Demensia Nunun Nurbaeti dan Penegakan Hukum

Oleh Badrul Munir

KPK telah menangkap Nunun Nurbaeti di Thailand. Publik berharap, tertangkapnya Nunun Nurbaeti akan menjadi pintu masuk pembongkaran kasus cek pemilihan deputi gubernur senior BI pada 2004 yang masih misterius. Tapi, yang menjadi persoalan sekarang adalah Nunun disebut-sebut menderita demensia (pikun).

Kasus demensia perlu dibuktikan secara medikolegal karena ada beberapa penyakit yang mirip dengan demensia. Demensia adalah suatu penyakit dengan gejala hilangnya fungsi kognisi (kecerdasan), terutama fungsi memori, yang disertai beberapa gejala lain. Di antaranya, gangguan berbahasa/berkomunikasi, disorientasi tempat dan waktu, gangguan melaksanakan perintah, adanya kecemasan, serta depresi. Akibatnya, penderita tidak bisa melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dan mengganggu fungsi hidup bermasyarakat.

Banyak penyebab demensia. Di antaranya (pada umumnya), karena proses penuaan/degeneratif (alzheimer), adanya penyakit yang mendasarinya seperti pernah stroke, tumor otak, pascainfeksi, dan pascatrauma kepala. Gejala demensia muncul secara berlahan dan prosesnya akan berjalan terus ke arah perburukan.

Pada umumnya, pasien demensia tampak kelihatan sehat, tidak seperti penyakit fisik pada umumnya. Apalagi, dalam stadium awal, penyakit itu pada awalnya dikeluhkan orang dekatnya dengan gejala sering lupa menaruh barang, lupa mengerjakan pekerjaan rutinnya, atau sering tersesat bila bepergian. Pada stadium lanjut, penderita demensia akan sangat bergantung kepada pengasuh dan muncul gejala yang mirip dengan kelainan jiwa seperti halusinasi, ilusi, dan depresi.

Kasus Nunun Nurbaeti -yang pada awalnya penyakitnya diragukan- kini telah terbukti bahwa dia menderita demensia (berdasar keterangan dokter). Itu akan menjadi tantangan bagi penegak hukum untuk mendapatkan keterangan penting guna menguak tabir korupsi saat pemilihan deputi gubernur senior BI pada 2004.

Tantangan terbesar adalah ketidakmampuan penderita demensia mengingat memori jangka pendek dan menengah. Sedangkan ingatan jangka panjang seperti nama anggota keluarga, alamat, dan lainnya pada umumnya masih normal.

Untuk mengingat kejadian beberapa bulan terakhir, penderita demensia sangat sulit. Apalagi, kejadian yang sebentar dan tidak berulang seperti memberikan uang/cek pada hari dan tempat tertentu, atau menyebut nama-nama orang yang telah menerima cek, dan lain-lain.

Diperlukan cara dan metode khusus untuk mengembalikan ingatan tersebut seperti memberikan suasana nyaman saat pemeriksaan, memberikan kata-kata bantuan (key word) saat menjawab pertanyaan, atau didampingi oleh orang terdekat yang mengetahui isi pertanyaan tersebut. Walaupun, ketepatan jawabannya perlu diuji dan dikonfirmasi ulang. Hal berbeda kalau penderita demensia mengingat kejadian yang rutin dan berulang-ulang seperti jam bangun tidur, nama suaminya, atau menyebut alamatnya. Penderita akan mampu meningat itu dengan mudah.

Tantangan lainnya adalah saat digelar perkara di persidangan. Walaupun penderita demensia dinyatakan sehat oleh dokter dan bisa dihadirkan dalam persidangan, permasalahan akan muncul lagi. Yakni, ketidakmampuan penderita mengingat semua yang telah diperiksakan kepadanya (lupa total akan berita acara pemeriksaan -BAP). Hal itu bisa disebabkan suasana kejiwaaan yang tertekan dalam persidangan sehingga bisa membuatnya jatuh ke dalam kondisi tidak stabil dan gejala demensianya akan muncul secara akut dengan gejala berat seperti lupa total (blank memory) hingga akan muncul gejala halusinasi (berteriak-teriak, berbicara ngelantur). Itu tentu mengacaukan persidangan.

Kondisi tertekan juga akan memunculkan penyakit penyertanya seperti tekanan darah tinggi, gula darah, dan lain-lain yang akan memperburuk kondisi penderita. Hal itu sudah terjadi saat Nunun Nurbaeti diperiksa kali pertama oleh penyidik KPK dan harus dilarikan ke rumah sakit karena tekanan darah naik secara mendadak dan pingsan.

Kasus tersebut merupakan kasus yang lama dan sangat menyita perhatian publik yang mendamba keadilan dan muak dengan korupsi. Tetapi, bila kondisi Nunun Nurabaeti benar-benar menderita demensia, tentunya itu akan mempersulit dan memperpanjang pemeriksaan. Ujung-ujungnya pun berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap kridibilitas KPK kepengurusan baru. Apalagi, kasus itu banyak kepentingan yang bermain agar tidak merembet atau menjerat orang-orang yang lebih penting.

Hal lain yang menjadi tantangan KPK ialah membongkar siapa yang melindungi Nunun Nurbaeti dalam pelariannya. Sebab, mustahil seorang penderita demensia bisa bersembunyi di luar negeri seorang diri tanpa bantuan orang lain. Alasannya, penderita demensia akan mengalami gangguan pemahaman ruang dan waktu (visuo-spatial) yang membuat dia gampang tersesat bila bepergian seorang diri. Membongkar mafia koruptor sama pentingnya dengan menangkap koruptor itu sendiri karena keduanya tumbuh bersinergi.

Namun, penulis yakin, KPK kepengurusan baru ini akan bisa mengatasi beberapa permasalahan yang bakal muncul saat mengangani kasus tersebut. Hal itu juga akan menjadi ”ujian awal” pimpinan baru di bawah komandan Abraham Samad. Bukankah Samad berjanji, ”Nunun Nurbaeti hanya pintu masuk untuk mengungkap aktor di belakangnya dan akan menggantung semua koruptor di Indonesia”. Kita tunggu buktinya….

*) Dokter Peserta Program Pendidikan Spesialis Ilmu Penyakit Saraf FK Unair, Surabaya

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s