Waspada Krisis Eropa Tak Bisa Lagi Ditunda

PEREKONOMIAN Eropa mengawali 2012 dengan buruk. Jangankan memunculkan “cahaya di ujung terowongan krisis”, yang datang pada tahun baru justru petaka baru, yakni pemangkasan peringkat utang sembilan Uni Eropa oleh Standard & Poor’s akhir pekan lalu. Lembaga pemeringkat internasional itu kini hanya menyisakan Jerman dari zona euro yang masih memegang grade tertinggi AAA stabil.

Prancis -yang selama ini bersama Jerman memimpin upaya mencari solusi- kehilangan peringat tertingginya. Bersama Austria, peringkat utang Prancis turun satu level menjadi AA+ dari AAA. Dua negara itu menghadapi risiko penurunan lebih lanjut. Sementara itu, Finlandia, Belanda dan Luksemburg mempertahankan rating AAA dengan negative watch.

Semakin kompleksnya krisis di zona euro membuat perekonomian Indonesia semakin waspada. Dalam jangka pendek, terpuruknya peringkat utang itu membuat perbankan Eropa menarik pinjamannya di pasar kredit global. Akibatnya, likuiditas dolar dan euro mengetat. Dampaknya pun terasa di perbankan Asia, yang menerima sekitar 30 persen pendanaan valas dari perbankan Eropa.

Perbankan Indonesia juga tak bisa lepas dari imbas itu. Saat ini brankas bank-bank besar kekurangan likuiditas valas yang diperlukan sektor korporasi untuk kegiatan investasi (mengimpor barang modal dan bahan baku). Mengeringnya likuiditas euro dan dolar di perbankan Asia menekan mata uang Asia, termasuk rupiah yang melemah ke kisaran 9.200 per USD dari 8.500 pada pertengahan 2011.

Sampai sebulan ke depan, jika krisis Eropa tidak memburuk, perekonomian masih aman. Bank Indonesia (BI) memiliki cadangan devisa yang cukup, yakni USD 110 miliar pada akhir 2011, untuk menghambat depresiasi rupiah, walau tergerus dari USD 124,6 miliar pada Agustus 2011.

Yang perlu terus mendapat prioritas adalah keterkaitan krisis di Eropa dengan sektor riil, khususnya kegiatan ekspor dan impor. Zona euro merupakan pasar tujuan ekspor Indonesia yang utama dengan share sekitar 10 persen. Dari waktu ke waktu, share dari zona euro berkurang. Itu menunjukkan bahwa akan ada imbas krisis zona euro terhadap ekspor Indonesia.

Untuk itu, selain sibuk mengurangi subsidi yang menekan perekonomian domestik dengan pembatasan BBM, pemerintah harus lebih sigap mengantisipasi krisis zona euro. Beberapa cara dapat dilakukan. Salah satu yang selalu digembar-gemborkan adalah meningkatkan keunggulan domestik. Prioritas itu sangat tepat karena perekonomian Indonesia ditopang cukup banyak sektor non-tradable dan didukung pasar domestik yang besar.

Dengan asumsi krisis Eropa akan meluas, sehingga pasar ekspor semakin tidak bisa diandalkan, sudah saatnya menggenjot ekonomi domestik bukan sekadar retorika. Harus ada upaya nyata untuk mempercepat pembangunan interkonektivitas antarpulau. Itu upaya konkret untuk membabat high cost economy dan memompa pasar domestik.

Yang juga tidak kalah penting, meningkatkan antisipasi terhadap dampak tidak langsung krisis Eropa yang berupa peningkatan impor. Negara lain, yang pasar ekspornya ke AS dan Eropa menyusut, juga mencari pasar baru. Indonesia, dengan performa ekonomi yang bagus dan penduduk usia muda yang membesar, adalah target alternatif semua negara produsen global.
(Tajuk JawaPos)

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s