Mengulang Kasus ‘Geng Nero’

Kasus penganiayaan oleh geng siswi SMA Cokroaminoto, Rabu lalu, bukan kali pertama terjadi. Agustus lalu, kasus serupa terjadi di Kota Malang. Ketika itu, pelaku dan korban sama-sama berasal dari SMA Salahudin.

Bedanya, jika kasus penganiayaan ala siswi SMA Cokroaminoto polisi langsung bertindak tegas dengan menangkap dan menahan dua pelakunya, sedangkan kasus penganiayaan yang terjadi di areal SMA Salahudin, Jumat (8/8) lalu, hingga saat ini terkesan jalan ditempat.

Meskipun menurut Kanit PPA Polresta Malang Ipda Jayanti, berkas kasus penganiayaan dengan terlapor Ika Widya Safitri, 17 tahun, itu sudah dilimpahkan ke Kejaksaan. ‘’Sudah. Kasusnya sudah kami limpahkan. Sudah lama itu,’’ kata Jayanti yang kemarin dihubungi Malang Post via telepon.

Jayanti membenarkan jika pihaknya memberikan perlakuan yang berbeda, meski kasusnya hampir sama. Yaitu kasus di SMA Salahuddin, polisi memilih untuk menerapkan prinsip diversi, dengan acuan UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Tak heran kalau tersangka tidak sampai dilakukan penahanan. Sedangkan untuk kasus SMA Cokroaminoto, kitab undang-undang yang digunakan adalah KUHP.

‘’Perbedaannya adalah usia. Jika Ika Widya Safitri, siswa yang dilaporkan oleh korbannya Arily Safitri, Agustus lalu, usianya tergolong anak-anak menurut UU no 23 tahun 2003, sedangkan dua siswa yang kami tahan berasal dari SMA Cokroaminoto ini usianya, lebih dari 18 tahun. Jadi meski sama-sama pelajar, tapi ada perlakuan khusus,’’ jelas Jayanti yang kemarin mengaku baru selesai mengikuti ujian skripsi untuk menyelesaikan pendidikan S1 nya.

Karena itulah, proses hukumnya juga jelas berbeda. Jika terlapornya masih anak-anak, pemeriksaan dilakukan tertutup, sedangkan terlapor usianya dewasa, bisa dilakukan terbuka.

Seperti pernah diberitakan Malang Post, Ika Widya Safitri tersandung masalah, setelah dia melakukan penganiayaan kepada Arily Safitri, warga Jalan Selorejo, Malang. Bahkan kasus penganiayaan itu terjadi hingga dua kali. Pertama dilakukan di dalam kelas Arily, dan kedua terjadi di halaman masjid SMA Salahudin.

Kasus ini semakin heboh, dengan beredarnya video perkelahian, yang nyaris mirip dengan aksi ‘geng nero’ Pati, Jateng. Video berdurasi 1 menit 40 detik tersebut diakui oleh Arily kala itu adalah rekan-rekan Widya, yaitu Ria, Lia, Anis, dan Ika, yang melakukan perkelahian dengan siswi SMAN 10.

Para anggota ‘geng nero’ ini tanpa takut mendatangi SMAN 10, untuk melabrak. Namun kenyataannya, lain saat dilabrak, Vian Cs yang menjadi sumber permasalahan malah melawan, sehingga terjadi perkelahian.

Namun begitu, beredarnya video tersebut tidak disentuh pihak kepolisian. Bahkan petugas menegaskan, jika kasus perkelahian itu sama sekali tidak berhubungan dengan kasus penganiayaan yang menimpa Arily Safitri, yang notabene hanya dilakukan oleh Ika Widya Safitri seorang diri.

‘’Ini merupakan kali pertamanya Lia Kurniawati berurusan dengan hukum. Kalaupun dulunya dia merupakan teman dari Ika Widya Safitri, tidak masalah. Toh yang dilaporkan saat itu hanya Ika,’’ tandas Jayanti.

Namun Lia juga termasuk salah satu dari enam orang siswa SMA Salahuddin yang dikembalikan ke orang tuanya, setelah tersandung kasus tersebut. Siapa menduga, di sekolah yang baru, Lia kembali tersandung kasus yang sama. (ira/avi) (ira ravika/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s