Pecel Patriyem, Sejak 1965

Warung Patriyem, warung yang satu ini pantas dicoba oleh para pecinta kuliner. Warung legendaris ini berdiri sejak tahun 1965. Pemiliknya menyebut pecel buatannya dengan pecel Patriyem, yang tak lain adalah pendiri warung tersebut.

Untuk menikmati satu porsi pecel, pecinta kuliner tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Cukup membayar Rp 6000, pecinta kuliner sudah bisa menikmati kelezatan masakan berbumbu dasar kacang tanah ini.
Kelezatan pecel Patriyem menurut para pelanggan lawasnya adalah pada bumbu dan perpaduan lauknya. Sayurnya terdiri dari kecambah dan selada atau bisa juga daun pepaya.

Ciri khas pecel ini adalah rasanya yang variatif. Dari yang pedas, asam, sampai yang sedikit pahit. Menurut Ediatun, si pemilik warung, agar pecel memiliki rasa yang berbeda, ia menambahkan asem pada bumbunya. Asem ini memberi rasa asam, tetapi rasanya berbeda dengan rasa kecut karena basi. Asam disini memberikan sensasi segar pada bumbunya.

Untuk menggoreng kacang tanah pun, Ediatun mengaku tidak menggunakan minyak. Hal ini dilakukan agar rasa kacang tidak berubah, sebab dengan menggunakan minyak, bisa menimbulkan resiko aroma tidak sedap pada bumbu. “ Kalau pakai minyak, disimpan sedikit lama aroma bumbunya bisa tengik,” ungkapnya.

Untuk pendamping berupa tempe pun, Ediatun tidak sembarangan. Ia memiliki langganan tetap yang setiap pagi selalu mengantarkan tempe untuknya. “ Kalau tempe, saya tidak ganti-ganti langganan. Kebanyakan produksi orang-orang pakisaji sini. Pernah beli dikota tapi rasanya tidak terlalu enak, karena sudah banyak campurannya. Kalau tempe langganan saya, rasa kedelainya masih terasa sebab tidak banyak campurannya sehingga rasanya lebih gurih,” urai dia

Jika pecel biasa menggunakan rempeyek sebagai pendamping, maka pecel Patriyem ini menggunakan kerupuk melinjo sebagai pengganti rempeyek. “ Melinjo bisa memperkaya rasa dari pecel. Sebab ada sedikit rasa pahitnya,” ungkap dia.

Warung patriyem yang berlokasi di jalan raya Pakisaji 258 ini memang letaknya strategis, ditepi jalan raya yang berdekatan dengan pasar Pakisaji, maka tak heran jika sejak buka mulai pukul 7 hingga 5 sore, warung ini tidak sepi pembeli. Mulai dari pelanggan tetap, orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sampai orang-orang yang singgah setelah berbelanja kepasar.(mp2/eno) (Redaksi/malangpost)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s