Cara Jitu Melawan Wabah Dengue

Oleh: Kuntaman

MUSIM hujan tiba, wabah dengue atau demam berdarah bergentayangan. Strategi khusus sangat dibutuhkan untuk mengatasi wabah dengue karena dokter tidak bisa bekerja sendiri. Dalam hal ini peran berbagai pihak dibutuhkan, dengan sasaran utama menekan populasi nyamuk penyebab wabah, deteksi dini, dan menetapkan sistem rujukan.

Seperti dikenal, demam berdarah adalah penyakit infeksi oleh virus dengue. Jenis demam dengue (DD) secara umum ditandai melalui panas badan seperti flu. Demam berdarah dengue (DBD) disertai tanda perdarahan akibat gangguan pembekuan darah. Dan, sindroma shock dengue (dengue shock syndrome = DSS) diiringi gejala lebih serius. Yakni, penderita bisa hilang kesadaran akibat turunnya tekanan darah.

Seseorang patut dicurigai terkena DBD jika ada tanda panas badan, seperti flu, disertai perdarahan seperti mimisan, atau bercak kemerahan pada kulit, serta badan panas, 40-41 derajat Celsius.

Tindakan yang perlu mendapat perhatian guna memberantas penyakit dengue adalah memotong mata rantai penyakit. Berdasar siklus kehidupan nyamuk, pemberantasan itu harus dilakukan melalui pendekatan bio-eko-sosio kultural, dengan strategi memberantas populasi nyamuk dan melawan virus yang masuk tubuh.

Mengendalikan kehidupan nyamuk melalui pengendalian lingkungan hidup dengan cara memberdayakan masyarakat sebagai kelompok sosial dan menjadikannya sebagai sebuah budaya atau kebiasaan. Pendekatan bio-eko-sosio-kultural dipandang sangat tepat untuk diterapkan sebagai kebijakan yang berkesinambungan dan hendaknya tidak hanya dilaksanakan menjelang musim hujan.

Hal ini perlu, mengingat ancaman yang semakin mengkhawatirkan, yaitu terjadinya infeksi ulang bagi orang yang pernah terjangkit. Infeksi ulang penderita DD cenderung lebih parah, yaitu DBD dan DSS. Jika hal ini terjadi, kesembuhannya menjadi lebih rendah, bahkan sering merenggut nyawa.

Intensitas DD makin meningkat saat musim hujan, dan itu berarti faktor ekologi biota nyamuk berperan sentral. Populasi nyamuk sebagai vektor virus dengue mutlak dihabisi dengan cara membunuh nyamuk dan jentik nyamuk sebagai siklus awal kehidupan nyamuk. Nyamuk aedes bisa berfungsi ganda, sebagai pusat produksi virus dan sebagai penyebar virus. Untuk bisa bertelur, nyamuk perlu mengisap darah manusia atau hewan sebagai makanan. Pada percobaan di laboratorium, terbukti nyamuk yang hanya diberi air gula tidak mampu menghasilkan telur.

Genangan air saat musim hujan perlu diatasi guna mempersempit lokasi kehidupan nyamuk. Agar tidak digigit nyamuk, perlu sosialisasi berkala tentang kehidupan nyamuk, khususnya kehidupan nyamuk yang lebih aktif di siang hari. Awal musim hujan adalah momen tebaik bagi berbagai pihak, baik pemerintah daerah, petugas kesehatan, pengurus kampung, dan perguruan tinggi bidang kesehatan/fakultas kedokteran, untuk secara bersama melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi masyarakat luas.

Selama ini orang hanya mengandalkan efektivitas penyemprotan asap untuk mengusir nyamuk. Namun, tanpa membuang tempat hidup nyamuk, upaya itu berpeluang gagal. Ini karena jentik bisa lolos dari semprotan asap, dan segera berubah menjadi nyamuk baru. Jentik bisa diberantas dengan bahan kimia, seperti abate, dengan dosis 1 gram per 10 liter air.

Perlu perhatian khusus bagi keluarga, misalnya, penggunaan minyak oles pengusir nyamuk atau perangkap nyamuk yang banyak dijual di pasaran, serta pemasangan kelambu di tempat tidur anak. Tindakan itu terutama dianjurkan saat awal musim hujan, khususnya di daerah endemis atau yang ada kasus DD/DBD.

Jika telanjur digigit nyamuk, secara umum vaksinasi adalah cara terpilih untuk melawan virus. Namun, sampai saat ini belum ada vaksin yang secara masal diakui mampu menjadi pelindung terhadap serangan virus dengue. Obat antivirus juga belum bisa menjinakkan virus dengue.

Jika terjadi serangan, satu-satunya cara adalah segera masuk rumah sakit. Di sana keseimbangan elektrolit dan cairan tubuh penderita bisa diawasi secara ketat, sampai betul-betul dinyatakan aman.

Karena itu, deteksi dini DD menjadi sangat penting, termasuk sistem rujukannya. Kewaspadaan terhadap DD, khususnya mengarah ke DBD atau DSS, perlu juga disosialisasikan melalui kegiatan pelatihan khusus. Hati-hati menggunakan obat panas, seperti golongan aspirin atau brufen, karena bisa mempercepat terjadinya fase DBD akibat gangguan pembekuan darah!

*) Guru besar mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD dr Soetomo.
dimuat di JawaPos 20/01/2012

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s