Marzuki dan Istana Banggar

HERAN nian melihat Marzuki Alie mengedarkan telunjuk ke sana kemari. Terkait dengan renovasi “Istana Banggar” DPR Rp 20 miliar seharusnya dia “menuding” dirinya sendiri dulu. Hai, hai, hai… kita sempat dibuat lupa sejenak bahwa ketua DPR itu ternyata merangkap ketua Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) dengan segenap kewenangan dan fasilitasnya. Ketika terjadi persoalan, dia mestinya ikut menjelaskan kepada publik yang marah. Tapi, dia malah ikut marah dan seakan tak punya kaitan apa pun.

Akan halnya Nining Indra Saleh, sang sekretaris jenderal DPR, beserta anak buahnya bisa saja punya andil dalam kekacauan ini. Tetapi, bagaimanapun, penanggung jawab tertinggi adalah Marzuki. Kalau pimpinan hanya bisa menyalahkan anak buah, padahal dirinya yang tak mampu memimpin, apa kata dunia? Apa kata akhirat? Terang sekali bahwa duit Rp 20.000 juta itu lolos karena mekanisme internal sudah dilalui. Mengapa Marzuki tak mengetahui dan mencegahnya lebih dulu?

Leadership, agaknya, menjadi problem berat di sini. Marzuki sendiri tak pernah dicitrakan cemerlang dalam memimpin. Mantan tersangka kasus korupsi pabrik semen Baturaja (yang di-SP3 kejaksaan menjelang dia menjadi ketua DPR) ini jelas terlihat tak bisa mengendalikan situasi. Kalau yang lolos itu uang-uang kecil, bolehlah dimaklumi. Tapi, siapa tahu, uang lebih dari Rp 20.000.000.000 itu sudah dianggap uang kecil? Apalagi, dibandingkan dengan APBN yang digodok di banggar yang lebih dari seribu triliun rupiah.

Kasus “Istana Banggar” ini memang harus diusut tanpa basa-basi. Kelak mungkin akan ada tersangka kalau ada kasus korupsi. Mungkin orang di kesekjenan atau orang-orang di badan anggaran. Silakan mereka diminta mempertanggungjawabkannya hingga ke penjara. Saat merencanakan ini semua, sulit diterima nalar apabila mereka tidak punya firasat bahwa perbuatan semacam itu sangat tidak pantas. Kecuali, nurani mereka sudah membusuk.

Kasus badan anggaran yang ingin punya “istana” di dalam gedung rakyat ini menjadi skandal baru yang memiriskan. Sebelumnya, banggar gonjang-ganjing oleh kasus Wa Ode Nurhayati yang menyerempet rekan-rekannya di lembaga itu. Ada juga kasus “apel Malang” dan “apel Washington” yang menyerimpung sang ratu kecantikan bersama “bos besar” dan “ketua besar”. Belum sepenuhnya pula mulut kita mengatup dalam memprotes ambisi membangun gedung baru DPR yang nilainya raksasa (mana pula hasil pengusutan dana miliaran yang telanjur keluar tanpa kejelasan saat perencanaan gedung yang menjengkelkan publik itu?).

How low can you go? Seberapa dalam lagi lembaga ini akan masuk ke lubang citra busuk? Hingga saat ini, meskipun kasus bertalu-talu menggodam tim banggar (dan legislator lain), kita yakin belum akan ada pertobatan. Siapa tahu para legislator lain yang belang (tapi belum ketahuan), menyalahkan mereka karena tidak hati-hati. Mereka dianggap sial saja. Lain kali mereka akan lebih hati-hati (alias makin licik).

Kasus ini harus dituntaskan KPK. Marzuki Alie yang sudah kecolongan seharusnya tak hanya menyalahkan orang lain. Saatnya kepemimpinan dia di BURT dimintai pertanggungjawaban. Ketika merangkap jabatan ketua DPR dengan ketua BURT, sebenarnya dia bisa mudah melakukan kontrol, sehingga urusan kerumahtanggaan DPR tak mencederai citra parlemen. Tapi, dia malah kecolongan proyek hura-hura ini.

Masih pantaskah Marzuki menjadi pemuka di DPR, kalau saat ada persoalan dia justru memilih tak menunjukkan rasa tanggung jawabnya? Jangan bertanya ke Demokrat. Partai yang mengirim Marzuki ke DPR ini sedang susah.
(Tajuk JawaPos)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s