Pawik Tantang Refa ke PTUN

pawikKasak-kusuk dibalik pemecatan Dr Safaruddin Refa dari jabatan Ketua Staf Medis Fungsional (SMF) Mata, tidak berhenti begitu saja. Sebaliknya, Direksi RSSA Malang, justru mempersilakan Refa cs melakukan uji materi SK pemecatan ke PTUN jika direksi dianggap menyalahi prosedur.

Hal di atas diungkapkan dr Pawik Supriadi SPJ, Direktur Rumah Sakit Saiful Anwar kepada Malang Post diruangkerjanya, Rabu sore. ‘’Saya ingin menyelamatkan lembaga. Bagaimana pun RSSA ini milik Pemprov Jatim dan saya jadi direktur ditunjuk gubernur,’’ papar Pawik kalem.

Secara mendetail, mantan Direktur Keuangan RSSA ini, kemudian menceritakan ihwal pemecatan bersifat sementara, yang dilakukan manajemen atas Refa. Termasuk terbengkelainya pelayanan publik, yang dialami poli mata karena dokternya diajak rapat terbatas oleh Refa membahas surat pemecatan.

‘’Tahapan dan prosedur untuk memberhentikan dia (Refa) dari SMF sudah kita penuhi semua. Selain itu, Pemprov Jatim selaku pemilik saham RSSA sudah kita beritahu sebelumnya,’’ kata lelaki yang dikenal spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah ini.

Menurut Pawik, tenaga medis di poli mata sekarang ini dalam kondisi terpecah-pecah. Antara satu dokter dengan dokter lainnya, saling membentuk grup-grup sendiri. Satu grup pro ke Refa, satu grup lainnya pro manajemen RSSA. Ironisnya, grup yang pro Refa jumlahnya lebih banyak.

Sebagai direktur, lanjut dia, kondisi grup-grupan ini dinilai tidak menguntungkan sisi pelayanan. Bahkan, pelayanan ke publik antara satu dokter dengan dokter lainnya menjadi tidak sehat. ‘’Saya pemegang otoritas. Kalau kondisi ini saya biarkan, jelas lebih berbahaya,’’ kilah Pawik.

Sebagai contoh, Pawik lantas menyebut, kacaunya pelayanan dokter mata yang terjadi Senin lalu. Ketika itu, seluruh dokter mata diajak rapat oleh Refa untuk membahas SK pemecatan dirinya dari jabatan Ketua SMF. Rapat sengaja dilakukan pada saat jam sibuk bagi dokter untuk melayani masyarakat.

Ketika itu, papar Pawik, pasien di poli mata tercatat sekitar 165 orang. Seharusnya pelayanan medis di mulai pukul 08.00 WIB, tetapi rapat diluar kepentingan umum itu dilakukan hingga 09.30 WIB. ‘’Otomatis, pasien resah. Dokter-dokter seharusnya melayani pasien, malah rapat membahas hal-hal yang tidak semestinya,’’ ujarnya.

Dikatakan Pawik, Rabu kemarin, seluruh dokter yang menggelar rapat semuanya sudah diultimatum untuk tidak melakukan kesalahan serupa. Bahkan, jika mereka ngotot menganggap surat pemecatan untuk Refa dianggap tidak benar, disarankan mengajukan gugatan ke PTUN.

‘’Tadi pagi (kemarin, Red.) mereka saya panggil by name semuanya. Mereka tengah menggalang tanda tangan untuk menentang surat itu. Saya katakan ke mereka, silakan lakukan apa saja terkait surat tersebut. Tapi, jangan korbankan pelayanan umum. Masyarakat jangan dikorbankan karena satu golongan atau perseorangan,’’ tandasnya.

SK Pemecatan untuk Refa, sudah dilaporkan ke Gubernur Jatim dan dikonsultasikan ke Biro Hukum pemprov Jatim. Jika kondisi di poli mata dianggap sudah kondusif dan tidak terjadi grup-grupan, bisa saja Refa ditunjuk kembali sebagai Ketua SMF.

‘’Soal penunjukkan wadir sementara menggantikan Refa, karena SMF tidak menangani persoalan medis. Tetapi, persoalan teknik manajemen. Siapapun bisa di situ. Mau ahli jantung atau ahli penyakit dalam, tidak masalah,’’ ujarnya Pawik meyakinkan. (has/avi) (harry santoso/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s