Terdampak Resesi, PTPN XII Pending Ekspor Tiga Komoditi

Para buruh harian Kebun Pancursari PTPN XII saat pulang usai bekerja membersihkan hutan Sengon milik PTPN XII kemarin. (Bagus Ary Wicaksono/Malang Post)

Para buruh harian Kebun Pancursari PTPN XII saat pulang usai bekerja membersihkan hutan Sengon milik PTPN XII kemarin. (Bagus Ary Wicaksono/Malang Post)

Kinerja kebun Pancursari milik PTPN XII di wilayah Kecamatan Sumbermanjing Wetan (Sumawe) mulai terdampak krisis global. Tiga komoditas ekspor andalan Kebun Pancursari yakni cengkeh, kayu sengon dan karet terpaksa ditunda pengirimannya. Hal itu terjadi karena, harga jual komiditi tersebut melorot jauh dibawah harga lama.

Manager Kebun Pancursari PTPN XII Anis Febriantomo mengatakan ekspor bulan Desember hingga tahun 2009 mendatang masih belum jelas. Menurut Anis, krisis Global membuat perusahaan penerima komoditi ekspor enggan melakukan pembelian. Ambil contoh komiditi Cengkeh, awal Februari lalu Kebun Pancursari berhasil mengekpor 150 ton Cengkeh seharga Rp 50 Ribu per kg.

“Kita mengalami loss, dari 150 ton yang berhasil kita jual, kini masih tersisa 6 ton, harga menurun sehingga cengkeh itu kita simpan,” ujar Anis ditemui Malang Post usai menyambut kunjungan Wabub Rendra Kresna di Kebun Pancursari, kemarin.

Sesuai harga lama, enam ton Cengkeh Kebun pancursari bisa laku hingga Rp 300 Juta. Namun saat harga melorot, komoditi Cengkeh tersebut hanya bisa dijual seharga Rp 90 Juta. Sehingga, keuntungan yang hilang ketika transaksi dilakukan mencapai Rp 210 Juta.

“Kita menunggu situasi membaik, barang itu tak mungkin busuk karena sistem penyimpanan kita cukup baik. Yang jelas hingga 2009 mendatang ekspor masih tanda tanya,” imbuh Anis.

Selain Cengkeh, komiditi Sengon untuk ekpor ke Jepang dan Belanda juga dipending. Menurut Anis, setiap tahun, Kebun Pancursari mampu memproduksi 5000 kubik Kayu Sengon. Untuk Sengon RST, harga jual pada kondisi normal sekitar Rp 750 Ribu per kubik.

“Kita distribusikan kayu itu ke perusahaan yang kemudian di ekspor ke Jepang dan Belanda, sementara ini tidak ada yang mampu membeli,” kata Anis.

Selain itu, krisis Global juga berdampak terhadap penjualan karet yang semula seharga 3 dolar US menjadi 1,2 dolar. Karet tipe RSS 1 (karet sheet) tersebut sedianya dipasarkan ke Eropa. Sehingga Kebun Pancursari masih menunggu perkembangan perekonomian serta indek dolar terhadap rupiah.(ary/eno)
(Ary Wicaksono/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kabupaten Malang, Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s