Lima SPBU Disanksi

Pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Malang Raya, tampaknya patut diacungi jempol. Mereka sudah menjalankan instruksi pemerintah untuk menurunkan harga premium dari Rp 6.000/liter menjadi Rp 5.500/liter.

Bukan itu saja, seluruh SPBU juga sudah melakukan tebusan DO (delivery order), sehingga tidak sampai terkena sanksi menghentikan kiriman hingga 14 hari ke depan.

’’Sampai sore ini (kemarin sore, Red.), tidak ada permintaan penyetopan suplai BBM, khususnya premium karena nakalnya pengelola SPBU. Jadi Malang Raya aman-aman saja,’’ Ujar Eviyanti Rofraida, Kahumas UPMS V Surabaya, kepada Malang Post, kemarin.

Kondisi bertolak belakang terjadi di Surabaya dan Mojokerto. Sedikitnya lima SPBU, bakal dihentikan pasokannya hingga 14 hari ke depan. Penghentian ini dilakukan Pertamian UPMS V Surabaya karena pengelola lima SPBU tidak melakukan tebusan DO (delivery order).

‘’Mereka tidak mau mengambil risiko kerugian. Padahal, konsumen butuh pasokan premium,’’ tandasnya dengan tetap merahasiakan identitas lima SPBU dimaksudkan.

Seperti diketahui, sejak 1 Desember kemarin, harga premium telah diturunkan dari Rp 6.000 menjadi Rp 5.500/liter. Akibat penurunan itu, pengelola SPBU sejak 29 Nopember lalu, sengaja memperlambat bahkan menunda pembayaran DO. Karena harga DO yang baru jauh lebih murah dibanding DO sebelumnya.

Menurut Evi, Minggu dan Senin kemarin, ditemukan beberapa SPBU yang tidak melakukan penjualan, karena tidak memiliki stock. Kondisi ini terjadi bukan karena Pertamina terlambat mengirimkan BBM, tetapi justru pengusahanya tidak mengambil atau membayar DO.

‘’Karena takut rugi, pengusaha memilih menutup dulu SPBU-nya. Padahal, kalau tetap membayar DO sebelum tanggal 1 Desember, kerugian paling-paling hanya yang tersisa dalam bunker SPBU saja,’’ kata Evi.

Pertamina Jatim, lanjut Evi, telah menetapkan kebijakan bahwa DO yang sudah dibayar sebelum tanggal 1 Desember 2008, akan diberi kompensasi penurunan harga Rp 80/liter. Sehingga tidak ada alasan, bagi SPBU untuk tidak segera membayar DO yang sudah dipesan.

Selain itu, Pertamina juga akan melakukan penghitungan selisih harga jika DO yang dipesan sebelum 1 Desember 2008, baru dikirim Senin kemarin. Caranya, selisih harga baru dan lama, akan diakumulasikan pada pembelian DO selanjutnya. Bagaimana kalau tetap tidak oreder DO?

‘’Sudah jelas sanksinya. Mereka akan kita stop 14 hari, jika sampai hari ini (kemarin) tidak membayar DO. Padahal, setiap kali DO dikirim, besoknya sudah habis terjual,’’ paparnya.

Secara normal, kebutuhan BBM jenis premium di Jatim mencapai 6000 Kl /hari dan 4500 kl/hari untuk solar. Dari jumlah pasokan tersebut, posisi stok di Pertamina sendiri masih cukup aman untuk waktu 10 hari mendatang. ’’Kalau ada SPBU yang kemarin kehabisan bensin, bukan karena Pertamina. Tapi karena pemiliknya tidak mau order,’’ ucapnya. (has/avi) (harry santoso/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang Raya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s