Kiat Esemka, Realistis atau Euforia

Oleh Yudhi Ariadi

MOBIL buatan siswa SMK (sekolah menengah kejuruan) ini seakan membuat masyarakat Indonesia bangun dari tidur panjang untuk menjadi produsen otomotif. Dengan hanya melihat figur yang mempromosikannya (wali kota Solo) serta sisi eksotis dan gagahnya mobil buatan siswa tersebut, masyarakat pun menaruh harapan. Benarkah Kiat Esemka sebagai jawaban?

Membuat Mobil; Industri, Karoseri, atau Modifikasi?

Proses evolusi metode produksi mobil di dunia awalnya seperti anak-anak SMK itu. Mobil dibuat secara kelompok dengan beranggota orang-orang yang memiliki beberapa keahlian tertentu. Satu mobil, satu kelompok pekerja. Hingga Henry Ford merevolusi pembuatan mobil dengan cara modern, yaitu metode ban berjalan yang ditarik kuda pada 1900-an, seabad lalu.

Teknik yang dilakukan oleh Ford menjadi model produksi masal untuk menjaga kontinuitas produksi. Pekerjaan pembuatan itu dibagi-bagi secara spesifik dan berurutan sehingga setiap bagian hanya mengerjakan jenis pekerjaan yang disederhanakan, sama dan berulang. Metode tersebut tidak hanya menjamin kecepatan, melainkan yang terpenting adalah keseragaman produk untuk menjaga standar kualitas dan keselamatan.

Lain halnya dengan industri karoseri, yang pekerjaannya membangun bodi dan interior mobil di atas kerangka mobil yang sudah bermesin. Pembuatannya dilakukan secara satu per satu berdasar pesanan. Bukan diproduksi, lalu disimpan sebagai stok seperti halnya dengan industri mobil. Sifat pekerjaan karoseri mirip dengan metode sebelum produksi ban berjalan dikenal, yang secara umum dilakukan secara handmade. Persis dengan yang dilakukan oleh siswa-siswa SMK itu. Jadi, hal tersebut sudah dilakukan oleh industri karoseri di Indonesia sejak 1970-an.

Generasi Kedua Negara Produsen Mobil

Generasi kedua produsen mobil, seperti Korea Selatan (Korsel), mengawali dengan memproduksi masal mobil buatan Inggris pada 1968 atau sekitar 40 tahun lalu. Tujuh tahun berselang, Korsel sudah memproduksi mobil sendiri. Padahal, sebelumnya mereka menggaji para ahli otomotif dari Inggris (Austin Morris) dan Italia serta didukung mesin buatan Jepang, Mitsubishi. Sekarang mereka telah menjadi salah satu raksasa otomotif dunia.

Negari jiran juga tidak jauh berbeda. Perusahaan Otomotif Nasional yang disingkat Proton didirikan pada 1983 atau hampir 30 tahun lalu dengan menggandeng industri otomotif Jepang, yaitu Mitsubishi. Lalu, hari ini, variannya sudah berkeliaran di Indonesia. Tidak cukup hanya satu pabrik mobil, pada 1994, kurang dari 20 tahun lalu, Malaysia membuat lagi Perusahaan Otomotif Kedua, yang singkatannya mereka jadikan merek, Perodua. Perodua merangkul Daihatsu sebagai partner.

Sejarah Mobnas Indonesia

Pelaku industri di Indonesia pun tidak berdiam diri, sebenarnya. Walau sedikit terlambat, pada era yang sama dengan Perodua impian mewujudkan mobil nasional (mobnas) itu dimulai, tepatnya sejak ’90-an, dengan mobil Astra oleh perusahaan otomotif terbesar di Indonesia, Astra International. Juga Maleo, rancangan Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) yang kemampuan rekayasa teknologinya sudah tidak diragukan. Masih sekitar tahun yang sama, Grup Bakrie pun diam-diam sudah menghasilkan prototipe kendaraan keluarga yang mereka namai B97 di Inggris.

