Djuwari, Pemanggul Tandu Jenderal Sudirman

Djuwari

Djuwari

Kemarin pagi, beberapa jam sebelum detik-detik proklamasi, ponsel saya berbunyi. Isinya sangat panjang untuk ukuran sms. Tapi langsung menyentak dada. Spontan saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

‘’Djuwari 82 thn tukang panggul P5 BESAR SUDIRMAN, rela terlupakan pada HUT KEMERDEKAAN RI k3 64 thn ini. Pria renta yang tinggal di dusun GOLIMAN, ds Parang.Kec Banyakan, Kediri, hidup miskin sbg petani di kaki GN WILIS……’’

Itu hanya sepenggal dari ‘cerpen’ yang terkirim lewat sms. Tapi isi lengkapnya, bertutur sangat rinci soal bagaimana seseorang memaknai arti sebuah peringatan Hari Kemerdekaan.

Bagaimana mungkin, seorang Djuwari, yang memiliki segudang ‘prestasi’ dalam sejarah bangsa ini, sekarang tidak merasakan manisnya madu kemerdekaan.

Padahal pria renta yang hidup dari bertani dan ‘cuma’ dihargai pemerintah lewat sebuah bantuan langsung tunai itu, adalah saksi sejarah.

Padahal tanpa ada Djuwari, seorang Panglima Besar Jenderal Sudirman, tidak mampu meneruskan perjuangannya. Meski ketika itu, Djuwari hanya bertugas memanggul sang jenderal besar itu.

Betapa tidak, selama berpuluh-puluh kilometer, Djuwari harus memanggul Sudirman. Dia hanya berhenti setiap 30 km. Semua itu dilakukan Djuwari dengan senyuman. Karena dia berharap, Jenderal Sudirman tetap selamat dan mampu mengembang tugas-tugas penting kenegaraan.

Djuwari memang tidak pernah berpikir untuk mendapatkan imbalan. Dia sudah sangat senang diberi ‘upah’ sepotong kain panjang dari Jenderal Sudirman, ketika itu. Dia tidak meminta sebutan veteran ataupun penghargaan lain dari negara.

Bahkan saat ini, sepertinya negara sudah melupakan sosok Djuwari. Pria itu, tak ubahnya sesosok orang tua renta, yang tidak ada harganya bagi negara. Apakah Djuwari tidak layak disebut sebagai pahlawan?

‘’Bagi kami, Djuwari adalah pahlawan besar. Dia pantas mendapatkan penghargaan. Paling tidak, perhatian dari negara. Kita akan melakukan sesuatu untuk dia,’’ tegas Juniarno D Purwanto, Direktur Malang Post.

‘’Ya, saya akan ikut. Djuwari tidak layak diperlakukan seperti itu. Kita akan melakukan langkah nyata. Paling tidak, sebagai anak bangsa, saya terpanggil untuk memanusiakan Djuwari,’’ sebut Iwan Kurniawan, owner PT Anugrah Citra Abadi.

Dari dialog itulah, Malang Post menugaskan Bagus Ary Wicaksono dan Habibie, untuk turun langsung ke Kediri. Kedua wartawan dan fotografer itu, merekam tuntas bagaimana kehidupan seorang Djuwari. Apa yang dia rasakan disaat masa-masa perjuangan hingga saat ini.

Bagi Malang Post, sosok Djuwari pantas diteladani. Kisah-kisahnya, layak untuk diikuti. Harapannya adalah asa bagi anak bangsa. Bagaimana perjuangan seorang anak muda, yang ingin berbuat sesuatu untuk negaranya, dengan semua yang dia punyai, tanpa berharap imbalan.

Mulai hari ini, kisah kehidupan Djuwari, akan kami muat secara bersambung. Siapa tahu, kisah-kisah itu bisa memberikan kita gambaran lebih jelas, bagaimana memaknai sebuah hari kemerdekaan.
(Ra Indrata/malangpost)

Iklan

2 Komentar

Filed under Indonesia

2 responses to “Djuwari, Pemanggul Tandu Jenderal Sudirman

  1. malaikat

    Q sebagai anak bangsa gak akan lupa sama jasa-jasa para pahlawan, Q akan selalu ingat dan terus berdoa untuk mereka. karna hanya itu yang bisa aku lakukan..

  2. bayy

    ya itulah bangsa kita yang kurang dalam memperhatikan rakyatnya apalgi yang telah ikut berjuang untuk kita…… mereka para pahlawan juga tidak mengharapkan imblan untuk ibadah mereka…..mereka mengiginkan negara kita menjadi negara yang Baldatun Thayyibun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s