Datang Ke Jembatan Ampera, Makan Pempek, dan Menyaksikan Lomba Bidar di Sungai Musi

palembang-Jembatan-MusiKOTA Palembang, benar-benar telah menyatu dengan ikonnya Jembatan Ampera yang melintasi Sungai Musi, plus makanan khas Pempek. Dari aliran sungai yang juga dijadikan lalu lintas perahu motor dan kapal ferri ini pula, ibu kota Provinsi Sumatera Selatan, itu secara rutin menghelat kalender wisata tahunan bertajuk Lomba Bidar (perahu). Seperti apa potensi wisata kota ini, berikut catatan uklam-uklam Malang Post.

Menuju Palembang lewat perjalanan udara, dari Bandara Soekarno Hatta- Jakarta hanya memakan waktu sekitar 55 menit sudah sampai di Pelabuhan Udara Sultan Badaruddin. Walaupun bandara di kota pemilik PS Sriwijaya ini tidak sebesar Juanda-Surabaya, sekaligus hanya menyediakan sebuah ruang tunggu penerbangan, namun terminal bandaranya tertata cantik bertaraf internasional.

Dari Bandara Sultan Badaruddin ke Kota Palembang, memakan waktu sekitar 30 menit dengan menggunakan taksi ataupun mobil carteran. Di tengah pembangunan yang mengarah pada kota metropolitan, sepanjang perjalanan kita masih bisa menikmati pemandangan bangunan rumah bari (tua) berbentuk panggung (bertingkat) yang khas, terbuat dari kayu besi atau ulin.

Setelah melewati Masjid Agung, kita bisa melihat gagahnya jembatan Ampera. Jembatan berwarna merah darah ini dulunya bernama Soekarno membentang melintasi Sungai Musi yang menghubungkan kawasan Hilir dan Hulu sungai. Saking lebar dan panjangnya, Sungai Musi menjadi sarana transportasi yang dapat dilintasi kapal ukuran sedang seperti kapal feri. Sehari-harinya, aliran sungai ini bak jalan raya yang padat dilalui perahu motor pengangkut barang antara kawasan hilir dan kawasan hulu. Para pelancong juga bisa memanfaatkan jasa perahu untuk berwisata sungai menuju Pulau Kemarau.

“Pulau kecil yang terletak di tengah-tengah sungai Musi itu, memang tak banyak ditumbuhi pepohonan. Namun demikian, masih ada beberapa keluarga yang bermukim di Pulau Kemarau. Nah, kita bisa mengitari pulau itu dengan perahu yang tarif carternya Rp70.000,” urai Husen Tarang, seorang advokat asli Palembang .

Di sepanjang bibir sungai sisi kanan- kiri Jembatan Ampera, lebih banyak dimanfaatkan untuk dermaga. Puluhan unit perahu berbagai jenis dan corak, antrian menunggu carteran. Penjual makanan dan minuman serta buah pun, bertebaran di halaman parkir kawasan ini.

Sebenarnya areal parkir yang luas itu, bisa lebih indah jika disulap jadi danau-danau kecil dipercantik hiasan tanaman bunga seperti pinggiran Pantai Laut Merah di Kota Jeddah- Arabia. Kota Jeddah, yang berdiri di lautan padang pasir, justru telah berubah jadi kota di dalam taman. Sebaliknya di sekitar Jembatan Ampera minim taman, dan sepanjang bantaran sungai tak ada pepohonan hingga menambah panasnya udara yang suhunya melebihi Kota Surabaya.

Lomba Bidar di Sungai Musi

palembang-3LOMBA bidar (perahu) dayung sendiri, rutinitas diselenggarakan dua kali setahun. Yakni 17 Juni yang merupakan Hari Ulang Tahun Kota Palembang, dan 17 Agustus memperingati HUT Kemerdekaan RI. Peserta bidar berasal dari instansi pemerintah maupun swasta dan organisasi kemasyarakatan. Setiap perahu yang panjangnya lebih dari 50 meter ini, dilajukan oleh 65 pendayung dengan jarak tempuh lomba sekitar 2 km.

