Kerajinan Ukiran Malang Tembus Belanda dan Italia

mengukir
Berangkat dari keprihatinan terhadap sejumlah pengangguran di lingkungan rumahnya, Eddy dan istrinya, Titik Lestari, akhirnya membuat sebuah bengkel seni untuk menampung dan membina mereka agar dapat berkarya. Sejak di dirikan sekitar enam bulan lalu, kini pesanan karya seni buatan mereka telah dipesan hingga negeri tetangga.

Awalnya Eddy mengaku kesulitan embina enam pengangguran yang sering nongkrong dirumahnya. ”Sulit sekali menumbuhkan niat untuk bekerja pada mereka,” ujar Eddy mengisahkan kendala yang dialaminya dalam membina enam pemuda yang kini rajin membuat patung Punakawan dari kayu.

Namun, setelah beberapa lama, enam remaja yang berusia sekitar 20 hingga 27 tahun tersebut malah keranjingan bekerja. Menurut Eddy itu karena proses kerja yang dilakukan disanggarnya berjalan secara kekeluargaan.

Titik Lestari mengaku menanamkan prinsip kebersamaan dalam workshopnya. ”Disini kami semua adalah pemiliknya. Kesejahteraan adalah untuk semuanya,” ujar istri Eddy yang khusus menangani manajemen work shop patung secara tradisional. Sehingga tidak ada sistem gaji bagi pekerja. Semuanya dibagi dengan menyisakan kas untuk Work Shop.

Hasil dari binaan model ini mulai terasa di beberapa bulan terakhir. Patung Punakawan yang menggunakan kayu bekas dari ranting pohon di sekitar lingkungannya terlihat unik dan memiliki nilai karya yang tinggi. Apalagi setelah menjadi patung empat sekawan antara lain Semar, Gareng, Petruk dan Bagong dan dijual per set.

Semua berubah menjadi karya seni mewah dan memenuhi estetika pasar, bahkan hingga pasar internasional. Tatik menyebutkan, sejumlah pesanan datang dari Belanda, Italia dan Australia. Di dalam negeri sendiri, buatan remaja binaan Tatik telah memenuhi pasar Jogja serta Museum House Of Sampoerna.

Patung karya remaja pengangguran itu dihargai dari Rp 400 Ribu hingga Rp 1,5 Juta per set. Karena hand made, semua set Punakawan milik Tatik bersifat eksklusif. ”Satu barang ya tidak ada tiruannya,” imbuhnya. Sebab semua patung dibuat mengikuti bentuk ranting dan mengalami proses pewarnaan atau cat secara hand made, tidak dengan mesin printing.

Hingga saat ini, pembinaan dari Eddy dan Tatik terus berjalan. Bahkan, beberapa universitas swasta di Malang tertarik untuk menjadikan work shop milik Tatik sebagai salah satu jujugan mahasiswanya untuk magang kerja.

Namun, Tatik mengakui, sejauh ini belum ada usaha dan bantuan dari Pemda terhadap bengkelnya. Terutama dalam rangka pengentasan pengangguran. Diakui Tatik, sejumlah peralatan memang dibutuhkan bengkelnya agar dapat berproduksi lebih efektif dan mampu menyerap lebih banyak pengangguran. ”Pemda sejauh ini belum ada kepedulian. Jika dibutuhkan, saya siap untuk menyerap pengangguran yang mau bekerja di sini,” tegas Titik.(mp1/eno)(Redaksi/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s