Mengembalikan Kemesraan pada RSBI

Oleh: Jidi*

TERASA baru kemarin sore orang tua berbondong-bondong berebut RSBI. Sekolah-sekolah reguler berburu status internasional itu. Tidak hanya sekolah negeri tetapi juga sekolah swasta. Biaya besar RSBI terpikir nomor dua. Bahkan tidak sedikit yang dengan terang-terangan mendaulat RSBI sebagai simbol kehebatan pendidikan di daerah sekaligus tunggangan sukses dalam pilkada.

Sejak awal, sebenarnya kritik terhadap RSBI tak pernah sepi. Namun, banyak kritik yang tidak berdaya. Pada Jawa Pos, 24 Mei 2007, saya menulis artikel berjudul Sekolah Internasional, Prestasi atau Prestise? Cukup banyak tanggapan lewat SMS dan email saat itu. Ada yang berpandangan sama, tetapi lebih banyak yang berbeda. Ada pula yang sengit dan agak kaku, pokoknya RSBI!

Sekarang kondisinya berbeda, banyak pihak angkat bicara dan berbalik mengritik RSBI. Terhadap RSBI tidak banyak yang membela. Kalau pun ada, pelit sekali pengakuan terhadap kebaikan RSBI. Alangkah cepatnya kemesraan terhadap RSBI itu berlalu.

Yang bersikeras menghentikan program RSBI beragam alasannya, mulai dari RSBI yang tak jelas konsepnya, elitis, memperdalam jurang kesenjangan antara siswa kaya dan siswa miskin, sekadar membahasainggriskan matematika dan sains. Sebagian lagi mencibir RSBI sebagai sekolah dengan biaya bertaraf internasional padahal kualitasnya biasa. Tidak sedikit pula yang mengidentikkan RSBI baru sebatas komputerisasi, AC-nisasi, dan sebagainya.

Meski secara konseptual dicap awang-awang (Jawa Pos, 5/12/2011), bila masih ada optimisme, pembubaran RSBI terasa kurang bijaksana. Mirip pendapat Mendikbud, intinya pembubaran RSBI sama saja dengan memulai pekerjaan besar dari titik nol. Jangan ada tradisi ganti pejabat ganti kebijakan, kurang terjaga prinsip kesinambungan program pendidikan. Kalau pun kurikulum berganti-ganti misalnya, semangatnya adalah untuk memenuhi tuntutan zaman, bukan penyusupan ambisi politik atau sekadar pencitraan. Akan terjadi pemborosan jika hasil yang tidak optimal sebuah program dihentikan begitu saja. Yang akan mengemuka justru nuansa proyek.

Arif rasanya jika tetap ada apresiasi terhadap goodwill pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Apalagi kebijakan RSBI merupakan amanah undang-undang sisdiknas, khususnya pasal 50 ayat 3 UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, “Pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan, menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional”.

Selayaknya jika pemerintah sebagai pemegang power penyelenggaraan pendidikan juga terus berupaya meminimalisasi risiko kesalahan dalam membuat kebijakan. Namun, ada prinsip, meski dinilai salah, berbuat atas dasar kemauan baik (goodwill) masih lebih baik daripada tidak berbuat apa-apa. Pemerintah sebagai pemegang tunggal regulasi pendidikan nasional sudah sewajarnya bila terus mengintervensi pendidikan. Pendidikan harus menjadi investasi besar dan jangka panjang bangsa.

Meskipun demikian, perlu evaluasi pula jika standar yang digunakan masih hantam kromo dan cenderung menyamaratakan serta kurang akomodatif terhadap disparitas mutu pendidikan, mulai dari sekolah pinggiran sampai dengan sekolah kota, dari Sabang sampai Merauke. Jika standarnya tetap disamaratakan, bisa terjadi kepincangan dalam percepatan kualitas pendidikan. Sekolah maju yang seharusnya lebih cepat maju akan merasa tergandoli oleh sekolah pinggiran. Sementara sekolah pinggiran bisa mabuk berat jika terlalu dipaksa melaju cepat menyamai sekolah-sekolah lainnya.

Perlu evaluasi juga terhadap rencana penyunatan dana RSBI. Sebab, dengan penyunatan itu ada resiko tambahan kerusakan pendidikan. RSBI yang sudah berjalan ibarat bangunan yang belum jadi, jika tiba-tiba dipangkas dananya, sementara bangunan itu harus tetap diselesaikan, akan seperti apa jadinya. Masalahnya dengan penyunatan dana RSBI dari negara, para pengelola di tingkat institusi pendidikan harus berimprovisasi berat, termasuk dengan menyunat pula di sana-sini dana program, sementara tuntutan masyarakat pendidikan harus bermutu dengan biaya murah, bahkan gratisan. Layak diapresiasi langkah Surabaya, misalnya, yang berani menyatakan RSBI jalan terus dan dengan cepat mengantisipasi dananya.

Atas kritik hebat terhadap RSBI, terlalu rumit jika harus mengamandemen UU Sikdiknas Masihkah kurang dipercaya bahwa banyak undang-undang di negeri ini sudah amat baik isinya. Masalahnya justru undang-undang yang sudah ideal itu kurang terimbangi dengan peningkatan kecerdasan, moralitas, dan integritas pelaksanaanya. Kebijakan-kebijakan tidak selalu menampakkan sinerginya. Ibarat pagi diumumkan, sore hari sebuah kebijakan sudah dilindas dengan kebijakan lainnya. Kurang terukur progress-nya. Akibatnya banyak pekerjaan yang harus dimulai dari titik nol? Padahal, seharusnya tidak.

*) Pendidik di Al Falah Surabaya
Dimuat di JawaPos, 16/01/2012

2 Komentar

Filed under Pendidikan

2 responses to “Mengembalikan Kemesraan pada RSBI

  1. kilat

    betul juga ya

  2. Setuju banget, mnurut saya… tidak ada salahnya RSBI sbgai skolah dengan bhs pengantar bahasa asing menjadi suatu pilihan.. mengapa hal-hal yang baik harus di bubarkan?? knapa? seharusnya kita mendukung program RSBI agar pendi2kn di Indonesia menjadi semakin bermutu bukan mengalami kemunduran… terbukti loh, siswa-siswi RSBI telah sukses dan nilainya dapat bersaing ta hanya lingkup nasional dengan standar 5,50. tapi juga malysia dan singapura…. masak kita tetap diam dan tidak melakukan revolusi dalam dunia pndi2kn kita? ingt, penguasaan bahasa merupakan salah satu cara untuk menjadi orang sukses…. jika anda menguasai bahasa, maka anda siap menjadi org sukses

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s