Pertumbuhan Ekonomi dan Konsumtivisme Kelas Menengah

Oleh Kris Moerwanto

DI tengah kelesuan ekonomi AS dan Eropa, masyarakat Indonesia tetap optimistis memasuki 2012. Maklum saja, para ekonom meyakini, hingga 2030 kelak, Indonesia akan mulai mengalami periode pertumbuhan ekonomi yang luar biasa. Angka produk domestik bruto (PDB) per kapita tahun ini diyakini mencapai USD 3.900.

Itu berarti angka PDB per kapita Indonesia melampaui rata-rata tetangga ASEAN. Potensi kelas menengah Indonesia memang sedang menggeliat. Itu dipicu banyak penyebab. Termasuk makin banyaknya keluarga berpenghasilan ganda. Sebab, kini sudah menjadi kelaziman dalam struktur keluarga muda di berbagai daerah di Indonesia bahwa suami-istri sama-sama bekerja.

Berubahnya sekitar 13 persen status wilayah di berbagai penjuru tanah air -yang tadinya teradministrasi sebagai desa kini menjelma menjadi perkotaan- pun berkontribusi. Demikian pula halnya dengan pemekaran kawasan provinsi dan atau pemisahan menjadi provinsi baru. Yang pasti, itu disebabkan meningkatnya kemampuan dunia usaha dalam memberikan upah yang lebih manusiawi kepada para pekerjanya.

Kelas menengah dalam struktur piramida demografis Indonesia tersebut bertambah rata-rata 7 juta jiwa per tahun selama tujuh tahun terakhir. Jumlahnya, menurut estimasi Bank Dunia, diperkirakan tak kurang dari 130-an juta jiwa pada 2012. Akumulasi itu menjanjikan pertambahan minimum omzet bisnis pasar hampir Rp 47 triliun dalam setahun saja!

Terjadinya pertumbuhan kelas menengah tersebut bermakna meningkatnya daya beli. Efek domino berikutnya: keinginan berbelanja meningkat; kebutuhan ragam pilihan produk yang dibeli pun bertambah; dan selera belanja masyarakat ikut membaik. Kelas menengah itu mudah dikenali karena karakter belanjanya yang berorientasi smart-price dan smart-value.

Bila sebelumnya, mungkin, masyarakat hanya sanggup membeli barang yang harganya serba terjangkau, kini yang mereka apresiasi adalah produk berkualitas pas dengan harga yang pantas. Tak cuma berupa kebutuhan dasar untuk hidup, kini yang ingin dibeli oleh kelompok kelas menengah tersebut adalah produk yang mencitrakan kemapanan dan gaya hidup modern, perawatan pribadi penunjang penampilan, produk kesehatan dan kebugaran, serta susu dan suplemen berkualitas.

Tak kurang dari ekonom AS paling disegani saat ini, Nouriel Roubini, yang digelari Dr Doom karena kekritisan cara pandangnya, pun mengonfirmasi sinyal positif perekonomian Indonesia ke depan. ”Goodbye China, Hello Indonesia!” Begitulah statemen kontroversial pria kelahiran Turki itu saat memberikan ceramah ekonomi bertajuk Global Economic Challenges and Its Impact on Indonesia di Gedung BKPM pada 25 Oktober 2011 silam.

Jadi, bahwa potensi pasar domestik Indonesia amat sangat menggiurkan di mata tetangga sekitar kita, rasanya, semua sepakat dengan kesimpulan itu. Namun, pertanyaannya, apakah konsumen Indonesia mendapat kemanfaatan optimal dari situasi-kondisi tersebut? Atau, dengan bahasa yang lebih lugas, siapa yang kelak paling diuntungkan oleh kondisi itu?

Tokoh pemikir manajemen bisnis Joseph M. Juran pernah mengajukan suatu prinsip menarik. Berdasar penelitian ekonom Italia Vilfredo Pareto yang melakukan kajian pada 1906, diketahui bahwa ternyata 80 persen tanah di Italia dimiliki 20 persen dari total populasi. Prinsip yang kemudian lebih populer disebut Hukum Pareto itu juga menemukan hal menarik lain: jika struktur pendapatan masyarakat diasumsikan nilainya sama rata untuk tiap-tiap orang, maka hanya dalam waktu setahun, keadaan akan kembali ke situasi Pareto. Yakni, mayoritas atau 80 persen populasi tetap menjadi hanya pengonsumsi/pembelanja. Sementara itu, 20 persen sisanya, kalangan pebisnis, para wiraswastawan, dan pedagang – melalui kegiatannya- adalah yang menguasai 80 persen kekayaan seluruh masyarakat tadi.

Belajar dari prinsip tersebut, menjadi tugas kita bersama untuk mengedukasi masyarakat kelas menengah Indonesia secara umum agar bisa menjadi konsumen pintar: yang kritis menentukan pilihan, cerdas menyikapi keadaan, dan bijak membelanjakan uangnya.

Kesadaran itu perlu ditumbuhkan bersama agar potensi luar biasa kelas menengah Indonesia bukan hanya menciptakan gelombang baru konsumtivisme yang tak produktif. Yang akhirnya, menempatkan mayoritas masyarakat kelas menengah sekadar sebagai pasar dan konsumen yang tereksploitasi.

Fakta bahwa jumlah kelas menengah Indonesia adalah terbanyak ke-3 di dunia setelah Tiongkok dan India, ditambah lagi indeks kepercayaan konsumen Indonesia yang 114 adalah yang tertinggi di kawasan Asia-Pasifik -bandingkan dengan Malaysia, Tiongkok, dan Filipina yang masing-masing indeksnya ”hanya” 101, 104,  112- juga bisa bermakna ganda. Sebagai peluang, potensi tersebut berpeluang dimanfaatkan maksimal oleh pelaku industri produk dan jasa serta dunia usaha domestik. Tapi, ibarat bumerang, potensi itu juga bisa memukul balik keberadaan industri dalam negeri sendiri. Yakni, ketika produk impor dari pasar tetangga ASEAN, Tiongkok, dan mungkin India, justru membanjir di sini.

Dibutuhkan kearifan untuk melihat situasi. Spirit baru nasionalisme dan kebanggaan terhadap Indonesia menyusul sukses Timnas Garuda di ajang Piala AFF dan Pra-Piala Dunia 2011 mungkin bisa menjadi modal luar biasa. Jika bisa dikonversi, kebanggaan nasional itu bisa mendorong semangat untuk lebih mencintai, menggunakan, dan mengonsumsi ragam produk buatan negeri sendiri.

Tentu saja, regulator pun harus sigap mengantisipasi situasi dengan peraturan dan ketentuan hukum yang memadai. Pelaku usaha dan kalangan industri juga tak boleh ketinggalan, mesti bersiap diri. Sebab, hanya yang waspada yang bakal menikmati keluarbiasaan potensi. Tapi, yang lengah mungkin hanya bisa gigit jari.

(dimuat di Jawapos, 5 Jan 2012)
*) Kris Moerwanto, Senior Editor Jawa Pos

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s