Mengukir Eksotisme dan Potensi Alam Malang Selatan

pulau
Usia Kabupaten Malang memang lebih tua dari umur Republik tercinta. Namun hingga Hari Jadi Kabupaten Malang ke-1248, sebagian besar eksotisme dan potensi Malang Selatan masih tersimpan dengan rapi. Mewujudkan ‘Kota Baru’ di sisi Selatan Malang memang butuh waktu. Secara perlahan dan terarah, Pemkab Malang mulai mengukir Mutiara dari Selatan itu.

Secara geografis, Kabupaten Malang memiliki panjang pantai ± 57 km dan memiliki potensi hutan mangrove ± 8.736 ha serta tambak seluas ± 8.000 ha. Pantai yang membentang di perairan selatan itu menyimpan sejuta eksotisme wisata yang tak terbantahkan. Keelokan pantai wisata Balekambang dan Ngliyep hanya sebagian kecil bukti nyata surga di selatan Malang.

Diluar dua objek wisata tersebut, sepanjang pesisir selatan masih menyimpan deretan pantai apik nan rupawan yang belum dikelola. Akses jalan masih menjadi kendala utama bagi ‘orang luar’ untuk menikmati kemolekan Malang Selatan. Meski demikian, Pemkab Malang tak hanya diam, perlahan mulai memoles alam yang berpotensi menjadi Pulau Bali ke dua.

Gerbang menuju ‘Kota Baru’ telah terbuka lewat pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) yang menggaris mengikuti lekuk pantai selatan. Jalur itu menjadi simpul utama pengembangan eksotisme wisata dan potensi kekayaan alam Malang Selatan.

Berdasarkan data dari Dinas Binamarga Pemkab Malang, proyek JLS tahap I sepanjang 123 kilometer terbentang mulai Desa Mentaraman Kecamatan Donomulyo hingga Dusun Sendang Biru Kecamatan Sumbermanjing Wetan.

Sejak tahun 2002, Pemkab Malang telah membebaskan lahan sepanjang 63 kilometer, terdiri dari 22 kilometer milik masyarakat dan 41 kilometer milik Perhutani. Proses pembebasan tanah hingga tahun 2007 telah menyedot anggaran daerah sebesar Rp 11.878.084.300.

‘’Saat ini, sisa tanah yang belum dibebaskan sepanjang 61 kilometer, baik itu milik masyarakat maupun Perhutani. Sedanghkan dari 63 kilometer lahan JLS yang telah bebas, hanya sepanjang 13 kilometer belum dibuka atau dikerjakan,’’ kata Kepala Dinas Binamarga, Ir Mochammad Awar kepada Malang Post.

Artinya, saat ini masyarakat Malang Selatan sudah bisa menikmati JLS yang hanya berjarak sekitar 1 mil dari bibir pantai mulai dari Donomulyo hingga teluk Sendangbiru yang hijau. Sedikit ilustrasi, eksotisme alam yang luar biasa tersebut makin kentara setelah Jembatan Bajulmati dibangun oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Jembatan berbentuk setengah lingkaran itu, menghubungkan obyek wisata Pantai Bajulmati serta teluk Gua Cina yang memiliki perairan kehijau-hijauan.

Bergeser ke ujung timur sekitar 3 mil, dengan cukup mudah kawasan perairan nelayan Sendangbiru telah terjangkau. Kawasan itu masih menjadi sentra utama kekayaan laut selatan disamping potensi alam cagar alam Pulau Sempu.

Sesuai RTRW (Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah) Kabupaten Malang, Sendangbiru memang bakal dikembangkan sebagai Perkotaan Pelabuhan.

Hasil sementara, saat ini sudah terbangun Tempat Pelelangan Ikan (TPI) terbesar di Jawa Timur bagian selatan. Produksi ikan TPI Pondok Dadap Sendangbiru pada tahun 2006 mencapai 6.548 ton, 5.999 ton tahun 2007 dan 2.532 ton per Agustus tahun 2008.

Untuk merealisasikan project tersebut, Pemkab Malang membagi 33 kecamatan dalam enam SSWP (Sub Satuan Wilayah Pengembang). Antara lain SSWP Lingkar Kota (9 Kecamatan), SSWP Kepanjen (9 Kecamatan), SSWP Dampit (5 Kecamatan), SSWP Tumpang (4 Kecamatan), SSWP Ngantang (Tiga Kecamatan). Dan SSWP Sendangbiru sebagai pusat sub wilayah di tiga Kecamatan yakni Sumbermanjing Wetan, Gedangan dan Bantur.

Sementara itu, geliat investasi mulai berdatangan, baru-baru ini investor dari Bali yakni PT Bali Tuna Segar (BTS), siap menanam modal di Sendangbiru mencapai Rp 1,7 Miliar.

PT BTS bakal membangun cold storage demi melihat potensi ikan kawasan itu yang didominasi oleh Ikan Tuna. Investasi itu juga diikuti oleh PT Reka Massa yang telah survei lapangan dua kali.

Investor dari pulau dewata itu berencana membuat wisata off road sepanjang sekitar 20 km, mulai dari Pantai Sendangbiru hingga kawasan pantai di Ampelgading.

Disisi lain Pemkab Malang guna memperkenalkan potensi wisata dan alam, telah mengadakan Kanjuruhan Sabhawana Adventure Trail (KASATA). Ekspedisi motorkross tahunan itu selalu digelar pada Hari Jadi Kabupaten Malang dengan medan menantang yang berganti-ganti. KASATA diikuti ratusan off roader dari dalam dan luar negeri dengan konsep adveture, wisata dan budaya. (Bagus Ary Wicaksono/adv) (bagus ary/malangpost)

Iklan

2 Komentar

Filed under Kabupaten Malang, Pariwisata

2 responses to “Mengukir Eksotisme dan Potensi Alam Malang Selatan

  1. Bekti Sukoco

    Maju terus Kab Malang

  2. intan

    untuk pembebasan lahan sangat murah .
    rumah orangtua saya dpt ganti rugi 14.000 per METER?
    sangat mahal bagi orang desa spt ortu kami waktu itu :-(
    tapi yg jelas masih ngeganjel dlm hati saya sampai saat ini? benarkah semurah itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s