Menariknya, pada setiap penyelenggaraan lomba bidar, ikut digelar karnaval perahu motor hias. Perahu-perahu berukuran besar itu dihias beragam, kemudian melaju beriringan layaknya karnaval mobil hias di Kota Malang. “Kalender lomba bidar itu, juga telah jadi tontonan utama warga Palembang yang memadati pinggiran sungai Musi. Toko-toko banyak yang tutup termasuk Pasar 16,” ungkap Melati, seorang karyawan sebuah hotel di kota Pempek ini.

Wisata Sungai Musi, bisa memakan waktu setengah hari. Dan meski ibu kota provinsi ini tak banyak memiliki tempat wisata, namun ada beberapa obyek yang bisa dikunjungi sekadar memuaskan dahaga wisata. Diantaranya Masjid Agung Palembang, Museum Tekstil, dan monument perjuangan Pepera. Ditambah, Tugu Bundaran Gelora Jakabaring. Satu lagi yang dekat dengan Ampera, adalah Benteng Kuto Besak (benteng kota besar) yang terkenal.

Benteng Kuto Besak sendiri, awalnya merupakan benteng pertahanan peninggalan kolonial Belanda. Sekarang dimanfaatkan sebagai perkantoran militer. Kendati demikian, kawasan benteng ini berfungsi sebagai sentra kota laiknya alun-alun di Jawa, lengkap dengan pasar semi modern Pasar 16.

Perjalanan wisata, bisa dilanjutkan menyaksikan kesenian tradisional yang sudah sangat melekat pada kehidupan budak-budak (anak-anak) Palembang yakni seni beladiri pencak silat. Yang mengagumkan, pagelaran beladiri setiap hari Minggu ini bisa kita nikmati di plaza-plaza. Seperti di lantai satu Palembang Square sepanjang hari Minggu, dihelat pertunjukan pencak silat.

Perjalanan sore hari, bisa dilanjutkan melihat dan belanja kain songket khas Palembang . Tidak hanya songket, namun kita juga bisa membawa pulang aneka souvenir bercorak tenunan songket, seperti gantungan kunci, dompet, ikat kepala dan kopiah tradisional. Semua jenis oleh-oleh ini, lebih banyak bisa ditemukan di kawasan Ilir II yang merupakan sentra industri kerajinan kain songket. “Untuk per lembar kain songket, harga paling murah sekitar Rp 1 juta,” jelas Fera, warga Kelurahan 29 Ilir.

Untuk mainan anak-anak, banyak dijumpai penjual kerajinan perahu hias. Mainan perahu seharga Rp 10.000 ini, ada yang terbuat dari kayu maupun busa stereofoam. Sedangkan untuk oleh-oleh makanan khas Palembang , lebih baik belanja di Pasar Cinde. Karena selain harganya grosir, jenis yang didagangkan juga paling lengkap.

Tak Bosan, Malah Jadi Menu Utama

TAK heran jika Palembang juga dinamai Kota Pempek. Makanan khas berbahan dasar ikan ini dijual di sepanjang jalan dan sudut-sudut kota . Nyaris tak ada makanan lain yang diperdagangkan. Di Malang misalnya, meski terkenal sebagai kota bakso dan mie, segala jenis makanan lain dengan sangat mudah masih bisa kita temui. Ingin makan rawon, pecel, makanan Padang , Chinese Food, sate Madura, coto Makasar, semua dengan mudah dijumpai.

Berbeda dengan Palembang , sepanjang mata memandang, hanya ada penjual pempek. Di kampung-kampung dan pinggir jalan, yang ada juga hanya kedai yang menjual olahan pempek. Jenis makanan itu pun juga dijual di gerobak (rombong), sepeda onthel maupun bakul pikulan.

“Anda bertamu ke rumah warga sini pun, suguhannya juga Pempek,” terang H Romli, seorang PNS Polwiltabes Palembang. Pempek (empek-empek) yang enak, ditentukan dari jenis ikan yang digunakan sebagai bahan dasar. “Untuk itu, wong Palembang (orang Palembang ) suka menggunakan iwak deleg (ikan gabus). Cuma sekarang ikan ini mulai sulit didapat, sehingga terkadang mereka menggantinya dengan ikan tengiri,” papar Romli.

