Siswa SMK Ancam Mogok Belajar

(muflikh/mp)

(muflikh/mp)


Ratusan pelajar SMK Yayasan Pendidikan Teknologi Turen (YPTT), pagi kemarin kembali melakukan unjuk rasa di halaman sekolahannya di Jalan Panglima Sudirman Turen. Aksi demo kali kedua ini, buntut kekecewaan siswa yang merasa tuntutannya dalam aksi demo pertamanya, Rabu (26/11) lalu, tak ditanggapi dan dikabulkan oleh lembaga dan pengurus YPTT.

Dalam aksinya yang kedua kemarin, sama sekali tak jauh beda dengan aksinya yang pertama. Ratusan pelajar dari kelas X, XI dan XII ini, memulai demo dari lapangan Talok-Turen sampai ke halaman sekolahannya dengan jalan kaki.

Sepanjang perjalanan sekitar 1 kilometer itu, mereka meneriakkan tuntutannya dengan membentangkan kertas dan kain spanduk, bertuliskan kecaman dan tuntutan. Tak ayal arus kendaraan dari dua arah itu langsung macet meski sementara.

Isi tuntutan tersebut diantaranya, meminta polisi untuk bersikap tegas dengan memberantas preman di sekolahnya, bukan hanya preman jalanan saja yang digaruk. Meminta guru-guru lama yang diberhentikan ditarik lagi. Serta meminta Kepala Sekolah SMK YPTT, dan beberapa guru diberhentikan.

‘’Kami akan terus melakukan unjuk rasa dan mogok belajar seperti ini jika sampai tuntutan kami tidak dikabulkan. Kami hanya ingin guru-guru yang bersikap profesional di sekolah, bukan guru yang hanya bisa sewa preman,’’ ungkap Adha Yuli, perwakilan pelajar SMK YPTT kepada Malang Post, disela-sela aksinya.

Dikatakan Adha, kalau sampai tuntutannya tidak dipenuhi pihak lembaga atau pengurus YPTT, semua siswa berjanji siap perang dengan para preman yang dibayar dengan uang siswa.

‘’Kami ini hanya butuh ketenangan belajar di sekolah, bukannya ketakutan karena adanya para preman,’’ jelas Adha, yang langsung disambut aplaus ratusan siswa.

Pantauan Malang Post, tanda-tanda adanya unjuk rasa susulan siswa SMK YPTT ke sekolahannya itu, sudah sejak pagi pukul 06.30 WIB. Yaitu dengan disiagakannya puluhan satpam YPTT dan puluhan polisi dari Polres Malang dan Polsek Turen, di pintu pagar masuk halaman sekolah.

Begitu ratusan siswa SMK YPTT datang dari arah Selatan sekitar pukul 09.00 WIB, satpam sekolah ini langsung membuat pagar betis agar siswa tidak sampai masuk ke halaman sekolah.

Namun, karena banyaknya siswa yang merangsek masuk, akhirnya satpam kewalahan dan semua siswa berhasil masuk ke halaman sekolah.

Disaat perwakilan siswa berorasi, para guru, satpam dan Kepsek M Afandi, hanya melihat di depan ruang guru. Bahkan, ketika siswa berteriak menuntut Afandi turun dari jabatan sekolah, Afandi hanya tersenyum saja.

‘’Sampai kapan kami dibohongi tikus-tikus sekolah yang memakan uang kami (siswa),’’ teriak Karyanto, salah satu perwakilan siswa lain, yang langsung disambut dengan aplaus siswa lainnya.

Yang menarik lagi, ketika wartawan dari media elektronik (TV) ingin memintai tanggapan Kepsek Afandi, terkait tuntutan siswa, para siswa langsung berteriak agar wartawan tidak meminta keterangan Afandi. Karena teriakan itu, Afandi batal memberikan keterangan.

Tapi selama aksi berlangsung, siswa juga sempat membagikan bunga kepada para guru, termasuk kepada Afandi. Mereka juga membuat puisi.

‘’Kami bagai bunga yang berusaha mekar untuk bangsa tercinta supaya harum semerbak di bumi tercinta.Kami bagaikan sekuntum bunga harumnya semerbak di tangan pemegang, meluas di masyarakat Turen dan menjadi harapan bagi bangsa tercinta Indonesia Raya,’’ bunyi puisi tersebut.

Sementara itu, Afandi saat dikonfirmasi menegaskan kalau di balik aksi unjuk rasa yang dilakukan semua siswa itu, ada yang menunggangi atau mengkoordinir. Namun, siapa orangnya tersebut, Afandi, hanya menduga saja.

‘’Jika memang unjuk rasa dan tuntutan itu semuanya murni dari aspirasi para siswa, pasti akan kami usahakan untuk dikabulkan. Namun, jika ada yang menunggangi atau mengkoordinir, kami tidak akan mengabulkannya,’’ tutur M Afandi.

Terpisah, Ketua YPTT Tarsisius Soetoro, saat dikonfirmasi tentang tuntutan siswa, malah angkat tangan. Ia menyerahkan permasalahan dengan siswa itu kepada lembaga sekolah.

‘’Untuk masalah tuntutan siswa itu kami serahkan sepenuhnya pada lembaga sekolah. Sebab, yang bermasalah adalah lembaga bukan yayasan. Sedangkan dari kami selaku pengurus YPTT, tidak akan mengangkat lagi guru lama dan memberhentikan guru baru, termasuk Pak Afandi,’’ tandas Tarsisius Soetoro. (agp/avi) (agung priyo/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Kabupaten Malang, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s