Dua Siswi yang Mengeroyok Temannya Ditahan, Malah Cengengesan

Dua anggota geng siswi yang menjadi tersangka pengeroyokan terhadap Dian Mujianti, 18, siswi kelas III SMA Cokroaminoto, ditahan. Penahanan terhadap Ervina Wulandari atau Vina, 19, dan Lia Kurniawati, 18, -keduanya juga siswi SMA Cokroaminoto- dilakukan menyusul tuntasnya berkas pemeriksaan mereka siang kemarin. Usai gelar perkara kali kedua, Vina dan Lia digiring masuk ke ruang tahanan Polresta Malang.

Kanit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Ipda Jayanti Harahap mengatakan, keputusan penahanan terhadap Vina sebenarnya sudah ada sejak Jumat (28/11) malam. Namun, surat perintah penahanan dari Kasat Reskrim AKP Kusworo Wibowo baru ditandatangani siang kemarin. Sedangkan Lia -yang baru datang ke polresta kemarin- ditahan usai pemeriksaan.

Latar belakang penahanan adalah kedua tersangka sudah berusia dewasa, yakni minimal 18 tahun. Keduanya dijerat pasal sama, yakni pasal 170 KUHP tentang pengeroyokan. “Dengan ditahannya para tersangka, tugas polisi untuk mengusut kasus kekerasan di kalangan pelajar ini tuntas,” ujar Jayanti.

Menurut Jayanti, tersangka Lia datang menyerahkan diri ke polresta pagi sekitar pukul 09.00 dengan diantarkan pihak sekolah dan orang tuanya. Lia mengaku memukul Dian dua kali di bagian pipi. Dia marah lantaran tiga temannya -Ayu, Efrilia, Vina- dituduh pelacur abu-abu.

Lia mengatakan Dian membuat banderol booking tiga temannya. Ayu dibanderol sekali kencan Rp 225 ribu, Efrilia Rp 400 ribu, Vina Rp 500 ribu. Dian sendiri juga memasang banderol lebih tinggi untuk sekali kencan, yakni Rp 1,250 juta. “Apa dia (Lia, Red) ngrasa kecantikan hingga memasang banderol lebih mahal,” ucapnya ketus.

Saat digelandang dari ruang pemeriksaan menuju ruang tahanan yang berjarak sekitar 150 meter, Vina dan Lia kerap mengumpat dan cengengesan sambil menutupi raut wajah dengan kedua tangannya. “Aku bukan selebriti, kok difoto terus-terusan,” teriak Vina dan Lia berkali-kali ketika disorot kamera wartawan.

Aura penyesalan tidak terlihat dari raut wajah mereka. Dalam perjalanan sambil digelandang petugas, mereka sering melontarkan ucapan bahwa keduanya menjadi korban fitnah dan adu domba Dian.

Masuknya dua pesakitan siswi SMA tersebut menyita perhatian banyak orang yang saat itu melihat perjalanan mereka ke ruang tahanan. Bukan hanya polisi, masyarakat umum yang hendak membesuk tahanan juga terheran-heran melihat kedua tersangka. ”Emane, ayu-ayu dadi preman,” celetuk salah seorang pengunjung yang berusaha melihat dari dekat wajah kedua tersangka.

Perhatian para penghuni tahanan juga tersita. Saat menyaksikan kedatangan kedua tersangka remaja ini, banyak penghuni tahanan yang melongok ke luar sel. “Wih ayune, rek,” celetuk mereka.

Pemandangan berbeda terlihat di belakang iring-iringan kedua tersangka. Mimik -ibu Lia- menangis dan tak kuasa melihat anak nomor duanya disel. Langkahnya gontai, dipapah saudara-saudaranya yang ikut menemaninya ke polresta. Niat Mimik untuk mengikuti Lia masuk ke ruang tahanan berusaha dicegah saudaranya. Namun, Mimik berupaya tetap tegar dan mengikutinya hingga sampai di parkiran belakang.

“Saya sudah tidak habis-habisnya mendidik dia (Lia, Red). Tapi kenapa dia kok seperti ini. Apalagi berbuat tindak pidana,” keluh ibu empat anak ini di sela-sela perjalanan menuju ruang tahanan. Wanita berusia 40 tahunan itu tak lagi kuat berjalan dan memilih istirahat di bangku belakang ruang telematika (sisi selatan ruang tahanan).

Soal kasih sayang, Mimik mengatakan cukup. Di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai penjual jasa tenaga kerja dan suaminya sebagai sopir panggilan, mereka berusaha menyisakan waktu untuk memperhatikan anak-anaknya. Termasuk Lia. Untuk kebutuhan ekonomi, dia mengaku cukup. “Ya cukup untuk biaya sekolah Lia dan saudaranya. Juga cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari,” tuturnya.

Mimik ingin mengupayakan penangguhan penahanan terhadap anak kesayangannya itu. “Sesalah apa pun, Lia anak saya. Saya tetap menyayanginya dan memaafkan kesalahannya,” ujar Mimik, yang tak kuasa membendung linang air matanya.

Sementara, latar belakang Vina hingga kemarin masih misterius. Wanita berambut lurus sepinggang itu belum diketahui kejelasan latar belakang keluarganya. Sampai kemarin, dia belum dikunjungi anggota keluarganya. Kepada polisi, Vina mengaku kelahiran Kalimantan, orang tua tiri ada di Singosari, namun sudah tidak lagi memedulikan nasibnya.

Seperti diketahui, Dian Mujianti melaporkan pengeroyokan delapan temannya sesama siswi SMA Cokroaminoto. Pengeroyokan itu terjadi Rabu (26/11) siang di luar sekolah. Saat itu Dian disekap di kamar kos oleh Vina. Selain diintimidasi, pelajar asal Buduran, Sidoarjo, itu dianiaya secara bergantian. Kakinya disundut rokok dan rambutnya nyaris digunduli jika tidak berhasil melarikan diri dari kepungan pelaku. Dalam pemeriksaan, dari delapan pelaku, polisi menetapkan Vina dan Lia sebagai tersangka. (mas/yn/radarmalang)

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s