Merawat Gotong Royong Global

BLACKOUT oleh Wikipedia dan beberapa situs internet lain memang telah berakhir. Tetapi, pesan yang terkandung dalam aksi itu tidak akan lekang sampai kapan pun: seberapa mulianya pun tujuan sebuah regulasi, hendaknya tidak sampai mereduksi, apalagi melenyapkan, elan hidup yang tidak kalah mulia.

Kita tahu, Wikipedia memutuskan untuk blackout selama 24 jam pada Rabu lalu (18/1) sebagai bentuk protes kepada RUU Anti Pembajakan Online (SOPA) dan RUU Perlindungan Protokol Internet (PIPA) yang tengah digodok Kongres Amerika Serikat. Kita tahu pula tujuan dasar dua legislasi itu patut didukung: melindungi hak cipta dan hak atas kekayaan intelektual.

Namun, kita tahu juga, dua RUU tersebut berpotensi menempatkan seorang pengguna berbagai situs internet terbuka yang mendorong partispasi publik seperti Wikipedia, Twitter, Facebook, atau YouTube dalam posisi “praduga bersalah”. Artinya, setiap artikel, foto, atau video yang diunggah ke situs-situs tersebut sudah berada dalam status dicurigai terlebih dulu sebagai barang bajakan.

Berdasar dua RUU itu, setiap situs yang diketahui memuat material bajakan atau jiplakan juga akan langsung ditutup. Bayangkan keruwetan para pengelola situs-situs tersebut kalau sampai SOPA dan PIPA diterapkan.

Wikipedia, misalnya, saat ini menyimpan 20 juta artikel dalam dua ratus lebih bahasa. Di seluruh dunia, situs yang didirikan 11 tahun silam itu memiliki 11 ribu lebih kontributor reguler.

Apalagi Facebook. Situs pertemanan yang memungkinkan tiap penggunanya bisa mengunggah artikel, foto, dan video itu tercatat memiliki lebih dari setengah miliar Facebooker di semua penjuru bumi.

Katakanlah Wikipedia, Facebook, Twitter, atau YouTube bisa mempekerjakan ribuan orang khusus untuk mengawasi isi posting-an tiap user-nya. Tetapi, tidakkah itu berarti sinyal awal kematian kebebasan berekspresi yang selama ini justru jadi keunggulan internet?

Bukankah dunia maya selama ini selalu menjadi solusi terbaik bagi mereka yang hidup di sebuah “negara polisi”, yang hak bersuaranya dikekang dan demokrasi dipalsukan? Perlawanan terhadap rezim yang dianggap sewenang-wenang di Iran, Tiongkok, Moldova, atau meluasnya dampak “Musim Semi Arab” belakangan tidak lepas dari bantuan internet.

Wikipedia, Twitter, atau Facebook menawarkan demokrasi dalam semangat sesungguhnya: orang saling mengoreksi secara bebas dan terbuka lewat artikel, tweet, atau status. Belum lagi semangat bergotong royong yang terkandung di dalamnya. Melalui Wikipedia, misalnya, orang yang tinggal di Brazil bisa dengan gampang mengenal secara cepat sastrawan terkemuka Indonesia Pramoedya Ananta Toer dan kemudian bisa memverifikasinya ke berbagai tautan (link) yang tersedia di artikel yang sama.

Lewat berbagai situs itu, orang-orang tanpa pamrih berbagi informasi, foto, atau video untuk orang-orang lain yang tidak mereka kenal yang mungkin membutuhkan. Dunia pun menjadi guyup, tanpa melalui Sidang Umum PBB atau kunjungan diplomatik yang selalu sarat kepentingan politik itu.

Bayangkan kalau kemudian atas nama regulasi, semangat gotong royong itu diberangus. Ini tidak berarti pembajakan diberi tempat. Pembajakan harus dilawan, tetapi dalam mekanisme yang tidak sampai melenyapkan niat untuk berbagi.

Kalau tidak, selamanya kita akan hidup di sebuah dunia yang saling mencurigai dan berselimut hasrat balas dendam. AS, misalnya, bisa dengan gampang memblokir Vkontakte, situs pertemanan ala Rusia. Tetapi, dengan gampang juga, Rusia membalas menutup Facebook. Sebuah lingkaran setan kebencian yang bisa memicu berbagai kemudaratan pun tercipta dengan sendirinya. (Tajuk JawaPos)

Tinggalkan komentar

Filed under Berita, Hukum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s