Naikkan Premium, Konversi ke BBG

KENYAMANAN subsidi BBM selalu melenakan. Penerima subsidi lama-lama merasa seharusnya seperti itulah harga BBM. Niat pemerintah untuk mengubah keadaan karena subsidi APBN kita menimpakan beban berat selalu dibayangi rasa waswas politis. Suasana demokrasi seakan-akan “menyandera” pemerintah agar tidak mengusik subsidi kalau itu berisiko popularitas turun.

Pemerintah memang harus berpihak kepada rakyat. Tetapi, keberpihakan itu tidak harus memanjakan dengan subsidi BBM yang jumlahnya kian irasional. Koran ini (Jawa Pos) kemarin menyebut, APBN 2012 menganggarkannya sebesar Rp 123,6 triliun. Uang raksasa ini tidak jadi soal kalau digunakan untuk menopang industri produktif agar kompetitif. Tetapi, subsidi selalu mengalir ke arah yang salah. Contoh, subsidi premium yang bocor ke mobil pribadi mencapai 53 persen dari semiliar kiloliter. Ini jelas tidak adil. Juga, jelas tidak memihak rakyat.

Sudah saatnya pemerintah mengajak rakyat untuk mengikuti akal sehat. Perekonomian kita yang sedang bagus itu mestinya bisa menjadi momentum memangkas subsidi. Pendapat Direktur Eksekutif Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Prof Ahmad Erani Yustika layak ditimbang. Yakni, naikkan harga premium Rp 1.000 atau Rp 1.500.

Angka itu memang belum mencapai harga pasar yang bisa mencapai Rp 8.000 per liter. Tetapi, dengan kenaikan itu, beban subsidi sedikit terangkat dari APBN kita. Dengan uang triliunan yang dihemat, kita bisa menambah alokasi untuk infrastruktur. Memang, teriakan infrastruktur, infrastruktur, infrastruktur harus terus diulang. Sebab, rakyat yang sedang giat kerja, kerja, kerja bisa terhambat oleh jalan, jembatan, irigasi, kelistrikan, pelabuhan, atau bandara yang tertinggal. Pertumbuhan memang cepat sekali.

Bagaimana pemilik motor? Mereka mungkin sedikit berat dengan kenaikan harga premium. Tetapi, kalau mereka bisa beli sepeda motor antara Rp 10 juta-Rp 25 juta, seharusnya tidak ada masalah beli premium. Naik motor dengan bensin seharga itu tetap menguntungkan daripada naik angkutan umum.

Selain menaikkan harga premium, mempercepat konversi BBM ke bahan bakar gas (BBG) juga perlu dipercepat. Kalau tidak, kapan lagi? Dulu rakyat kecil pernah dipaksa bersakit-sakit mengubah kebiasaan dari memasak dengan minyak tanah ke BBG. Banyak protes sana sini, tetapi toh jalan juga. APBN pun diringankan oleh rakyat kecil yang mau diajak maju.

Seharusnya, kelas menengah, para pemilik mobil pribadi, lebih mudah digerakkan oleh “program akal sehat” ini. Biaya converter kit yang Rp 10 juta per unit jangan menjadi penghambat. Sebab, nanti ketika diproduksi masal, harganya bisa turun. Harga gas juga lebih murah daripada BBM. Kalau tidak mau, toh mereka tetap bisa memakai bensin (tetapi harus nonsubsidi).

Sembari mengampanyekan BBG untuk mobil, pemerintah juga menyiapkan infrastruktur pengisian gas. Para penolak konversi BBM ke BBG untuk mobil selalu mengarahkan kritik kepada belum tersebarluasnya stasiun pengisian BBG. Selain itu, juga dikritik keamanan tabung gas. Ketebalan dan fitur keamanannya bisa dikorup sehingga tabung rawan bocor atau meletup. Faktor keamanan ini layak diyakinkan.

Sudah waktunya para kelas menengah harus berkorban, baik menerima kenaikan premium maupun konversi BBM ke BBG. Jangan hanya orang miskin yang dipaksa berkorban. (Tajuk JawaPos)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s