Pupuk Kimia Langka dan Mahal, Petani Torongrejo Beralih ke Pupuk Organik

Gudang pupuk organik milik kelompok tani rukun tani Torongrejo yang diresmikan Wali Kota Eddy Rumpoko, kemarin. (Vandri Van Battu/Malang Post)

Gudang pupuk organik milik kelompok tani rukun tani Torongrejo yang diresmikan Wali Kota Eddy Rumpoko, kemarin. (Vandri Van Battu/Malang Post)


Petani Desa Torongrejo Kecamatan Junrejo selangkah lebih maju disbanding petani pada umumnya. Pasalnya mereka mulai memproduksi pupuk organik sendiri untuk memenuhi kebutuhan pertaniannya. Bahkan mereka sudah mengaitkan niat mulia pindah ke pupuk organik karena masalah ekologi.
Mereka tidak ingin lingkungan bertambah rusak jika terus menerus menggunakan pupuk berbahan dasar kimia. Sungguh, tindakan yang patut di contoh oleh semua petani.

Kepala Desa Torongrejo Kateni Warno mengatakan, saat ini banyak petani yang mengeluhkan harga pupuk organik yang mahal. Bahkan, sudah mahal langka pula. Apalagi pembuatan pupuk organik tergolong murah dan mudah.

Menurut Kateni, produksi pupuk organik dilakukan oleh petani melalui kelompok tani. Kemarin, kelompok tani rukun tani Desa Torongrejo memulai pembuatan pupuk organik yang ditandai peresmian oleh Wali Kota Batu Eddy Rumpoko.

“Pembuatan pupuk organik dilakukan secara bertahap. Tahun depan diupayakan dilanjutkan lagi oleh kelompok tani lain,” kata Kateni.

Dijelaskannya saat ini masih satu kelompok tani yang membuat pupuk organik. Tapi mulai tahun depan, secara bertahap kelompok tani lain dari delapan kelompok tani yang ada di Torongrejo juga membuat pupuk organik.

Lebih lanjut dia menjelaskan, peralihan penggunaan pupuk organik karena mahalnya pupuk kimia. Sudah begitu, kadang petani mengalami kesulitan untuk mendapat pupuk kimia. Sementara, lanjut Kateni, harga pupuk organik jauh lebih murah.

“Harga pupuk kimia berkisar sekitar Rp 5000 per Kg. Sedangkan harga pupuk organik antara Rp 1000 sampai Rp 1500 per Kg,” paparnya. Harga pupuk organik yang murah ini kata Kateni sangat membantu petani.

Keuntungan lain yang didapat petani dengan menggunakan pupuk organik, kata dia, tanah lahan pertanian lebih subur. “Kalau pupuk kimia, berdampak kurang bagus, zat tanah makin kritis,” jelasnya.
Bila semua kelompok tani sudah memproduksi pupuk organik, Kateni yakin kebutuhan pupuk akan terpenuhi. Saat ini sebut dia, kebutuhan pupuk oleh petani berkisar sekitar 25 ton per bulan.

Sedangkan produksi pupuk organik oleh petani saat ini masih berkisar sekitar 1 ton per bulan. “Secara berlahan, nantinya diusahakan supaya bisa memenuhi kebutuhan petani,” jelasnya. Sedangkan untuk pembuatan pupuk organik, kata dia, petani belajar dari Dinas Pertanian. “Kami memfasilitasi petani untuk belajar membuat pupuk organik sendiri,” katanya.(van/eno)(Vandri van Battu/malangpost)

Iklan

1 Komentar

Filed under Batu

One response to “Pupuk Kimia Langka dan Mahal, Petani Torongrejo Beralih ke Pupuk Organik

  1. koropedang

    campuran komposisinya apa saja?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s