2012 Saatnya Operator Beralih dari Network Provider ke Platform Provider

Operator telekomunikasi terus berupaya agar bisa mencatat pertumbuhan tinggi tahun depan. Sebab, realisasi tahun ini lebih rendah daripada target awal. Pencapaian tersebut rendah karena sejumlah alasan. Di antaranya, pendapatan dari layanan suara dan pesan singkat turun.

SEKJEN Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia Dian Siswarini mengatakan, tahun ini industri telekomunikasi mencatat pertumbuhan 7-8 persen dari tahun lalu dengan perkiraan omzet Rp 100 triliun. Capaian tersebut lebih rendah daripada target awal sebesar 10-12 persen. Menurut dia, target tersebut meleset karena kondisi pasar tidak sesuai dengan harapan.”Penyebabnya, tingkat penetrasi sudah tinggi, pasar menuju saturasi (kejenuhan, Red), penurunan revenue dari layanan suara lebih cepat daripada yang diperkirakan,” ucap dia kemarin (28/12). Turunnya pendapatan juga terjadi pada konten berupa value added service atau layanan nilai tambah. Seperti diketahui, layanan tersebut dihentikan sejak 18 Oktober 2011 seiring meluasnya kasus penyedotan pulsa.

Dian mengatakan, rendahnya permintaan konsumen terhadap layanan suara dan pesan singkat terlihat dari pendapatan para operator telekomunikasi. Disebutkan, pendapatan suara dan short message service (SMS) kalau digabungkan mengalami penurunan sebesar 5-10 persen. Sementara itu, layanan data menjadi tumpuan karena naik sangat tajam. Dari revenue, terlihat ada lonjakan hampir 50 persen kalau dibandingkan dengan tahun lalu.

Rendahnya pertumbuhan omzet suara dan SMS tersebut juga disebabkan oleh turunnya daya beli konsumen yang dihitung berdasar ARPU (average revenue per user). Yakni, uang yang digunakan untuk membeli layanan dalam periode sebulan. Turunnya ARPU tersebut berdasar perhitungan jumlah pendapatan dibagi total pelanggan. “Ada kecenderungan sedikit turun karena pelanggan baru memiliki daya beli rendah jika dibandingkan dengan pelanggan lama,” ungkap direktur Teknologi Content and New Service XL itu.

Kondisi tersebut didukung oleh jumlah pelanggan pada tahun ini. Tercatat, tahun ini ada tambahan 60 juta pelanggan berdasar jumlah SIM card yang digunakan. Sedangkan pada 2010, jumlah pelanggan sudah menembus 180 juta. Dengan demikian, akhir tahun ini industri telekomunikasi bisa membukukan jumlah pelanggan sekitar 240 juta. ”Sekarang penetrasi pelanggan berdasar SIM card yang terjual sudah seratus persen. Jadi, diperkirakan pada 2012, pertumbuhan pelanggan akan melambat,” ucapnya.

Secara keseluruhan, lanjut Dian, peluang industri telekomunikasi pada 2012 masih terbuka luas. Terutama, pemakaian layanan data akan meningkat pesat. Saat ini tingkat penetrasi pelanggan data dan pemakaian masih rendah. Karena itu, persaingan masih tetap akan ketat, khususnya layanan data. ”Seiring dengan itu, operator akan menyiapkan investasi yang relatif besar. Karena untuk menunjang layanan data, harus ada infrastruktur pendukung berupa jaringan dengan kapasitas besar yang memerlukan biaya tinggi,” tutur dia.

Kendati demikian, tidak mudah untuk menambah infrastruktur. Untuk membangun infrastruktur layanan data, dibutuhkan dana yang tidak sedikit, salah satunya kebutuhan saluran serat optik yang ditanggung operator. Padahal, di beberapa negara lain, saluran serat optik merupakan sarana yang pengembangannya didukung oleh pemerintah. ”Selain itu, ketersediaan alokasi frekuensi yang terbatas sehingga penambahan kapasitas data suatu saat tidak dapat dilakukan lagi,” tegas Dian.

Terpisah, Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno optimistis pasar telekomunikasi tanah air masih menjanjikan. Terutama, populasi penduduk usia muda antara 15-44 tahun cukup tinggi dengan persentase mencapai 49 persen di antara total penduduk sebanyak 240 juta jiwa. Ditambah, pendapatan per kapita menembus USD 3 ribu, sebesar 56,5 persen penduduk mengeluarkan belanja USD 4-5 per hari. ”Usia-usia itulah yang akan banyak berbelanja untuk kebutuhan telekomunikasi,” ungkapnya. Telkomsel pun memiliki kontribusi sebesar Rp 48 triliun di antara total pendapatan rata-rata industri telekomunikasi tiap tahun sebesar Rp 100 triliun.

Tak heran jika investor asing pun menyerbu industri telekomunikasi dalam waktu sepuluh tahun terakhir ini. Sejak 2001 ada empat operator, kini meningkat menjadi sebelas operator. Karena agresivitas operator, mobile penetration di tanah air sudah mencapai 110 persen. Bahkan, lebih tinggi bila dibandingkan dengan Jepang (99 persen), India (80 persen), dan Tiongkok (70). Meski demikian, posisi Indonesia masih di bawah Malaysia, yakni penetrasi SIM card sudah mencapai 133 persen, dan Thailand sebesar 116 persen.

”Sektor telekomunikasi punya peran vital untuk menyinergikan semua sektor bisnis sekaligus mengefisienkan gerak perekonomian,” tambahnya. Diterangkan, telekomunikasi sebagai satu kesatuan dalam industri teknologi informasi dan komunikasi (ICT) memiliki peranan penting dalam pergerakan ekonomi. Setiap sepuluh persen pertumbuhan broadband bisa memicu 1,38 persen pertumbuhan produk domestik bruto (PDB).

Meski demikian, Sarwoto mengungkapkan, ada tiga tantangan besar dalam perusahaan telekomunikasi ke depan. Yang pertama adalah bagaimana meningkatkan ARPU dan revenue. Dalam hal ini, Sarwoto menjelaskan, peran industri telekomunikasi bakal berubah dari network provider ke platform provider. Dikatakan, dengan menjadi platform provider, perusahaan telekomunikasi berupaya berekspansi dengan menyediakan solusi terhadap para pelaku bisnis.

Misalnya, menggandeng dunia bisnis broadcasting, finance, dan industri yang lainnya. Rantai value yang bisa ditawarkan, antara lain, konten, jaringan, dan terminal dalam satu platform. ”Sudah saatnya industri telekomunikasi mengimplementasikan sebuah multi-mode business model dan me-maintenance dominasi industri serta memperkuat distribution footprints-nya,” jelasnya. “Operator juga perlu melakukan optimalisasi cost dan operasional dengan melihat peluang konsolidasi industri,” ujarnya. (res/gal/c10/kim)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s