Menengok Eksotika Hotel Tugu yang Menawarkan Nilai Sejarah

admonike.multiply.com)

Oei Hui Lan merupakan putri kesayangan Oei Tiong Ham (foto:admonike.multiply.com)

Sudah menjadi kelaziman jika hotel menjual kemewahan. Namun, jika ada hotel dengan menghadirkan saksi bisu sejarah, maka menjadi daya tarik tersendiri bagi tamu. Hotel Tugu menyajikan hal itu melalui perabotan, lukisan, dan benda-benda bersejarah lain.

Lokasinya berada di jantung Kota Malang, Jl Tugu. Pesona yang dipancarkan bertolak belakang dengan modernisasi. Anhar Setjadibrata, sang pengelola, justru ingin mengajak setiap pengunjung mengenang kejayaan masa lampau. Perpaduan nuansa Jawa tradisional, kolonial Belanda, dan China menjadi sentuhan di Hotel Tugu. Tiga budaya ini diyakini tak akan memudar untuk dinikmati sepanjang zaman.

Sentuhan masa kejayaan 1866-1924 terlihat ketika Crescentia Harividyanti, executive assistant manager Hotel Tugu mengajak Radar ke Ruang Rajaharum. Ruang berukuran 7 x 8 meter ini tak hanya mampu menghipnotis setiap pengunjung, tapi di dalam ruangan itu terbalut unsur magis.

Suasana ruang yang hening dengan lampu temaram cukup menyejukkan. Begitu pertama yang dirasakan saat memasuki ruang tersebut. Menoleh ke sebelah kanan pintu masuk, terpampang foto terbingkai dalam pigura tertulis nama Oei Tiong Ham. Tepat di bawahnya tertera tahun 1866-1924. Konon, warga Tionghoa yang tinggal di Semarang itu memiliki kisah unik. Di usianya 37 tahun, Oei Tiong Ham begitu dielu-elukan masyarakat.

Oei Tiong Ham merupakan raja gula di Asia Tenggara yang begitu tersohor. Karena kepiawaiannya mengelola bisnis gulanya itu, menjadi cikal bakal berdirinya pabrik gula Krebet di Malang. Serpihan kejayaan Oei Tiong Ham diperkuat dengan berburuan Anhar terhadap barang-barang peninggalannya.

Dan, satu set meja dari kayu model klasik tradisonal yang dahulu biasa digunakan Oei Tiong Ham untuk memimpin rapat bersama dengan saudagar kelas dunia terkait bisnisnya berhasil didapat dari Semarang. Satu set meja tersebut diletakkan tepat di tengah-tengah Ruang Rajaharum.

“Meja makan ini asli milik Oei Tiong Ham yang diperoleh Pak Anhar. Beliau (Anhar) memiliki cita-cita luhur ingin mengingatkan kembali pada sejarah yang terlupakan,” ucap perempuan yang akrab disapa Kris itu saat menemani Radar. Meja sejarah itu pun bebas dimanfaatkan para sekadar untuk bercengkerama dan makan.

Foto raja-raja nusantara seperti Hamengkubuwono VII dan Raden Ario Mochammad Tahir (1926-1929) turut menghias dinding Ruang Rajaharum. Hampir semua perabot yang berada di ruang itu menyimpan cerita sejarah di zamannya masing-masing. Dua etalase besar, di dalamnya memajang pernak-pernik peninggalan zaman dulu, seperti arca.

Belum hilang kekaguman benda-benda asli peninggalan Oei Tiong Ham, pandangan tertuju pada lukisan Oei Hui Lan yang berada di sebelah kiri pintu masuk. Ya, hampir semua pengunjung yang masuk akan terdiam sesaat ketika melihat lukisan tiga dimensi ini. Lukisan yang berukuran 1 x 1,5 meter itu memang mampu memberi kesan lain begitu melihat setiap detilnya. “Setiap melihat lukisan ini bulu kuduk bisa merinding. Aura seninya begitu kuat. Mistik tapi indah untuk dilihat,” kata Dadieng, warga Jl Joyo Tambaksari yang mengaku setiap makan siang di Hotel Tugu selalu menyempatkan melihat lukisan tersebut.

Dadieng merupakan satu dari pengunjung yang menyatakan kekaguman pada lukisan putri Oei Tiong Ham tersebut. Dari keterangan Kris, Oei Hui Lan merupakan putri kesayangan Oei Tiong Ham. Sang putri ini yang selalu setia mendampingi ayahnya dalam menjalankan bisnisnya. Termasuk menjadi penterjemah ketika ayahnya pergi ke Eropa. Sayang lukisan tersebut tidak tercantum nama si pelukis.

Melalui lukisan tersebut tergambar jelas perawakan Oei Hui Lan berpostur tinggi semampai dengan rambut panjang yang terurai. Parasnya cantik dengan bentuk dagu meruncing. Posisi lukisan sang putri yang kemudian dipersunting Ambarsador, warga kebangsaan Thailand ini, menghadap kaca. Rambut panjangnya terlihat jelas melalui pantulan kaca di belakangnya.

“Oh, bagus sekali. Saya tidak pernah melihat lukisan sebagus ini,” ujar Mr Gerald John, turis asal Belanda yang cukup fasih berbahasa Indonesia. Bagi Gerald, singgah di Hotel Tugu bukan kali pertama ini. Pengagum alam Indonesia ini sudah sering ke Malang sebelum bertolak ke Gunung Bromo.

Kala menelusuri sekat demi sekat ruangan Hotel Tugu tak ubahnya seperti menjelajahi museum sejarah besar nan elok. Hampir semua properti yang menghiasi sudut ruangan bergaya kuno. Furniture, ornamen interior, merupakan karya seni berakar tradisi Indonesia asli. Sebagian merupakan karya-karya peninggalan masa lalu. Mulai dari seniman Indonesia abad 19, warisan kolonial Belanda, sampai karya klasik beretnik China.

