Korban Lapindo Ancam Duduki Bandara Juanda

Kemarahan warga korban lumpur Lapindo tampaknya sudah mencapai puncak. Berbagai upaya mereka tidak mempan, karena itu mereka mengancam menduduki Bandara Juanda, Surabaya dan menutup jalur Porong.

“Rencananya akan kita gerakkan ke Bandara Juanda dan penutupan jalur Porong. Massa kita dari empat desa berjumlah ribuan,” ujar Sumitro, salah seorang koordinator warga korban Lapindo yang menduduki Kedubes Kerajaan Belanda di JL HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (3/12) kemarin.

Menurut Sumitro, hal itu mereka lakukan untuk mendesak pemerintah agar bersungguh-sungguh menangani persoalan korban lumpur Lapindo. “Karena kalau nggak gitu pemerintah nggak sungguh-sugguh, harus menunggu marahnya korban Lapindo yang sudah menderita ini,” tambahnya.

Sumitro mengungkapkan, saat ini massa di Porong, Sidoarjo, sudah diorganisir. Pihaknya telah mengirim pulang 5 orang koordinator lapangan yang ikut ke Jakarta. “Korlap di Porong sudah siap,” tandasnya.
Jalur Porong merupakan salah satu jalur transportasi utama di Jawa Timur. Jika jalur ini ditutup, maka aktivitas perekonomian di Jatim akan terganggu.

Secara terpisah, sekitar 70 orang warga korban lumpur Lapindo mendatangi Kedubes Kerajaan Belanda untuk minta tempat pengungsian. Mereka tampak telantar di depan kantor Kedubes. Pantauan di lokasi, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (3/12), puluhan warga tampak duduk-duduk di depan pintu masuk. Sebagian bahkan ada yang tidur-tiduran tanpa menggunakan alas.

Karena panas yang menyengat, warga menggeser duduk mereka ke pinggir, di bawah benteng yang cukup diteduhi dedaunan pohon yang tumbuh di dalam Kedubes. Di antara mereka tampak seorang anak perempuan kecil yang tidur di atas alas berwarna biru.

Warga korban lumpur ini ingin meminta tempat pengungsian kepada Kedubes Belanda. Mereka juga mengharap bantuan dari Pemerintah Belanda dalam proses penyelesaian ganti rugi korban lumpur Lapindo yang hingga kini masih terkatung-katung.

Sekitar pukul 10.00 WIB tadi mereka ditemui perwakilan dari pihak Kedubes, yakni Head of Political Affairs Paul Ymkers. Ymkers berjanji akan mempelajari lebih dulu permintaan warga dan membicarakannya dengan decision maker di Kedubes.

Namun hingga pukul 13.00 WIB, perwakilan Kedubes belum juga keluar. Warga bertekad menanti jawaban dari pihak Kedubes sampai kapanpun.

Menurut informasi, rapat masih terus berlangsung di dalam guna membahas permintaan warga. Belum bisa dipastikan kapan rapat akan selesai. Dubes sendiri dikabarkan sedang tidak ada di tempat. (jpnn/dtc/udi) (JPNN)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s