Mewaspadai Ekonomi Konsumsi

Oleh Candra Fajri Ananda

DI tengah badai krisis keuangan global, Indonesia telah menuai setidaknya tiga prestasi ekonomi yang cukup gemilang pada 2011. Pertama, Indonesia kembali mendapatkan predikat “investment grade level“. Kedua, pendapatan perkapita yang telah mencapai USD 3.000 dan ketiga, capaian pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sebesar 6,5 persen (triwulan III-2011).

Meski demikian, kita tidak bisa terus berbangga diri. Struktur ekonomi kita yang lebih didominasi oleh sisi konsumsi akan sangat rentan terhadap goncangan dari luar (external shock). Bahkan, efek yang lebih parah akan dapat terjadi apabila kondisi ekonomi domestik tidak siap menghadapinya.

Konsumsi v Produksi

Di tahun 2011, tercatat bahwa sisi konsumsi adalah kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional. Hampir separuh (58 persen kuartal II-2011) sumbangan PDB dikontribusikan oleh konsumsi rumah tangga (BPS, 2011). Kondisi di akhir 2011, tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Konsumsi rumah tangga masih mendominasi sumbangan terhadap pertumbuhan.

Kondisi ini sebenarnya belum ideal untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi pengangguran. Apabila masyarakat membelanjakan pendapatannya untuk barang konsumtif tanpa ada yang diinvestasikan, maka nilai tambah untuk perekonomian akan tidak ada nilainya. Berbeda apabila suatu masyarakat menggunakan pendapatannya untuk belanja barang produktif, tentu akan semakin menambah aktivitas ekonomi, mempercepat pertumbuhan, dan dapat menekan penggangguran.

Kondisi Indonesia berbeda dengan di Tiongkok yang booming pertumbuhan ekonominya dalam satu dekade terakhir. Hampir separuh dari PDB di Tiongkok digunakan untuk pembiayaan investasi yang mempercepat mesin ekonomi. Namun dalam tiga tahun terakhir, ekonomi Tiongkok menurun terimbas krisis global. Selain itu dari sisi internal, mesin ekonomi Tiongkok sudah terlalu panas (overheating), hal ini dapat dilihat dari angka inflasi yang meningkat. Solusinya, pemerintah Tiongkok mendorong kontribusi sisi konsumsi menjadi lebih tinggi (inward looking), karena ekspor sudah terganggu.

Sementara itu, konsumsi yang tinggi di Indonesia memang wajar terjadi. Penduduk yang jumlahnya lebih dari 240 juta jiwa ini merupakan pasar bagi perusahaan domestik maupun asing. Hal ini yang sekarang dimanfaatkan oleh perusahaan asing, di antaranya, asal Malaysia dan Vietnam untuk melakukan penetrasi terhadap pangsa pasar di Indonesia. Akhir 2011, impor kita terhadap produk makanan yang berasal dari kedua negara tersebut sangatlah besar, yakni naik hampir 400 persen. Ini merupakan tantangan riil yang harus kita hadapi di tahun 2012, karena hampir separuh lebih sektor industri pengolahan kita adalah industri makanan dan minuman.

Jatim: Mendongkrak Industri

Struktur perekonomian nasional saat ini, disadari atau tidak, hampir sama dengan struktur perekonomian Jawa Timur. Sebagai provinsi penyangga Indonesia Bagian Timur, kinerja perekonomian Jawa Timur berpengaruh signifikan untuk perekonomian daerah-daerah di wilayah Timur. Sektor konsumsi rumah tangga yang mendominasi pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mencapai 7,2 persen di 2011, merupakan mesin pertumbuhan. Untuk itu, pemenuhan konsumsi rumah tangga tersebut seharusnya bisa dipenuhi oleh produk-produk dalam negeri dari Jawa Timur, baik industri besar maupun kecil.

Karena itu, perlu dilakukan diagnosa permasalahan industri, agar kinerja sektor industri semakin baik dan dapat bersaing dengan asing. Setidaknya ada tiga hal utama yang perlu diperhatikan.

Pertama, penyediaan infrastruktur yang memadai. Sebagai faktor penting dalam penyokong pengembangan perekonomian infrastruktur kita mengalami “kemandekan” bahkan dikatakan mengalami “defisit infrastruktur” yang bermakna bertambahnya kegiatan ekonomi lebih besar dari bertambahnya infrastruktur (misalnya panjang jalan yang relatif tidak bertambah dalam 7 tahun terakhir).

Kedua, dukungan pemerintah yang masih minim. Dukungan pemerintah dapat diwujudkan dengan aturan-aturan yang melindungi atau pun mendorong industri untuk lebih maju. Misal, industri masih belum diuntungkan dari tingginya suku bunga kredit perbankan. Padahal dari BI sendiri sudah menetapkan tingkat suku bunga acuannya tetap 6 persen. Untuk itu, pemerintah perlu memberikan kebijakan yang lebih tepat sasaran guna memastikan industri dapat tumbuh secara sehat.

Ketiga, struktur pasar domestik yang masih di dominasi kekuatan ekonomi tertentu, kecenderungannya lebih ke monopoli dan oligopoli. Tidak efisiennya pasar ini, menjadikan rangsangan untuk pengembangan industri semakin rendah.

Untuk itu, pemerintah memiliki beberapa pekerjaan rumah yang cukup rumit terkait dengan pengembangan infrastruktur, menurunkan tingkat bunga, serta memberikan kesempatan yang lebih besar bagi para pelaku ekonomi baru untuk masuk dan bersaing secara sehat.

Konsumsi yang terlalu mendominasi perekonomian tidaklah bagus dalam jangka panjang (unsustainable growth). Pertumbuhan yang semacam itu tidak mampu merangsang dan mendorong pencipataan lapangan kerja baru, tidak bisa berlangsung lama dan rentan terhadap goncangan dari luar maupun dalam. Penguatan sektor industri perlu juga didukung oleh gerakan yang berupa rangsangan bagi penduduk untuk “terus mencintai dan bangga” akan produk dalam negeri. Melalui penguatan ekonomi dalam negeri ini, yakinlah prestasi ekonomi 2012, akan lebih mentereng.

Hayo, mari kita kerja, kerja, dan kerja.(*)

*)Guru besar dan ketua Program Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang (email: cfajri[at]ub.ac.id)
[dimuat di JawaPos, 14/01/2012]

1 Komentar

Filed under Ekonomi, Indonesia

One response to “Mewaspadai Ekonomi Konsumsi

  1. Dukungan pemerintah ini dirasa memberatkan daripada menolong pelaku usaha, masih ada saja pungli di sana sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s