Terimbas Kasus Sengketa Tanah, TPQ Unggulan Terancam Bubar

Yayasan Sa’adatud Daroini Al Bavana di Jalan Diponegoro No. 8 Kota Batu, digugat ahli waris pemilik tanah. Yayasan yang mengelola Taman Pendidikan Al Quran (TPQ) itu, digugat ahli waris, agar menyerahkan tanah dan bangunan yang digunakannya kepada para ahli waris Abdul Rochim, pemilik sah tanah itu.

Gugatan itu didaftarkan tujuh ahli waris Abdul Rochim, Secha, Abdul Rochman, Sabita, Firdaus, Suriya, Muhammad dan Hamid, melalui kuasa hukum yang mereka tunjuk MS. Alhaidary SH dan Rendra Supriadi SH ke Pengadilan Agama (PA) Malang, kemarin. Gugatan itu terdaftar dengan nomor registrasi daftar perkara 1456/Pdt.G/2008/PA Mlg.

‘’Perkara yang kami ajukan untuk pembagian harta peninggalan (tirkah) almarhum Abdul Rochim yang belum dibagi. Harta peninggalan itu masih ditempati dan dikuasai Sa’adatud Daroini Al Bavana,’’ kata Alhaidary kepada Malang Post, usai mendaftarkan gugatannya di PA Malang, kemarin.

Dalam gugatannya, yayasan masuk sebagai turut tergugat IV. Ada 10 tergugat dan turut tergugat yang dicantumkan dalam gugatannya. Tergugat dan turut tergugat pertama sampai dengan sembilan semuanya masih memiliki hubungan keluarga dan termasuk ahli waris, hanya yayasan yang tidak termasuk dalam ahli waris.

Selama hidupnya, Abdul Rochim tidak pernah mewakafkan atau menjual tanah dan bangunan yang ada di jalan Diponegoro 8 Batu kepada siapapun hingga wafatnya 2 November 1986 lalu.

Tidak ada bukti yang menyebutkan Abdul Rochim pernah menjual dan mewakafkan tanah dan bangunan kepada yayasan untuk kepentingan pendidikan atau usaha lainnya. Termasuk TPQ tersebut.
Padahal TPQ Sa’adatud Daroini Al Bavana, termasuk salah satu TPQ unggulan di Kota Batu. Banyak prestasi yang pernah diraih para santrinya baik ditingkat lokal hingga nasional.

‘’Yang berhak menjual atau mewakafkan tanah itu hanya Abdul Rochim sebagai pemilik sah sertifikat hak milik no. 250. Tapi, sampai saat ini, tidak pernah ada bukti yang menyebutkan Abdul Rochim melakukan itu. Karena itu, ahli waris meminta harta peninggalan itu dibagi,’’ ungkapnya.

Semasa hidupnya, Abdul Rochim melaksanakan nikah hingga tiga kali. Perkawinan pertama dengan Lilik memiliki anak satu anak, Sifak. Perkawinan kedua dengan Zaenah memiliki 10 anak. Sedangkan, perkawinannya yang ketiga dengan Fatma memiliki empat orang anak kandung.

Semua istrinya telah meninggal dunia. Selain meninggalkan anak-anak kandung dan cucu sebagai ahli waris yang berhak, juga meninggalkan harta peninggalan (tirkah) sebidang tanah dan bangunan seluas 515 meter persegi tercatat dalam sertifikat hak milik No. 250.

‘’Klien kami pernah berusaha menyelesaikan pembagian waris secara kekeluargaan. Tapi tidak membuahkan hasil. Bahkan, pihak yayasan juga saling lempar dan informasinya juga yayasan itu melibatkan salah satu PTS di Malang,’’ ungkapnya.

Menurutnya, penguasaan obyek perkara itu merupakan perbuatan yang tidak sah, merugikan dan bertentangan dengan hukum. Sudah seharusnya obyek perkara itu dikosongkan dari segenap harta benda dan pengurus-pengurusnya.

Kliennya pun pernah menanyakan langsung kepada para pengurus yayasan, tapi hasilnya kurang memuaskan. Ada sebagian pengurus yang mengaku sudah tidak lagi terlibat dalam yayasan dan tidak mengetahuinya.

Begitu juga dengan sertifikat tanah itu, juga saling lempar. ‘’Karena itu, kami mengajukan gugatan ke PA Malang berdasarkan UU No. 3 tahun 2006,’’ tandas Alhaidary. (aim/avi) (Muhaimin/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Batu, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s