Ketika Politik Mengendalikan Sepak Bola

BEGINILAH kehidupan di negeri ketika politik menjadi raja. Dengan kekuasaannya sebagai raja, politik bisa masuk ke berbagai ranah dan aspek kehidupan. Tidak sekadar masuk, melainkan juga memengaruhi dan memanfaatkan aspek kehidupan tersebut.

Politik bisa masuk ke dunia pendidikan yang seharusnya steril dari masalah tersebut. Kita tentu masih ingat bagaimana buku ajar siswa-siswa sekolah disisipi kampanye seorang politikus yang sedang mencalonkan diri sebagai gubernur di sebuah provinsi.

Yang paling mutakhir dan sedang berlangsung adalah pengaruh politik dalam perselisihan di dunia persepakbolaan tanah air. Siapa yang berani menjamin bahwa perselisihan tersebut bersih dari kepentingan politik pihak-pihak tertentu.

Sebenarnya, wajar politik masuk ke berbagai ranah kehidupan. Sebab, pada mulanya, politik memang bermakna positif, yaitu “seni atau ilmu untuk menjalankan pemerintahan”.

Kata politik berakar dari kata bahasa Yunani polis yang berarti kota atau negara. Dari kata itulah, muncul kata metropolis, acropolis, Indianapolis, dan lain-lain yang mengacu pada kota.

Namun, dalam perkembangannya, kata politis mengalami peyoratif. Maknanya yang semula positif menjadi negatif. Politik saat ini lebih dekat maknanya pada kekuasaan. Politik adalah strategi, taktik, dan intrik untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan.

Karena itulah, untuk merebut dan mempertahankan kekuasaan, politisi bisa saja masuk ke berbagai ranah kehidupan untuk selanjutnya memanfaatkannya demi merebut atau mempertahankan kekuasaan. Sepak bola adalah olahraga yang bisa memberikan pengaruh secara masif. Setidaknya, itu terlihat dari banyaknya orang yang menggemari olahraga tersebut.

Fanatisme dalam sepak bola sampai memunculkan hal-hal yang irasional. Lihat saja ulah suporter yang kadang di luar akal sehat demi mendukung kesebelasan kesayangan.

Ketika politisi menyaksikan kekuatan masif dan dahsyat dalam sepak bola, mereka pun berusaha masuk ke dalamnya dan selanjutnya memanfaatkannya. Tujuannya jelas memanfaatkan fanatisme yang sering irasional untuk merebut kekuasaan dan lantas mempertahankannya.

Keterlibatan politik ini bahkan mengabaikan fair play. Di tangan politisi sepak bola beserta pendukungnya yang masif dan fanatis adalah alat untuk merebut kekuasaan. Prestasi sepak bolanya tidak terlalu dipikirkan. Yang penting adalah “prestasi” para politikus yang mengendalikannya.

Yang perlu diingat, namanya saja alat, setiap saat bisa saja dicampakkan. Jika politisi yang memperalat sepak bola merasa alat itu sudah tidak berfungsi, bisa saja dia membuangnya begitu saja.

Atau juga politisi merasa sudah berhasil meraih tujuannya atau kepentingannya sudah terpenuhi, alatnya bisa ditinggalkan begitu saja. Setidaknya diabaikan sementara untuk kemudian dipakai lagi saat dibutuhkan.

Sekarang tinggal bagaimana sikap para insan dan pelaku bidang sepak bola menghadapi kondisi seperti itu. Apakah mereka bersedia ditunggangi politisi? Apakah mereka mau saja diperlakukan sebagai alat yang setiap saat bisa saja dibuang atau setidaknya diabaikan untuk sementara waktu? Seharusnya, mereka steril dari berbagai kepentingan politik. Sebab, politik memang sudah mengalami proses peyoratif yang bermakna negatif. [Tajuk JawaPos]

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s