Elpiji 3 kg Sulit Didapat, Terkendala Antre di SPBE

Sejumlah pangkalan elpiji 3 kg mengeluhkan lambatnya pengiriman dari agen. Hal ini menyebabkan beberapa pangkalan menumpuk begitu saja tabung kosong di tokonya. Seperti dialami Pangkalan Gas Bu Karti di Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Sejak beberapa minggu ini pengiriman untuk pengisian tabung tidak selancar sebelumnya.

“Alasannya katanya antre di Pertamina. Kalau seperti ini kami bisa rugi, karena pelanggan tidak bisa dilayani dengan baik,” ungkap pemilik pangkalan, Sukarti. Biasanya, kata Sukarti, pihak agen rutin mengirimkan isi ulang tabung ke tempatnya. Ia berharap kondisi ini tidak berlangsung lama, karena bisa berpengaruh pada kelancaran usahanya.

Saat dikonfirmasi mengenai keluhan pangkalan ini, Wira Penjualan Minyak dan Gas Pertamina Kota Malang, Usman Lekki mengakui beberapa hari terakhir antrean di tiga stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) cukup panjang.

Ini merupakan dampak dari kosongnya stok gas elpiji yang terjadi pada 26 November lalu. “Sebenarnya tidak ada masalah pada stok elpiji, stok tetap aman. Tapi ada beberapa faktor yang menyebabkan keterlambatan elpiji 3 kg sampai ke tangan konsumen,” ungkap Usman.

Faktor penyebab keterlambatan ini menurutnya sangat komplek. Seperti kedatangan agen ke SPBE yang bersamaan sehingga antrian pun tejadi. Namun sebenarnya tidak ada kendala di lapangan selama stok yang ada tetap terpenuhi. Hanya waktu pengiriman ke pangkalan lebih lambat dari jadwal sebelumnya.
Ditegaskannya, pihaknya pun kini mengintensifkan jalur Malang Surabaya untuk pengisian di tiga SPBE yaitu di Pakisaji, Karangploso dan juga Pertamina Halmahera. Dan memenuhi ketersediaan stok mencapai 200-210 ton per hari.

“Untuk membuat kondisi normal lagi memang butuh waktu, akan tetapi kami berjanji untuk tetap menyediakan supplay dengan baik dan terus meningkatkan pelayanan,” ungkapnya. (oci/eno) (rosida/malangpost)

Iklan

1 Komentar

Filed under Batu

One response to “Elpiji 3 kg Sulit Didapat, Terkendala Antre di SPBE

  1. Banyak sekali permasalahan yang terjadi pada konversi LPG 3 KG, mulai dari persiapan proyek konversi hingga pasca proyek tersebut.
    1. Berapa kerugian negara dikarenakan tidak adanya verifikasi, distribusi & edukasi door to door dalam proyek konversi ?, Padahal ada anggarannya, kemana uang tersebut lari ?
    2. Berapa kerugian yang ditanggung oleh masyarakat dikarenakan Point pertama ?
    3.Siapa saja yang diuntungkan ? Banyak oknum yang mengail keuntungan dalam proyek ini, pernahkah anda mendengar atau bahkan mengetahui dari media beberapa oknum di bawah ini ?
    a. Wartawan, kami pernah mendapat laporan bahkan pengakuan langsung dari Pimpinan Proyek (Pimpro) konversi mitan ke lpg di salah satu kota, bahwa ia harus “nyangoni” beberapa wartawan agar tidak lagi mengungkap kesalahan2 dalam proyek tsb.
    b. Pemkot/Pemda, yang biasa kami ketahui, bahwa ada perwakilan dari pemkot/pemda didalam maupun diluar manajemen proyek. Hal itu diperlukan demi kelancaran proyek di daerah tersebut… yang pasti ada udang di balik batu… percaya atau tidak, itu memang ada (biasanya, perwakilan/tangan kanan pemkot/pemda adalah orang yang kuat-dipercaya-dan disegani oleh aparat dibawahnya, yaitu kepala kecamatan dan kepala kelurahan).
    c. DPRD, dengan mencari kesalahan2, yang kemudian dipublikasikan dengan begitu otomatis manajemen proyek di“sidang”. Coba lihat beberapa hari/bulan kemudian, tidak akan dipermasalahkan lagi. Kok bisa begitu ?
    d. Manajemen Proyek, manajemen proyek adalah sebuah perusahaan pemenang tender. Mereka kemudian melakukan pekerjaan tidak sesuai standard kesepakatan awal. Ada juga yang sengaja me”nyunat” honor dari pelaksana lapangan.
    e. Koordinator lapangan, yaitu yang memimpin di tiap kecamatan (tidak semua perusahaan pemenang tender menggunakan kata yang sama). Ada korlap yang sengaja me”nyunat” honor surveyor (bawahannya) sebagai syarat utama di terima sebagai surveyor. Ada juga yang sengaja menggelapkan barang/paket LPG (itu sangat mudah sekali bagi mereka dengan cara menggandakan KSK untuk usaha mikro palsu dan memalsu surat keterangan mikro dari RT/RW/kelurahan)
    f. Surveyor, adalah orang terakhir yang akan berhadapan langsung dengan masyarakat. Ada surveyor yang sengaja mengurangi standard pekerjaan, ada pula yang menggelapkan barang.
    g. Pihak2 tertentu (bisa dari masyarakat/petugas lapangan) berlomba mencari barang/paket LPG dari masyarakat yang tidak tahu cara memasangnya (dikarenakan tidak ada edukasi door to door) atau dari orang yang trauma menggunakan LPG (dari pengalaman sendiri maupun orang lain/dari media)
    SAYANGNYA HAL ITU TIDAK PERNAH MUNCUL DALAM MEDIA
    4.Pertamina belum siap (terbukti di beberapa media massa).
    5.Pemerintah terlalu memaksa (dengan mempercepat program konversi, tanpa ada koreksi di beberapa kota yang telah terkonversi).
    Untuk mengetahui lebih dalam apa yang sebenarnya terjadi, silahkan masuk :
    http://www.konversimitan.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s