Repair Economy

Oleh : Rhenaldkasali

Di Jalan Cikini Raya, Jakarta, ada sebuah toko kecil yang tetap eksis lebih dari seratus tahun. Menurut penerusnya, toko itu didirikan pada 1898 dengan nama De Spin. Namun, setelah kemerdekaan, ia lebih dikenal dengan nama Toko Laba-Laba. Bisnis toko itu berbeda dari Depo Bangunan yang setiap akhir pekan dikunjungi 3.000-4.000 orang untuk mengganti atau membuat bangunan baru (replace). Bisnis Toko Laba-Laba adalah bisnis memperbaiki (repair) dan wajar bila pengunjungnya hanya beberapa orang setiap saat.

Dulu, ketika di Jakarta masih banyak orang miskin, pengunjung Toko Laba-Laba ramai sekali. Orang datang untuk memperbaiki tas, sepatu, dan barang-barang berharga lainnya. Apalagi kalau suatu barang mengandung nilai historis, sayang dibuang. Barang-barang berharga yang enak dipakai juga akan dipertahankan si pemilik. Setiap kali melewati Toko Laba-Laba, tentu saja hati saya bergetar karena dulu saya sering memperbaiki barang-barang pemberian.

Pengunjungnya mungkin saja saat ini tidak berkurang, tetapi rasanya zaman sekarang ia semakin kurang diminati bila dibandingkan dengan toko-toko yang menjual barang-barang baru. Masalahnya, barang-barang sekarang bukan cepat rusak, tetapi cepat usang. Banyak orang punya ponsel yang masih bisa dipakai, tetapi sudah diganti. Sama dengan kacamata dan jam tangan. Semakin kaya, manusia semakin ingin beralih dari fungsi (enak, layak) menjadi rasa dan kesan (bangga, gengsi, dan citra)

Replace Economy

Begitulah hukum ekonomi. Semakin banyak orang kaya baru, ada tendensi manusia enggan memperbaiki. Beberapa tahun yang lalu, masih banyak ditemui anak-anak muda membangun bisnis reparasi, khususnya reparasi telepon dan komputer. Dua puluh tahun yang lalu, yang ramai adalah reparasi kulkas dan TV. Kini bisnis reparasi semakin ditinggalkan, semakin minggir ke daerah-daerah terpencil, menemani kemiskinan.

Di beberapa daerah masih ditemui satu dua bisnis permak celana jins, namun di pusat keramaian Jakarta sudah semakin jarang ditemui. Semakin kaya, manusia bisa semakin materialistis dan maunya serbaganti. Seorang teman yang memiliki bisnis perabotan rumah tangga yang laris menyatakan, konsumen Indonesia saat ini memang hebat. Maksudnya, suka membeli barang baru kendati kebutuhannya belum sampai di situ.

Jadi, konsumen kita cenderung pembelanja yang aktif, senang mengganti ketimbang memperbaiki. Bahkan, sekarang lebih mudah menjual apartemen baru daripada rumah-rumah lama di permukiman-permukiman. Rata-rata rumah di BSD, yang mulai ditinggalkan pemiliknya pindah ke daerah perkotaan, membutuhkan 2-3 tahun untuk bisa laku terjual kembali. Itu pun harus gonta-ganti agen. Sedangkan rata-rata apartemen di tengah kota hanya butuh 2-3 bulan untuk terima uang.

Maka, jangan heran kalau wakil rakyat juga ingin segala sesuatu yang serbabaru. Mobil baru saja tak cukup. Mereka pun ingin gedung baru. Setelah gagal, mereka kini membuat WC baru, ukurannya tak seberapa, namun harganya luar biasa, Rp 2 miliar. Salah seorang wakil ketua DPR mengatakan, WC yang lama sudah bau pesing. Orang-orang yang mengerti bangunan mengatakan, “Kalau bau saja betulinnya gampang. Repa­ir saja.” Tetapi, sekretariat DPR yang pegang duit lebih senang menggantinya dengan yang baru.

Sementara di sini sedang berkelebihan, di Eropa penduduknya sedang menggigil. Bila Fitch Ratings baru saja menjadikan Indonesia sebagai investment grade, lembaga-lembaga rating internasional justru tengah men-down grade dunia keuangan Eropa. Standard & Poor, misalnya, pekan lalu menurunkan rating Prancis dan Austria dari AAA menjadi AA+, Spanyol dari AA- menjadi A, Malta dari A menjadi A-, Itali dari A menjadi BB+ dan Portugal dari BBB- menjadi BB.

Nah, di negara-negara itulah bisnis repair justru hidup. Beberapa berita yang saya terima dari Eropa dan Amerika Serikat, antara lain, menyebutkan The Repair Economy Begins to Emerge!. Mereka mulai banting setir, mengurangi konsumsi belanja baru, memperpanjang usia pemakaian suatu produk, mendaur ulang yang sudah ada, dan melakukan downshifting, beralih pada produk-produk yang lebih murah. Ini peluang buat ekspor kita, bukan?

Ekonomi Hemat

Saya sendiri tak terlalu percaya dengan pepatah zaman susah: Hemat pangkal kaya! Sebab, orang yang hemat-hemat biasanya jadi pelit, apa-apa maunya dihemat, sampai-sampai orang lain dibuat miskin dan susah. Dulu saya sering sekali bertemu orang-orang tua yang kaya raya, namun pakaiannya lusuh, makannya hanya bubur encer dan rumahnya jelek. Tetapi, di bank uangnya banyak sekali. Saat terima warisan, anak-anak mereka yang jadi teman saya justru berbeda sekali. Mereka justru ingin hidup enak.

Tetapi, apa pun perilaku Anda, dunia pun sedang menuju ekonomi hemat. Lihat saja komputer yang kita pakai, semakin hari semakin kecil dan hemat energi. Lampu-lampu dan mobil-mobil baru juga mulai hemat energi. Dunia mulai mengenal istilah 3R (reduce, reuse, recycle). Maka, menurut hemat saya, kita juga harus terus menghidupkan bisnis repair, asalkan yang di-repair itu juga tahu diri. Jangan seperti mobil-mobil buatan Eropa, yang maaf, lebih baik ganti baru daripada setiap kali servis atau repair habis puluhan juta rupiah. Repair-nya pun tak henti-henti.

Supaya bisa bertahan, bisnis seperti ini harus bertransformasi. Buatlah lebih terjangkau, lebih cepat, dan berikan sentuhan keunikan-keunikan. Jangan mentang-mentang bisnisnya hanya perbaikan, petugasnya lusuh dan lampunya gelap. Namun, Anda juga harus realistis, banyak orang yang tidak lagi membeli fungsi, melainkan membeli fashion. Kalau itu fashion, apa boleh buat. Mereka pasti ingin replace, not repair!

*) Guru besar FE Universitas Indonesia, pakar bisnis dan strategi
dimuat di JawaPos 16/01/2012

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s