Dahulu, untuk mendapatkan daging ikan cincang, mereka harus memisahkan daging dari tulang dan duri ikan dengan memirik (menggerus) memakai pirikan. Yakni alat khusus berbentuk semacam saringan kelapa yang sangat tebal terbuat dari besi kuningan. Namun sekarang untuk mendapatkan daging ikan yang sudah dihaluskan, tak perlu susah-susah memirik. Karena penjaja daging ikan giling mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional.

Dengan satu jenis makanan –pempek- kemudian diolah menjadi berbagai macam masakan. Pempek sendiri pun memiliki banyak nama, disesuaikan bentuk dan isiannya. Pempek lenjer misalnya, dibentuk memanjang seperti pipa. Pempek telok (telor) berbentuk pastel sebesar kepalan orang dewasa dan diisi telor. Ada pula celimpungan, pempek kecil berbentuk seperti kelereng, pempek model yang diisi tahu maupun krupuk yakni pempek kukus yang dibentuk seperti gulungan benang.

Menyantap pempek umumnya dengan cuko (cuka). Kuah berbahan dasar gula merah dan cuka beras. Berwarna kecoklatan, rasanya asam, manis dan pastinya amat pedas, karena wong Plembang terkenal suka makanan pedas. Agar lebih nikmat menyantap, biasanya dilengkapi soun dan cacahan ketimun.

Namun dari satu olahan pempek, kuahnya juga bisa diganti. Untuk jenis celimpungan biasanya menggunakan kuah bersantan kental semacam opor. Pempek model, biasanya dimakan dengan kuah bening seperti kuah bakso. Sedang Lakso atau Laksan disirami kuah soto.

Bagi Wong Kito Galo (orang kita semua) – sebutan lain untuk orang Palembang- pempek sudah menjadi makanan pokok. Tak pernah sehari pun mereka lepas dari pempek atau pun cuko-nya. Kalau pun tak ada pempek ikan, mereka akan menggantinya dengan gegodo atau pempek gendum (gandum alias terigu), semacam gorengan heci/bakwan tetapi tanpa isian. Ada pula pempek dos –kalau digoreng mbledos- yang terbuat dari tepung sagu (kanji). Menyantapnya? Tak ada lainnya, ya dengan cuko.

Selain pempek, makanan lain yang harus tersaji tiap hari adalah sayur pindang. Rasanya seperti sayur asem namun sangat pedas. Terkadang dicampuri kepala ikan patin. Tak lupa sambel cenge (terasi). Sambal terasa segar karena rasa kecut dari cung kediro, semacam tomat cherry dan hanya tumbuh di Palembang. Akan bertambah nikmat jika diuleg dengan tempoyak (asinan duren ).

Palembang juga terkenal dengan krupuk ikannya yang gurih. Camilan yang dikenal dengan nama kemplang ini, sebenarnya dari pempek lenjeran yang dipotong tipis, dikeringkan dan digoreng. Uniknya, untuk menggoreng harus menggunakan 2 jenis minyak, bersuhu hangat dan panas. Kalau tidak, kemplang menjadi bantat dan tidak akan bisa mengembang.

Masih ada camilan khas Palembang yang lain. Diantaranya, lempok atau jenang duren, kue kukus srikayo (srikaya) terbuat dari santan dan telur. Ada pula kue delapan jam. Disebut demikian, karena kue berbahan dasar telor bebek dan susu ini harus dikukus selama 8 jam. (lyo/mar/malangpost)

Iklan

4 Komentar

Filed under Indonesia, Pariwisata

4 responses to “Datang Ke Jembatan Ampera, Makan Pempek, dan Menyaksikan Lomba Bidar di Sungai Musi

  1. halo, saya Agus Suhanto, tulisan yg menarik :)
    salam kenal yaa

  2. andrean krenzz

    ok?itu kota saya dekat simpang lima tinggal kerumah saya aja engga jauh ko?dada sam pai jumpa aku ada lah cewe umur 20 tahun ko dada aku suka sama kamu agus suhanto bay love cinta ku hhh ?

  3. Kang Yudhie

    wah.. jadi pengen jalan jalan ke palembang lihat jembatan nih…. :lol:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s