Saat melangkah di Endless Love Avenue to The Sahara, sebuah lorong cinta yang bergaya arsitektur era kerajaan Mesir dengan didukung temaram cahaya yang menimbulkan kesan romantisme. Begitu pula di kamar Raden Saleh Suite. Di kamar ini terdapat sebuah kotak tembakau Van Nelle, kesukaan para kolonial Belanda di masa penjajahan. Penamaan kamar ini dapat dilihat dari sebuah lukisan besar yang terpampang di dinding kamar. Lukisan itu menggambarkan rasa hormat Raden Saleh, seorang pelukis terkenal di zaman kolonial Belanda pada pada 1830.

Selain kamar Raden Saleh Suite, yakni Apsara Residence. Inspirasi dibuatnya kamar ini adalah pada suatu kejadian yang pernah berlangsung di Jawa. Kala itu terdapat legenda romantis, yakni seorang pangeran tampan yang berdoa untuk mendapatkan putri cantik nan rupawan. Putri tersebut ingin dipersuntingnya. Tuhan pun mengabulkan doa pangeran dengan mengirimkan penari tari Apsara Nirwana. Tarian Apsara adalah sebuah tarian yang dilakukan untuk wujud persembahan pada Tuhan, raja, dan para satria kerajaan. Dan, bulan purnama pun tiba, sang penari akhirnya jatuh hati dengan pangeran itu.

Kekayaan peninggalan yang tersimpan di Hotel Tugu itu tak berlebihan kalau akhirnya menjadi magnet para turis mancanegara seperti AS, Australia, Perancis, India, Korea, Rusia, Suriname, dan Filipina. Belum lagi pejabat yang menjadikan Hotel Tugu sebagai tempat istirahat.

Empat presiden, B.J. Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarno Putri, dan Susilo Bambang Yudhoyono memilih Hotel Tugu untuk melepas kepenatan. Bahkan, keluarga besar Soekarno sepertinya menanam kenangan di Hotel Tugu ini. Buktinya, dalam setiap kali acara di Malang maupun Blitar, selalu menyempatkan menginap di Hotel Tugu.

“Keluarga Bung Karno dengan Hotel Tugu tidak ada hubungan yang lebih dalam. Mungkin ikatan sejarah saat Bung Karno berpidato di Tugu ketika masa kemerdekaan. Kami tentunya senang kalau hotel ini mempunyai nilai sejarah bagi mereka (keluarga Soekarno, Red),” tambah Kris.

Sementara, para turis memiliki tempat istimewa yang menjadi jujugan ketika mereka menginap. Yakni, Waroeng Old Shanghai. Tempatnya bersebelahan dengan Restoran Melati. Pengakuan Kris, Waroeng Old Shanghai itu bisa dikatakan ikonnya turis mancanegara. Para turis biasanya begitu betah berjam-jam menghabiskan waktu saat menginap di hotel.

Kedai atau warung yang berada di pinggir kolam ini untuk mengenang kembali Waroeng Old Shanghai era 1920 di Sunda Kelapa. Peristiwa sejarah yang merupakan penggalan The Forgotten History of Batavia, mengenai situasi sebuah warung kopi, teh, dan makanan yang terletak di Pelabuhan Sunda Kelapa, Batavia, pada masa sekitar tahun 1920.

“Semua bangunan warung ini asli lho. Pak Anhar memboyong warung dan sebagian perabotannya. Jadi, ini ada dua atap, satunya asli,” kata dia.

Malah ada sebuah peta asli rencana tata kota Shanghai yang diterbitkan North China Daily News and Herald Limited pada 1928. Peta ini berukuran satu meter persegi dan terpajang di salah satu dinding. Foto-foto peristiwa tahun 1930 yang termuat di beberapa koran dan terbit di Shanghai juga menjadi hiasan dinding.

Terdata juga foto yang mengisahkan empat warga Tionghoa. Mereka ini diusir dari Batavia oleh Pemerintah Kolonial Belanda karena dianggap berbahaya. Keempatnya lalu dibawa ke Tiongkok dengan diangkut sebuah kapal bernama Tjisalak.

Tak luput artikel yang mengisahkan Kwee Hing Tjiat, wartawan Tionghoa di Batavia yang dibuang Pemerintah Hindia Belanda ke Tiongkok. Sebab, ia telah membuat kritik-kritik keras terhadap Pemerintah Hindia Belanda atas perbuatannya melakukan kekerasan terhadap penduduk jajahan pada masa itu. “Kursi dan semua barang yang ada ini juga asli,” ucap Kris seraya menunjuk beberapa stel meja dan seperangkat warung.

Begitu pula sejarah masyarakat Jawa diabadikan pada nama-nama tipe kamar yang tersedia. Seperti Apsara Residence, Raden Saleh Suite, Babah Suite, Devata Suite, Zamrud Suite, dan Honeymoon Suite. Sebut saja Apsara Residence yang diambil dari dongeng romantik melegenda di kalangan masyarakat Jawa. Kamar dengan kisaran tarif 1.000 US dolar ini yang biasanya dipesan para petinggi negara dan tamu negara lain.

Happy DY
(*/ziz/radarmalang)

1 Komentar

Filed under Malang, Pariwisata

One response to “Menengok Eksotika Hotel Tugu yang Menawarkan Nilai Sejarah

  1. baru baca bukunya aja udah gregetan .. inspiratif banget ,, tp ternyata baca doang gak cukup .. hehee

    ini salah satu tempat wisata yang “sayang” banget kalo sampe dilewatin ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s