Pengguna narkoba dengan media jarum suntik ternyata masih menjadi penyebab terbesar penyebaran virus HIV

aids
Dari data yang dimiliki oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Malang, tercatat Injection Drug User (IDU) memberikan kontribusi sebesar 66,98 persen dari total jumlah pengidap yang memeriksakan diri di RS dan klinik VCT Kota Malang sebanyak 854 orang.

Ketua Harian KPA Kota Malang, Dra Sutiarsi mengatakan, penyebaran virus HIV dengan media jarum suntik antar pengguna narkoba memang sulit dicegah. Apalagi jika si penderita tidak mengetahui jika dirinya terjangkit virus mematikan ini. Namun, KPA sendiri tengah berupaya untuk menekan angka penyebaran virus HIV dari pengguna yang sudah diketahui terjangkit penyakit ini.

“Untuk penderita yang saat ini dalam masa rehabilitasi narkoba, kami tengah mengupayakan adanya subtitusi jarum suntik dengan sejenis narkoba cair, yakni metadon, bila mana si penderita ini sedang mengalami sakaw. Tetapi penggunaan metadon ini tidak boleh sembarangan, melainkan harus di hadapan petugas yang tengah merehabilitasi orang tersebut,” ujar wanita yang akrab disapa Anis ini pada Malang Post, kemarin.

Di Kota Malang sendiri, substitusi narkoba jarum suntik dengan metadon masih belum dilakukan. Ada kekhawatiran dalam pelaksanaan program ini, terutama yang terkait dengan legalitas dan aspek hukum. Yang menarik, kasus HIV/AIDS yang berasal dari kalangan waria dan gay ternyata memberi kontribusi yang cukup kecil.

Dari kalangan waria hanya terjadi 11 kasus sejak tahun 1997. Sedangkan dari kalangan gay sebanyak 5 kasus atau 0,59 persen. Wanita bertubuh subur ini menjelaskan, temuan ini sekaligus mematahkan anggapan masyarakat yang selama ini men-judge kalangan waria dan gay sebagai mediator tertinggi penyebaran virus HIV.

Anis melanjutkan, yang lebih memprihatinkan, dari 854 pengidap penyakit AIDS, tak kurang dari 84 persen adalah orang-orang yang berada dalam usia produktif, yakni mereka-mereka yang berusia antara 15 tahun hingga 45 tahun. Selain itu jumlah laki-laki pengidap AIDS juga sangat tinggi dibandingkan perempuan, yakni 73,19 persen dibanding 26,81 persen.

Sementara itu bagi para penderita AIDS di Kota Malang, selain mendapat bantuan dari pemerintah pusat untuk pemenuhan obat ARV, pemkot melalui APBD juga ikut berpartisipasi. Sejak tahun 2007 lalu, mereka mendapat bantuan 50 juta yang diwujudkan dalam bentuk bantuan alat sablon.

“Ini digunakan untuk memberdayakan mereka dalam rangka membantu pemenuhan nutrisi. Sebab bagaimanapun juga, gizi bagi para penderita ini sangat penting untuk mengimbangi pengobatan,” pungkasnya. (nda/lim)
(Adinda Zaeni/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s