Ketidakpedulian, Pembunuh Terbesar di Jalan Raya

KITA tersentak hebat dengan “pembunuhan” di trotoar yang menelan sembilan nyawa itu. Kecelakaan dua hari lalu itu menjadi peristiwa terburuk di awal 2012. Kita makin ngeri setelah rekaman sesaat setelah kejadian Xenia menghajar orang-orang di sekitar Tugu Tani itu diunggah di Youtube. Para korban berserakan di paving dengan tubuh berdarah-darah dan patah-patah. Video berdurasi 3 menit 15 detik itu menggambarkan betapa kerasnya mereka ditabrak.

Kegeraman bertambah setelah pengemudi Xenia itu, Afriyani Susanti, diduga pesta narkoba dan alkohol sebelum mencelakan orang. Tuntutan menghukum berat dia, dan kawan-kawannya di dalam mobil, bercicicuit sengit di dunia maya. Afriyani sudah menjadi tersangka karena menghilangkan nyawa orang plus menggunakan narkoba. Sedangkan tiga temannya sebagai tersangka narkoba.

Kita berharap mereka dijerat dengan pasal terberat karena korbannya sangat banyak. Selain korban tewas, ada yang cacat. Ketika tetap berkendara saat kondisi mereka membahayakan, berarti mereka sangat tak peduli kepada orang lain.

Selain mengonsumsi alkohol dan narkoba, jenis “ketidakpedulian” lain adalah mengemudi dalam keadaan mengantuk, mengebut, zig-zag, atau mobil tak laik jalan. Entah sudah berapa banyak orang yang menjadi korban ketidakpedulian pengemudi ini. Di Jawa Timur, misalnya, kita melihat kendaraan besar berjalan seenaknya dan kerap menimbulkan kecelakaan maut. Tapi, pengemudinya tak pernah kapok.

Jalanan kita sendiri sudah memancing stres. Kendaraan kian sesak. Asap knalpot kian pengap karena kemacetan. Apabila kondisi ini ditambah dengan keadaan tidak fit si pengemudi dan kendaraannya, kefatalan kerap terjadi. Ada baiknya polisi sering merazia orang-orang yang pulang dari dugem, baik itu dini hari maupun pagi hari. Asal tak mencari-cari, razia ini bisa meningkatkan rasa aman. Jangan ragu untuk menilang atau menjadikan tersangka bila si pengemudi mabuk atau bernarkoba.

Cara memperoleh SIM juga wajib diketati. Kini anak-anak di bawah 17 tahun, di usia SMP, sangat gampang mendapatkan SIM. Lihat saja di dekat suatu SMP, tempat parkir penuh sepeda motor. Repotnya, apabila mengalami kecelakaan fatal, dia sulit dijerat dengan “pasal dewasa”. Kalaupun bisa, pasti timbul kontroversi. Padahal, kefatalan yang diakibatkan ketidakpedulian orang tua dan polisi -yang meluluskan SIM- ini bisa sangat berat, bahkan mematikan orang di jalan.

Ketidakpedulian inilah yang sebenarnya menjadi pembunuh di jalan. Bukan hanya tak peduli terhadap keselamatan orang lain. Bahkan, keselamatan diri sendiri kadang “diserahkan” kepada pelalu lintas lain. Para pengebut yang ngawur bisa saja berpikir: biar saja saya zig-zag, paling-paling orang lain mengalah. Biar saja melawan arus, paling-paling orang lain memberikan jalan.

Perhatikan, sekarang ini melawan arus sudah “bukan lagi pelanggaran lalu lintas”, karena sangat banyak yang melakukannya. Para komandan polisi juga sudah tak berminat memerintahkan bawahannya menegakkan kembali aturan elementer yang amat penting ini. Beginilah contoh “hukum jalanan” mengalahkan hukum formal negara. Lagi-lagi ini soal ketidakpedulian.

Polisi selalu bilang: kecelakaan diawali dengan pelanggaran. Pelanggaran terbesar para pencelaka orang lain adalah ketidakpedulian bahwa orang lain layak dihargai keselamatan dan nyawanya. Orang yang paling berhati-hati pun bisa dijemput maut karena orang lain ngawur.(*Tajuk JawaPos)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s