Awas, Efek Krisis Papua Nugini

AGAK mengherankan juga sebenarnya mengapa baru belakangan pemerintah Papua Nugini (PNG) meributkan dikuntitnya pesawat yang ditumpangi Deputi PM Belden Namah oleh dua jet tempur TNI-AU Sukhoi. Meski keheranan yang sama juga bisa kita tujukan ke Kementerian Luar Negeri: mengapa tidak pernah secara terbuka menjelaskan peristiwa di sekitar wilayah udara Banjarmasin, Kalimantan Selatan, pada akhir November lalu itu?

Kalau memang insiden itu dianggap demikian mengganggu, mengapa Perdana Menteri PNG Peter O’Neill mesti menunggu sebulan lebih untuk menyampaikan protes? Itu pun lewat wawancara dengan sebuah radio Australia, bukan melalui jalur diplomatik resmi. Mengapa tidak langsung memanggil duta besar Indonesia di Port Moresby untuk meminta penjelasan, misalnya?

Karena itu, tidak salah kemudian ada yang menduga, jangan-jangan ini hanya upaya O’Neill mengalihkan perhatian dari krisis politik yang membelit PNG sejak pertengahan tahun lalu. Sebuah krisis yang patut diwaspadai oleh Jakarta karena tidak tertutup kemungkinan efeknya bakal kita rasakan.

PNG, negeri yang berbagi wilayah daratan dengan Provinsi Papua itu, sejak Agustus lalu terbelah. Negara yang merdeka dari Australia pada 1975 itu memiliki dua PM, dua gubernur jenderal, dan juga dua kabinet.

Penunjukan O’Neill sebagai PM oleh parlemen pada Agustus 2010 sebagai pengganti Sir Michael Somare yang sakit ternyata dibatalkan Mahkamah Agung setempat bulan lalu. Somare yang berusaha kembali berkuasa di negeri penganut sistem pemerintahan parlementer itu tetap tidak diakui parlemen.

Pemicunya adalah kongsi ekonomi. O’Neill yang pro perusahaan minyak asal Amerika Serikat, ExxonMobil, otomatis didukung negeri adidaya tersebut. Sedangkan Somare dekat dengan Tiongkok karena telah mengizinkan raksasa tambang asal Negeri Panda itu, Metallurgical Corporation of China, beroperasi.

Konflik itu mirip dengan yang tersaji di film Syriana (2005) yang berlatar belakang sebuah negara di Teluk Persia yang kaya minyak. Diceritakan dalam film garapan sutradara Stephen Gaghan tersebut, dua pangeran kakak-adik yang bersaing menjadi pengganti sang bapak, Nasir dan Meshal, juga berseteru karena berbeda kiblat dalam penjualan minyak. Nasir memilih Tiongkok, Meshal pro-AS.

Kita tidak tahu apakah O’Neill yang pro-AS akan keluar sebagai pemenang dalam krisis politik di PNG, seperti juga Meshal di Syriana ketika CIA akhirnya memilih melenyapkan Nasir melalui misil jarak jauh. Tetapi, yang pasti, dua kubu yang bersitegang akan melakukan segala cara untuk mengail simpati publik.

Salah satunya memainkan isu yang sejatinya tidak signifikan, tetapi berpotensi menarik perhatian dengan bungkusan nasionalisme. Insiden udara di atas Banjarmasin tersebut contohnya.

Padahal, seperti dijelaskan Mabes TNI, justru pesawat deputi PM PNG-lah yang sesungguhnya melanggar prosedur karena tidak melengkapi clearance untuk memasuki wilayah udara kita. Tetapi, di tangan politikus yang sedang butuh dukungan seperti O’Neill, jadilah muncul klaim bombastis seperti “hampir menabrak” atau “ancaman pengusiran dubes”.

Indonesia perlu waspada karena sebagai satu-satunya jiran yang berbatasan darat, potensial untuk dijadikan amunisi oleh mereka yang bersitegang di PNG, seperti juga para politikus kita kerap menggoreng isu Malaysia. Apalagi bara konflik di Papua yang berbatasan langsung dengan PNG tidak kunjung padam.

Tetapi, tentu emosi tidak perlu terpancing meski transparansi juga harus dikedepankan. Jangan menunggu protes, baru bereaksi. Jelaskan kepada publik kalau memang ada yang melanggar kedaulatan kita. Yang terpenting, jangan ragu untuk menindak, siapa pun dia. (Tajuk JawaPos)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s