Rekrut Pengangguran Dididik Jadi Seniman

Eddy Permono

Eddy Permono

Dunia seni sering kali dipandang sebelah mata dan dianggap suram bagi masa depan. Dunia yang dianggap klise ini banyak dinilai tidak bisa digunakan sebagai sandaran hidup. Eddy Permono membuktikan betapa salahnya pandangan tersebut.

Kemauan untuk bekerja dan jeli melihat peluang bisnis tanpa mengabaikan idelisme berkarya merupakan beberapa prinsip yang menyebabkan Eddy tetap dapat hidup laik sebagai seniman. Bersama istrinya, bahkan Eddy telah mempekerjakan enam pengangguran di sekitar kediamannya untuk bergabung membuat karya seni di bengkel kerjanya.

Dunia seni rupa awalnya di tekuni Eddy sekitar tahun 1975. Saat itu Eddy yang besar dari keluarga seniman mengaku lebih tertarik menekuni dunia seni rupa atau lukisan. ”Saya suka filosofi atau cerita yang dikandung dalam gambar lukisan,” ujar Eddy dirumahnya yang asri di Jalan Sumber Wuni Malang, kemarin.

Menurut pria yang mempunyai nama seniman Adi Prana ini, ilmu melukis dipejarinya secara otodidak. Darah seni yang mengalir kental dari sang ayah yang seorang seniman panggung dan dari ibunya, seorang pembatik, bisa jadi membuat Eddy tidak kesulitan untuk belajar melukis sendiri.

Dalam perjalanan pembelajarannya, Eddy tidak asing dengan seniman legendaries Indonesia. Sebut saja Sujoyono atau Affandi sang maestro lukisan yang telah masuk literatur buku sejarah seni rupa pelajar di Indonesia bahkan dunia.

”Saya mengagumi Affandi karena filosofi dan semangat hidupnya,” ujar Eddy sambil menunjukkan foto almarhum Affandi dan dirinya semasa muda.

Namun begitu, prinsip keorisinalitasan tetap dijaga oleh Eddy. Artinya, walaupun dia mendapatkan berbagai petuah dan pelajaran berharga tentang seni rupa oleh para maestro lukisan Indonesia, tetapi dirinya tidak lantas menjadikan mereka sebagai kiblat dalam melukis.

Ia bertekad tidak akan mencoba meniru gaya melukis orang lain. Sebab sebagai seniman, Eddy sadar bahwa ciri khas dan orisinalitas adalah harga mati agar karya seninya mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari masyarakat.

Kini nama Eddy atau Adi banyak dikenal oleh seniman lokal maupun nasional. Agenda pameran pun telah ditawarakan oleh sebuah BUMN dari Jakarta yang memberikan waktu pameran dua kali dalam satu tahun untuk karya lukisnya.

Harganya pun bisa bervariasi. Dari seluruh lukisan yang bergaya realis, Eddy mengaku ada sebuah lukisan yang dihargai sekitar Rp 135 Juta. ”Itu ketika saya pameran di Jakarta beberapa tahun lalu,” sebutnya. Di Malang sendiri, lukisannya telah memiliki pasaran tersendiri. Banyak pembeli yang mau menghargai lukisan miliknya hingga Rp 35 Juta.

Sebagai pelukis, Eddy memang patut berbangga atas penghargaan yang telah didapatkannya. Bahwa dengan hanya melukis kebutuhan hidup dirinya dan istrinya telah tercukupi dengan laik. Namun tidak berarti Eddy berpuas dengan apa yang dicapainya. Mengingat ide dan inspirasi melukis tidak datang setiap hari. Bisa berbulan-bulan atau bahkan hanya dalam hitungan minggu satu lukisan terselesaikan.

Diantara jeda tersebut, Eddy lantas mencoba melakukan seni rupa patung dan pahat untuk tetap berkarya dan bekerja. Hasilnya pun boleh dikatakakan sukses. Tidak hanya keluarganya saja yang merasakan kesejahteraan, namun sejumlah pemuda pengangguran juga turut sejahtera.
Eddy mengajak sejumlah pemuda setempat untuk membuat karya seni patung tokoh wayang, punakawan. Hasilnya, sejak enam bulan terakhir pesanan datang dari Jogja, Bali bahkan hingga Australia dan Belanda.(mp1/eno) (Redaksi/malangpost)

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s