Singa Bersayap di Lantai I Hotel Niagara

Hotel tua ini menawarkan keindahan, sensasi, tersendiri dari bentuk konstruksinya yang eksotik dan antik (hurek.blogspot.com)

Hotel tua ini menawarkan keindahan, sensasi, tersendiri dari bentuk konstruksinya yang eksotik dan antik (hurek.blogspot.com)

Hotel bersejarah bukan saja karena usia. Perawatan dan mempertahankan nilai sejarah menjadi daya tarik tersendiri. Hotel Niagara yang berada di Jl Sotomo 63 Lawang mempunyai karakter tersendiri. Berikut tulisan wartawan Radar yang menginap semalam di hotel tersebut.

Kokoh. itulah kesan pertama kali berada di depan bangunan dengan lima lantai itu. Bangunan yang dikerjakan pada 1900 ini awalnya sebagai sebuah vila. Pemilik pertamanya adalah Liem Sian Joe, orang China yang tinggal di Belanda. Dia mempercayakan pembangunan gedung setinggi 35 meter ini kepada seorang arsitek dari Brazil, Panedo.

Proses pengerjaannya pun cukup lama. Mulai dari pembangunan pondasi hingga finishing memakan waktu 15 tahun. Karena itu, dari kejahuhan bangunan ini memang sangat kokoh. Begitu juga setelah masuk ke lobi hotel, tembok setebal kurang lebih 50 centimeter terlihat masih kokoh dan terawat.

Tidak itu saja. Ukiran di kayu jati yang ada di lobi menandakan bangunan lama ini mempunyai nilai sejarah. Ukiran berbentuk bunga dan garis lurus tampak sebagai simbul ketegasan pemiliknya. Perpaduan bangunan gaya Belanda, China, dan Brazil yang diciptakan Panedo menciptakan suasana misteri tersendiri. Anggun tetapi memiliki unsur mistik yang terkandung di dalamnya. “Mau menginap Pak. Masih ada beberapa kamar yang kosong,” kata salah satu resepsionis yang berada di balik meja panjang lobi hotel.

Tiba-tiba jantung berdetak kencang dengan kedatangan petugas hotel di meja resepsionis. Maklum saja, suasana hotel yang sepi terpecahkan dengan suara seorang petugas hotel yang tiba-tiba datang dari belakang untuk mengantar ke kamar di lantai III.

Di lantai III inilah banyak cerita misteri yang mengiringinya. Terlebih melakukan perbuatan yang tidak semestinya. Seperti bicara kotor atau berbuat yang aneh-aneh. “Isunya memang begitu. Tetapi itu tidak benar. Saya yang sudah enam tahun di sini tidak pernah melihat atau diganggu,” kata Muhammad Huda, petugas hotel saat mengantar Radar ke kamar.

Di lantai III ini juga terdapat mesin lift merk ASEA dari Swedia. Mesin yang digerakkan dinamo ini sudah ada sejak 1900. Kawat seling yang menarik ke bawah maupun ke atas masih terlihat terawat dan utuh. Namun sayang, mesin tersebut sudah tidak difungsikan. Selain usia, juga beban listrik juga besar. Karena memakan biaya produksi sangat tinggi, alat tersebut tidak difungsikan lagi.

Selain lift, dua lantai yang ada di atasnya juga tidak lagi digunakan. Alasannya, dua lantai tersebut sangat tinggi. Kalau lift tidak dioperasikan, pihak manajemen hotel merasa kasihan terhadap pengunjung yang datang. Sebab, kalau mau keluar hotel mereka harus naik dan turun tangga. Praktis, dari total 26 kamar, hanya 14 kamar saja yang dioperasionalkan. “Itu pun hanya di lantai dua dan tiga saja,” tambah Huda.

Karena penasaran, malam harinya Radar menyempatkan naik ke lantai empat. Walau gelap, arsitektur bangunan di lantai tersebut masih terlihat jelas. Banyak debu dan kotoran di lantai tersebut. Di tangga menuju ke lantai empat juga terdapat tulisan tidak boleh naik. Sesampainya di lantai empat, aroma mistis terasa sangat kuat. Mungkin karena gelap dan jarak pandang yang terbatas menimbulkan.

Di lantai I, dengan lampu yang remang-remang, di ruang rapat terdapat realif singa. Relief yang berada di plafon ruangan itu menggambarkan singa memiliki sayap. Mata singa menatap tajam ke seluruh ruangan. Relif yang terbuat dari kayu jati ini juga masih utuh.

Begitu juga pada keramik di semua lantai. Selain ornamen gambar dan bentuk garisnya, kondisinya masih bagus dan utuh. Konon, bahan bangunan tersebut langsung didatangkan dari Belgia. Pagi hari, keindahan hotel ini ditopang dengan keindahan Gunung Arjuno. Eksotika gunung yang memiliki ketinggian sekitar 2. 000 meter di atas permukaan laut ini terlihat jelas. Bahkan udara yang berada di tempat tersebut sangat segar.

Bambang Tri W
(bb/ziz/radarmalang)

Iklan

6 Komentar

Filed under Kabupaten Malang, Pariwisata

6 responses to “Singa Bersayap di Lantai I Hotel Niagara

  1. iyus

    bagus sambil mengenalkan sejarah

  2. bayu

    istri saya asli orang malang dan kami tinggal di jember.tiap mudik ke malang,sambil menyetir mobil saya pasti menyempatkan diri menoleh sekilas untuk mengagumi keindahan arsitektur hotel niagara.hasrat hati ingin menginap di sana sayangnya sang istri selalu menolak mentah2 usul saya.mau nginap sendiri kok kayaknya gimanaaa gitu….mudah2an bangunan itu masih tetap berdiri kokoh untuk waktu yg lama.eh ada lagi bangunan2 antik di lawang yaitu kompleks perumahan CPM (kalo gak salah),bagus2 sayangnya sebagian ada yg kurang terawat.

  3. bayu

    eh hotel niagara udah masuk cagar budaya blm ya?sayang kalo belum…

  4. raehan

    ihhhhhhserem ya hotel niagara tuh

  5. Tapi kenapa sampai saat ini banyak orang yang bilang hotel ini menyeramkan ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s