Kegiatan tiga calon mobnas itu pun pupus termakan arus krisis ekonomi dunia. Sebab, setelah 1997 sebagian engineer mobil Astra yang mengerjakannya di Jepang, para insinyur Maleo di Australia, serta desainer Bakrie di Inggris akhirnya pulang, mengubur impian masing-masing.

Lantas, Timor mengambil jalan pintas lain, yaitu membeli lisensi desain dari Kia Motor dan membubuhkan nama Indonesia untuk mereknya. Sayang, kepemilikan atas lisensi yang seharusnya menjadi lompatan yang baik untuk memiliki mobil sendiri itu tidak dijalankan secara maksimal.

Esemka, Kancil, Gea, dan Tawon

Era kedua mobnas adalah era yang hampir bersamaan dengan proyek Esemka. Ada tiga mobil buatan Indonesia yang justru sudah lulus uji coba dan siap diproduksi. Yaitu, Kancil, Gea, dan Tawon. Tidak seperti pendahulunya, Astra, Maleo, B97, dan Timor, atau Korsel dan Malaysia yang menggandeng para ahli otomotif dari negara yang sudah memproduksi mobil, generasi itu mandiri dalam perancangan mobil tersebut. Juga, memenuhi kaidah umum pengembangan produk, mulai konsep, desain, gambar teknis, hingga prototipe.

Mesin Gea bernama Rusnas, kependekan dari Riset Unggulan Strategis Nasional, hasil riset tujuh tahun dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Konsepnya pun sangat tepat guna. Mesin itu bisa digunakan untuk mesin-mesin pertanian dan perahu serta bisa berbahan bakar gas.

Gea merupakan representasi kerja sama sebuah industri badan usaha milik negara (BUMN) yang mumpuni, yakni PT Inka (Industri Kereta Api), sebagai perancang kendaraan, LIPI sebagai perancang mesin serbaguna, dan kepolisian selaku penerima armada patroli Gea -yang bisa dianggap sebagai tes pakai suatu produk dan dari sana akan didapat masukan sebelum kendaraan itu dilepas untuk dijual.

Untuk Esemka, Sukiyat, si pencetus proyek tersebut sekaligus ahli dalam bidang pembuatan bodi mobil, awalnya mengajak siswa-siswa SMK memodifikasi mobil-mobil tua dengan tujuan mengajari para siswa itu agar mahir dalam reparasi bodi mobil.

Sebagai prakarya, apa yang dilakukan oleh generasi muda siswa SMK tersebut memang luar biasa. Tetapi, di kancah industri otomotif, itu adalah gejala pasang surut yang berulang. Teknologi mereka sudah lama kita kuasai. Selain itu, untuk menjadi sebuah industri, apalagi harus berhadapan dengan ketatnya persaingan dari segi kualitas di tingkat perdagangan internasional, keamanan, dan purnajual, plus segala aturan perdagangan dunia, seperti aturan WTO (World Trade Organization), jalan menuju produksi masal masih sangat panjang.

Hal terpenting lain adalah komitmen pemerintah untuk mampu melindungi dari segala risiko menghadapi tekanan global. Sebab, para pemain multinasional itu tentu tidak tinggal diam ketika kita dengan nasionalisme yang terlihat dari euforia Kiat Esemka tersebut akan mengganggu pasar mereka.

Euforia Esemka dari masyarakat hingga pejabat yang latah mengerumuninya menunjukkan kelemahan kita dalam merespons suatu produk dan memahami suatu industri. Sayang sekali bila produk itu tiba-tiba mencuat hanya karena masyarakat sedang haus atas figur alternatif. Kita menjadi terkesima melihat apresiasinya terhadap produk tersebut bukan karena strategi nasional yang diintegrasikan oleh pengatur negara.

Dimuat di Jawapos, 11 Januari 2012
*) Mantan product engineer and tool designer PT Astra International, pengajar di Politeknik Negeri Jakarta, dan kini peneliti di Loughborough Design School, Loughborough University, UK

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s