Greenfield Impor 360 Sapi

PT Greenfield Indonesia di Desa Ngajum Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang akan mendatangkan 360 ekor sapi asal Australia. Hal itu dilakukan akibat makin merosotnya produksi susu sapi segar di perusahaan tersebut. Investasi senilai kurang Rp 1,08 Miliar ini diharapkan bisa menghasilkan 9.000 liter susu segar per hari.

“Kalau mengandalkan susu dari suplai peternak, tidak bisa memenuhi target. ,” kata Kepala Dinas Peternakan Jawa Timur drh Sigit Hanggono kepada Malang Post kemarin siang.

Menurut Sigit, sapi Australia yang didatangkan ini akan mendarat di Juanda 16 Desember mendatang. Pengangkutan dengan pesawat ini dilakukan karena harga satuan per ekornya sapi jenis frezeen hosten tergolong cukup mahal.

“Departemen perdagangan dan industri sudah menyetujui, impor sapi ini. Malah, pemerintah pusat sangat mendukung upaya Greenfield melakukan investasi di saat perkonomian sedang sulit,” paparnya dengan menyebut susu sapi murni sekarang ini seperti emas putih.

Kebutuhan susu segar untuk pabrik susu di lereng Gunung Kawi ini diprediksi mencapai 70 ton/hari. Dari kebutuhan itu, mayoritas dipasok koperasi dan sisanya dipasok langsung dari petani binaan Greenfield . “Karena peluang impor cukup besar, maka kami pilih beli sapi sendiri,” kata Darmanto Setiawan, Manager Processing Greenfield yang dihubungi melalui ponselnya, kemarin siang.

Greenfield sendiri selama ini memproduksi produk olahan susu di dua pabrik, yaitu di Greenfield dan PT Sekar Tanjung, Purwosari. Kapasitas produksi kedua pabrik ini mencapai kurang lebih 110 ton/hari. Produk itu dilempar dipasaran dalam negeri dan ekspor.

“Produk kami sendiri, di pabrik Greenfield dialokasikan untuk ekspor. Sedang yang diproduksi melalui pabrik Sekar Tanjung dijual untuk pasaran dalam negeri,” ucap Darmanto dengan menyebutkan, rencana total impor sapi mencapai 700 ekor.

Sementara itu, H Kusnan, pengurus Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jatim menyebutkan, produk susu di Jatim sekarang ini baru mencapai 500 ton per hari atau baru separoh dari kebutuhan yang mencapai 1.000 ton perhari.

Produksi 500 ton itu jika diserap PT Nestle pasuruan saja masih belum cukup. “Per hari Nestle butuh 1.000 ton sekarang baru terpenuhi 500 ton. Itu pun di dapat Nestle dengan berbagai cara. Karena kapasitas produksi susu total di Jatim hanya 500 ton,” papar Kusnan, yang juga pimpinan KUD Nongkojajar ini.(has/eno)
(hary Santoso/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kabupaten Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s