Ancaman Perang sang Nobelis Perdamaian

KALAU Amerika Serikat sudah berkehendak menghancurkan Iran, siapa yang bisa mencegah nafsunya? Presiden Barack Obama, sang penerima Nobel Perdamaian, sudah mengatakan akan memerintah pasukan AS menyerang Iran. Yakni, apabila sanksi ekonomi dan politik baru gagal menundukkan negeri Persia itu.

Rasanya sulit membayangkan Iran yang penuh harga diri itu akan tunduk. Iran selalu menyatakan punya hak yang sama untuk mengembangkan nuklir. Apalagi Iran menegaskan nuklirnya untuk tujuan damai. Pernyataan yang disuarakan lantang oleh Teheran ini dianggap sebagai pembangkangan.

Iran pun makin panas. Apalagi pakar nuklirnya yang kelima tewas dalam teror bom. Teheran menuduh AS dan Israel di balik tindakan pengecut itu. Negeri yang dipimpin Ahmadinejad tersebut juga mengancam menutup Selat Hormuz. Selat ini menjadi pintu laut satu-satunya bagi negara-negara kaya minyak, yakni Iraq, Qatar, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Semua sekutu AS.

Klimaks dari jalan cerita ini seperti sudah dituliskan. Apa pun, Iran akan dianggap salah. Amerika dengan mengajak sekutunya akan menyerang Iran. Tiongkok dan Rusia, meski menentang, tidak akan mau pasang badan, seperti saat AS dan sekutunya menghajar Iraq.

Amerika akan meluluhlantakkan Iran dan meninggalkannya karena untuk mendudukinya sangat sulit. Tidak ada oposisi yang bisa dijadikan boneka di Iran. Lagi pula, AS baru saja “menyelesaikan” perang yang mahal dengan Iraq. AS juga masih harus terus mengeluarkan ongkos untuk memastikan Afghanistan tidak kembali ke tangan Taliban. AS tidak punya stamina keuangan yang panjang dalam mencengkeram Iran karena negeri pemilik senjata nuklir terbanyak ini sedang krisis ekonomi. Tetapi, demi ambisi mengembalikan Teheran ke kemunduran peradaban (dan juga komoditas menjelang pemilu presiden AS tahun ini), agresi itu akan dilancarkan.

Kalau Perang Teluk itu terjadi, Indonesia tentu akan kena dampaknya. Perekonomian kita yang bagus bisa goyah. Apalagi lokasi perang ini selalu di jalur pasokan minyak dan jalur penting ekspor-impor komoditas. Maka, Indonesia harus siap-siap imbas ekonomi dan stabilitas. Toh, republik kita tidak bisa diharapkan punya suara cukup lantang berkata “tidak” kepada nafsu perang AS itu?

Ekspor kita jelas akan terganggu. Terutama yang ke Timur Tengah dan Eropa. Ini menjadi faktor penghambat ekspor yang selama ini sudah goyah karena krisis Eropa dan Amerika. Untuk mengharapkan pasar Asia Timur, kondisinya juga kian ketat. Apalagi Tiongkok sedang memperkuat konsumsi dalam negeri karena perekonomiannya yang memanas. Jepang juga masih lesu terimbas krisis.

Kita tidak bisa mengendalikan harga minyak yang mungkin akan melonjak-lonjak. Tetapi, untuk komoditas lain, kita bisa berpaling kepada kekuatan dalam negeri. Untuk menjaga pertumbuhan yang nyaris 7 persen, kita harus tetap menggenjot kekuatan sendiri. Kalau tahun lalu pertumbuhan itu ditopang konsumsi, kali ini kita harus diperkuat produksi. Termasuk di sektor makanan dan minuman yang selama ini diserbu para pengimpor. Kekuatan konsumsi dalam negeri ini kita jadikan momentum penguatan produksi.

Kita memang harus menjaga perekonomian. Kita pun sudah bertekad untuk tidak mengeluh, sekalipun kita terimbas perang yang tidak kita lakukan. (Tajuk JawaPos)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia, politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s