Sekolah Dibangun, Siswa Belajar di Kelas Darurat

Sri Tuyatmi Guru Kelas 1 dan 2 SDN Ringin Kembar II Kecamatan Sumbermanjing Wetan mengajar muridnya di kelas tenda beratap terpal plastik, kemarin. (BAGUS ARY WICAKSONO/MALANG POST)

Sri Tuyatmi Guru Kelas 1 dan 2 SDN Ringin Kembar II Kecamatan Sumbermanjing Wetan mengajar muridnya di kelas tenda beratap terpal plastik, kemarin. (BAGUS ARY WICAKSONO/MALANG POST)


Biasanya, baik buruknya cuaca amat berpengaruh terhadap aktifitas para nelayan atau para pencari nafkah. Namun, ternyata ratusan siswa-siswi SDN Ringin Kembar II Kecamatan Sumbermanjing Wetan justru harus bersahabat dengan cuaca. Praktis, sejak sekolah mereka dibangun, sekitar 132 siswa terpaksa belajar di Sekolah darurat beratap dan berdinding terpal plastik.

Sekolah Dasar tersebut lokasinya cukup jauh dari Kota Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Malah bisa dikatakan terpencil karena dikelilingi oleh tanaman perkebunan. Ringin Kembar merupakan desa yang berlokasi di areal Perkebunan Pancursari PTPN XII dengan tanaman karet, kopi, jarak dan cengkeh.
Untuk menuju ke lokasi SD, harus rela menempuh medan jalan berkelok-kelok puluhan kilometer. Yang lebih memprihatinkan, satu-satunya akses ke lokasi itu, didominasi jalan makadam dari batu-batu kapur.

Walhasil, musim hujan ini dipastikan para siswa juga harus rela berlumpur-lumpur menuju sekolah mereka karena berjalan kaki dengan jarak cukup jauh. Asal tahu saja, kebanyakan siswa berasal dari Desa Talangsari yang berjarak sekitar 3-5 km jauh menembus perkebunan Karet dan Jarak. Sampai di Sekolah Darurat mereka harus berdoa hujan tidak disertai hembusan angin yang kuat.

“Kalau hujan turunnya biasa, tak lalu mengganggu, tapi kalau disertai angin, ya pasti ada air yang masuk,” aku Pamuji guru yang memegang Kelas VI kepada Malang Post.

Keterangan Pamuji cukup masuk akal. Secara kasat mata kondisi sekolah darurat Sekolah Dasar Negeri itu terlalu memprihatinkan. Siswa kelas 1 sampai dengan kelas 4 belajar di tenda sederhana yang dibangun di pojok perempatan desa setempat. Tenda tersebut sebagian beratap terpal plastik serta seng. Sedangkan sekelilingnya ditutupi spanduk dan triplek-triplek rapuh berfungsi sebagai tembok.
“Ini sudah sekitar sepuluh hari, sejak tanggal 10 November lalu, karena gedung SD tengah dibangun dengan DAK (Dana Alokasi Khusus). Jadwalnya harus selesai 10 Desember nanti,” imbuh Pamuji didampingi Slamet Yusmo Wali Kelas 4.

Selain terganggu cuaca, konsentrasi belajar siswa juga terganggu arus lalu lintas. Meski terpencil, tak jarang truk-truk pengangkut tebu lewat di jalan makadam yang hanya berjarak 2 meter dari sekolah darurat. Sementara tidak adanya sekat di kelas 1 – 4 membuat pelajaran di lain kelas terdengar satu sama lain.

“Kalau kelas lima dan enam belajar di teras rumah Pak Marimin anggota komite sekolah, harapan kami hujan tidak turun terlalu lebat,” pungkas Pamuji dengan nada memelas.(bagus ary wicaksono/abdul halim)
(Ary Wicaksono/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kabupaten Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s