Masa Senja Pilu Koruptor (Perempuan)

Oleh Reza Indragiri Amriel

TAK sedikit orang yang gundah, ”Kok bisa-bisanya ibu-ibu tersangkut kasus korupsi.” Tentu, terlalu berlebihan untuk menyimpulkan bahwa perempuan-perempuan Indonesia telah terjangkiti wabah korupsi. Apalagi hanya dengan berpatokan pada sekian perempuan yang namanya belakangan ini mengemuka dalam kasus-kasus korupsi. Walau begitu, saya memaklumi kegundahan bias gender di balik pertanyaan tentang kiprah perempuan dalam perkara korupsi.

Perempuan, oleh banyak orang, dianggap sebagai makhluk lembut yang identik dengan peran penyayang, pemelihara, pengasuh, pengasih, dan sifat-sifat lembut lainnya. Kontras dengan ”suratan tangan” kaum hawa itu, sebagian orang terhenyak menyaksikan betapa perempuan -termasuk yang sudah tua- ternyata juga bisa menjadi penjahat kerah putih kelas paus.

Saya terkenang lagu Ebiet G. Ade beberapa dekade silam. Ebiet menengadahkan tangan, ”Tuhan, selamatkan istri dan anakku. Hindarkanlah hati mereka dari iri dan dengki.” Untaian kata-kata dalam lagu itu cukup kuat membangkitkan imajinasi dalam benak saya tentang keluarga yang serba kesusahan. Si pengemis begitu khawatir bahwa kondisi serba tak punya akan menyesatkan anak istrinya sehingga nekat berbuat tak semengga. Tapi, doa dalam lagu berjudul Nasihat Pengemis untuk Istri dan Doa untuk Hari Esok Mereka itu tidak sepenuhnya akurat untuk menggambarkan kehidupan koruptor-koruptor sepuh yang semakin lama semakin ramai keluar masuk gedung KPK.

Sebab, orang-orang yang telah berumur senja itu tampak tidak miskin sama sekali. Berbeda jauh dari kepapaan yang dilukiskan Ebiet. Saya tidak yakin mereka melakukan korupsi sebatas untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Bisa saja perilaku koruptif itu dilakukan guna memuaskan syahwat kerakusan. Apa pun motifnya, karena diciduk KPK lantaran melakukan korupsi, yang terjadi justru coreng-moreng diburu hukum dan disumpahserapahi publik. Padahal, masa tua idealnya berisi kebahagiaan menyaksikan anak cucu menjadi orang seraya diisi dengan persiapan intensif menyongsong kehidupan di dunia lain.

Ketika pasangan hidup -apalagi yang berusia sepuh- melakukan korupsi, mungkinkah sang suami atau istri mereka tidak tahu-menahu? Masuk akalkah jika anak-anak mereka juga ikut menggeleng dan angkat bahu? Sebagai orang-orang terdekat dalam keluarga, justru lebih kuat alasan untuk berasumsi bahwa pasangan dan anak-anak tahu, bahkan menikmati, perihal lika-liku kotor yang dilakukan orang terkasih mereka. Asumsi tersebut selaras dengan firman Allah dalam Alquran bahwa ”…di antara istri dan anakmu ada yang menjadi musuh bagimu…”

Walau bukan jago tafsir, saya memandang kata ”suami” dalam ayat tersebut dapat disepadankan dengan ”istri”, sehingga menjadi relevan ketika dikenakan kepada kedua pihak. Muatan ayat itu merupakan peringatan dari Tuhan bahwa cobaan terbesar bisa jadi datang dari orang-orang yang paling dekat, bahkan anggota keluarga sendiri.

Di situ, ujian terberat justru hadir. Temuan riset psikologi pun terbenarkan bahwa afeksi atau perasaan adalah unsur terkuat yang memengaruhi sikap. Juga, setiap orang pada dasarnya mempunyai kebutuhan kuat untuk menyeragamkan diri (conform) dengan orang-orang lain di dalam kelompok yang sama. Mengombinasikan keduanya, karena anak dan istri atau suami adalah figur-figur dengan simpul emosional tererat, menolak tekanan mereka dirasakan terlalu berat. Mengingatkan pasangan -orang yang dicintai- yang sudah nyata-nyata berbuat kekeliruan juga bukan perkara mudah. Apalagi, pada saat yang sama, keutuhan rumah tangga akan terpelihara manakala -salah satunya- ada keseragaman sikap dan perilaku di antara sesama anggota keluarga.

Korupsi, lebih spesifik yang dilakukan orang yang telah berusia lanjut dengan usia perkawinan berbelas bahkan berpuluh tahun, adalah wujud runtuhnya sendi kebenaran sebagai pilar utama keluarga. Pembiaran atau sikap pura-pura tidak tahu, bahkan menikmati, atas anggota keluarga yang melakukan korupsi adalah tragedi unit pilar terkecil bangsa.

Proses hukum terhadap orang tua yang merangkap koruptor itu juga akan menimbulkan kegalauan di kalangan keluarga. Pada satu sisi, ada kerinduan untuk menjenguk maupun mengikuti proses hukum sedekat mungkin dengan anggota keluarga tersebut. Namun, pada saat yang sama, Fishman (1990) dan Girshick (1996) melukiskan, mengunjungi orang tua yang tengah ditahan bisa menjadi pengalaman yang memalukan, mengintimidasi, bahkan memicu kecemasan-kecemasan susulan. Mempunyai orang tua yang berstatus koruptor, terdakwa, narapidana, dan sejenisnya pada dasarnya juga telah menjadikan anak-anak sebagai samsak bagi kecaman orang banyak sebagai keluarga busuk.

Kelak, manakala si koruptor dijebloskan ke penjara sehingga beralih status sebagai narapidana, mereka -apalagi yang berjenis kelamin perempuan- akan mengalami problem psikologis yang tidak sepele. Data di Amerika Serikat, misalnya, menunjukkan bahwa satu di antara empat narapidana perempuan mengalami gangguan mental serius. Jika dibanding narapidana lelaki (55 persen), narapidana perempuan (73,1 persen) memang lebih banyak mengalami masalah kesehatan mental saat berada di balik jeruji.

Setelah menyelesaikan masa hukuman, kehidupan juga tidak serta-merta menjadi lebih mudah. Narapidana yang telah berusia lanjut, apalagi perempuan, berpeluang menghadapi stigma yang lebih kuat. Akibatnya, mengalami keterasingan sosial menjadi sebuah risiko yang kian nyata.

Sungguh, adakah masa senja yang lebih menyesakkan daripada itu? (*)

*) Dosen Psikologi Forensik Universitas Binus, anggota Asosiasi Psikologi Islam
dimuat di JawaPos, 31/01/2012

Tinggalkan komentar

Filed under Hukum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s