Juanda Menghadapi ASEAN Open Sky

Oleh A. Eliyeda Umat

PERGERAKAN penumpang dalam tiga tahun terakhir pada Bandara Internasional Juanda, Surabaya, menunjukkan tren peningkatan signifikan. Rata-rata sekitar 18 persen hingga 20 persen per tahun. Juanda masih runner-up bandara tersibuk setelah Soekarno-Hatta (Soetta). Data 2011 menyebut realisasi penumpang menembus 13 juta penumpang, padahal kapasitasnya sekitar 6 juta penumpang. Artinya, kapasitas mampu melayani kurang setengahnya dari permintaan! Paradoks.

Bandara ini merupakan bagian dari Pangkalan Utama TNI-AL. Jadi sebenarnya merupakan kolaborasi antara bandara militer yang juga melayani penerbangan sipil. Seiring melonjaknya permintaan (penumpang, kargo, dan pesawat), pengelola bermitra dengan Incheon Airport (Korsel) untuk pembenahan, penataan, dan manajemen bandara. Revitalisasi disertai pengaturan tata letak (layout) lebih optimal tanpa mengurangi pelayanan sehingga konsumen (penumpang) menjadi nyaman, aman, serta humanis.

Pola pergerakan penumpang ditengarai mengalami kejenuhan paling lama 12 tahun berikutnya. Tahun 2024 diperkirakan mencapai klimaksnya, stagnan dan jenuh! Kondisi itu juga kini dialami oleh Bandara Soetta. Pemerintah Provinsi Jatim serta pengelola sudah saatnya memikirkan dan merancang desain induk relokasi bandara, agar kapasitasnya 50 juta hingga 65 juta penumpang per tahun. Hampir lima kali lipat kapasitas saat ini. Idealnya, bandara baru mampu bertahan minimal lima puluh tahun ke depan.

Penataan memang merupakan alternatif solusi untuk mengantisipasi ledakan penumpang (peak season). Meski secara konseptual bagus, karena kondisi darurat, untuk jangka panjang itu bukanlah pilihan terbaik! Pengembangan adalah target jangka pendek, ibarat kurva Cartesian, semakin dibenahi cenderung membuat bandara jenuh! Ini berpengaruh pada kelayakan dan kelaikan bandara. Inilah yang mengakibatkan pertumbuhan melambat.

Jatim berada pada urutan kedua dalam perekonomian nasional. Karena itu, menginvestasikan sekitar Rp 25 triliun hingga Rp 30 triliun selama sepuluh tahun untuk infrastruktur bandara baru bukanlah hal yang menyulitkan. Dibutuhkan kemauan politik! Daerah ini sanggup menghadirkan bandara sipil pertama dalam sejarah yang berasal dari anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) murni. Mindset relokasi bandara ini visioner, lompatan jauh ke depan, sehingga momentum pertumbuhan bisa terjaga. Apalagi gerbang mobilisasi bagi Kawasan Timur Indonesia (KTI) ini sangat cepat dan dinamis, mengikuti pertumbuhan ekonomi dan penduduk.

Indonesia membuka ruang udara (open sky) pada 2015 bagi penerbangan sipil, sesuai dengan kesepakatan ASEAN. Sejak itu, industri jasa penerbangan dalam negeri menuju pada kapitalisasi liberal dalam persaingan bandara. Bandara Juanda seharusnya sanggup bersaing sebagai bagian dari petarung sejati untuk melayani penerbangan dari dan ke mancanegara. Jika tidak, momentum langit terbuka jelas merugikan Indonesia.

Kita punya pengalaman pahit ketika terjadi kesepakatan perdagangan bebas (AFTA/AC-FTA). Indonesia terlambat mengantisipasi sehingga keteteran bersaing dengan produk luar. Pertarungan udara 2015 mirip perdagangan bebas! Bilamana infrastrukstur dan pelayanan tidak bersinergi, Juanda bisa menjadi bandara alternatif (bagi maskapai asing), bukan destinasi utama. Bandara internasional negara tetangga ternyata jauh lebih siap untuk bertarung pada 2015 ketimbang kita. Strateginya, lakukan dan optimalisasi pelayanan jangka pendek. Selanjutnya, fokus antisipasi jangka panjang!

Jatim berkontribusi signifikan dalam pertumbuhan nasional. Data 2000 hingga tahun 2011 pendapatan kotor rata-rata (PDRB ) bertengger pada angka 7,12 persen, padahal rata-rata nasional hanya berkisar 6,6 persen. Bandara Juanda merupakan salah satu pilar pertumbuhan itu. Jangan sampai gerbang utama rapuh dan sesak. Sanggupkah Juanda menjadi petarung sejati? (dimuat di JawaPos 13/01/2012)

*) Eliyeda Umat, praktisi dan perencana desain bandara internasional, bermukim di Jogjakarta

2 Komentar

Filed under jatim

2 responses to “Juanda Menghadapi ASEAN Open Sky

  1. albertus

    exellences!

  2. albertus

    ditunggu tulisan artkel berikutnya,thx.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s