan Fiesta Batu 2008, Minggu malam, juga dalam pengawalan kami. Termasuk keamanan Fiesta kami juga dilibatkan,’’ papar Momon.

Ke depan, sejumlah kegiatan artis ibukota yang akan tampil di Malang, juga sudah melakukan kontrak dengan Mad Bull. Malah, kegiatan fun supoter Indonesia Damai juga telah mengikat kontrak dengan Mad Bull. ‘’Di Malang ini banyak EO-EO (Event organizer) besar, yang sepakat bekerjasama dengan kami,’’ katanya dengan menyebut sejumlah kegiatan di Desember mendatang.

Terkait kontrak fee atau harga jasa untuk artis, Mad Bull memang tidak bisa menyebutkannya secara vulgar. Tetapi, Mad Bull berprinsip kontrak fee yang dikenakan tidak mutlak atau sebuah harga mati yang harus dibayar para penyewa jasa mereka.

Biasanya, sebelum kontrak kerja diteken antara Mad Bull dan konsumen telah mengikat perjanjian angka fee yang diterima Mad Bull, termasuk system pembayarannya. ‘’Jangan karena mengawal artis, lantas kita pasang tarif tinggi. Tidak begitu. Bagi kami, uang memang perlu, tetapi memberikan layanan prima dan dipercaya, itu jauh lebih penting,’’ kata Assegaf.

Selain artis, sejumlah perusahaan Pengerah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) juga telah mengikat kontrak kerja dengan Mad Bull. Bedanya, kalau artis dikawal ketika sampai di Malang , tetapi TKI dikawal sejak tiba di bandara Juanda Surabaya.

‘’Mereka kalau pulang biasanya bawa uang banyak. Karena takut dipermainkan calo-calo di Juanda dan dijalanan, mereka meminta kita sebagai pengawal,’’ kata Momon dengan menambahkan para TKI itu mengenal anggota Mad Bull dari chatting di internet.

Kendati hanya mengawal TKI, tetapi fee yang dibayar para TKI terbilang cukup lumayan. Sebagai contoh, mulai menjemput di Bandara Juanda hingga tiba di rumah sang TKI, biasanya dikenakan tarif Rp 2 juta/orang. Biasanya, untuk mengawal TKI, Mad Bull menempatkan dua personel.

‘’Biaya itu sudah termasuk sewa mobil, BBM dan kebutuhan lain di jalan. Pokoknya TKI hanya bayar Rp 2 juta, kami pun siap mengawal mereka. Sebetulnya, jika dicermati fee yang kita terima dibanding nyawa kami masih kurang sepadan,’’ tuturnya sembari tersenyum.

Karena jumlah anggota Mad Bull cukup banyak yaitu 64 orang, maka system kebersamaan tetap dilaksanakan didalamnya. Artinya, karena tidak semua personel Mad Bull dalam sehari bisa mendapatkan tugas melakukan pengawalan, maka rejeki pun dibagi sesuai perjanjian kerja.

Selain itu, karena kantor Mad Bull perlu kelangsungan hidup setiap pendapatan dipotong 10 persen, dijadikan pendapatan perusahaan. ‘’Setelah dipotong untuk kantor, rekan yang tidak mendapatkan kerja pun diberi bagian. Selebihnya, menjadi milik anggota yang bekerja,’’ pungkasnya meyakinkan. (has/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s