Turki, Inspirasi Arab Baru

Oleh Aziz Anwar Fachrudin

PERKEMBANGAN mutakhir revolusi Arab kini ditandai dua hal: tumbangnya rezim diktator dan bangkitnya kekuatan politik islamis. Ben Ali tumbang, lalu Partai an-Nahdhah (Kebangkitan) memenangi pemilu Tunisia. Raja Muhammad VI mengadakan reformasi konstitusi, lalu Hizb al-‘Adalah wa at-Tanmiyah (Partai Keadilan dan Pembangunan) memenangi pemilu Maroko. Mubarak lengser, lalu sayap politik Ikhwanul Muslimin, Hizb al-Hurriyah wa al-‘Adalah (Partai Kebebasan dan Keadilan) menduduki mayoritas kursi parlemen Mesir.

Agenda apa yang akan dilakukan partai-partai islamis itu? Sejak masa-masa awal revolusi bergejolak, para petinggi partai-partai itu tegas menyatakan bahwa mereka hendak menjadikan Turki sebagai kiblat politik islamis. PM Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan lawatan ke negara-negara Arab tahun lalu disambut bak Presiden ”Ahmad” Soekarno dulu pada masa pascakolonial ketika negara-negara Asia-Afrika sedang membangun gerakan Nonblok.

Sejak beberapa tahun terakhir, Turki memang mendapat kredibilitas tinggi di Timur Tengah. Ada dua hal yang melatarbelakangi itu. Pertama, kebijakan luar negeri Turki tidak clash dengan Iran. Iran malah menjadi penyuplai utama gas alam bagi Turki. Bersama Brazil, Turki tidak mendukung keputusan DK PBB menjatuhkan sanksi terhadap proyek nuklir Iran. Kedua, insiden Flotilla pada Mei 2010. Perseteruan Turki v Israel menyangkut serangan Tel Aviv terhadap kapal Mavi Marmara menegaskan bahwa Turki tak berpihak kepada kepentingan Israel.

Dua hal tersebut membuat hubungan Turki dengan Barat memburuk. Tapi, pada saat yang sama pula, Turki meraih ”zero problem” dengan tetangga-tetangganya di Timur Tengah, terutama Syria dan Lebanon. Turki pun semakin terlibat di kawasan. Turki mendukung upaya semi otonomisasi suku Kurdi di Iraq, menormalisasikan hubungan dengan Armenia, memediasi perdamaian antara Israel dan Syria, dan menginisiasi platform keamanan dan stabilitas Kaukasus. Belakangan, Turki bahkan sibuk membangun zona perdagangan bebas (free trade zone) dengan Syria, Lebanon, dan Jordania. Perusahaan-perusahaan Turki membangun bandara, pusat perbelanjaan, dan gedung pencakar langit di kawasan, mulai Kairo hingga Dubai.

Sekularisme Turki

Faktor terpenting dari Turki yang begitu menarik perhatian para pemimpin Arab baru bahwa ”politik Islam” di sana bisa tumbuh dan terakomodasi dengan sukses meski dalam lanskap politik yang sekuler. Seiring jalannya sejarah, sekularisme Turki kini tidak lagi sesekuler pada 1920-an.

Pengalaman Turki dalam mengombinasikan sekularisme, demokrasi, dan Islam politik, serta bisa dicontoh negara-negara Arab yang lain tecermin dalam empat hal. Pertama, meski sempat jatuh bangun, sistem pemerintahan Turki memberikan kebebasan yang terkendali bagi upaya Islam politik untuk meraih kekuasaan eksekutif. Itu bukan hal yang mudah: polarisasi politik dan sosial masih berakar hingga kini. Kendati demikian, militer dan kekuatan sipil Turki memiliki kemampuan menjaga sistem dari erosi sekularisme. Dengan kata lain, sistem Turki mampu mengakomodasi bangkitnya Islam politik dan, pada saat yang sama, institusi masyarakat Turki mampu menjaganya dalam batas-batas yang bisa diterima. Sistem yang demikian membuat partai islamis yang cenderung ke ”kanan” seperti Hizb ar-Rafahiyah (Partai Refah, Partai Sejahtera), kemudian mengalami moderasi menjadi Partai Keadilan dan Pembangunan (Adalet ve Kalkinma Partisi -AKP).

Kedua, besarnya kader dan simpatisan politik islamis di Turki adalah karena mereka berjuang dari bawah dan mengagendakan aksi nyata bagi pemerintahan daerah. Erdogan, PM Turki sekarang, pernah sukses menjadi wali kota Istanbul.

Ketiga, pengalaman sekularisme Turki mutakhir menunjukkan partai islamis tidak membawa agenda yang berlawanan dengan demokrasi ketika menjadi oposisi rezim. Tidak seperti di negara-negara Arab lainnya, Turki hampir tidak pernah menyaksikan adanya aksi kekerasan yang melibatkan faksi Islamis. Demokrasi Turki telah berhasil mengawinkan prinsip sekularisme dengan Islam. Kesuksesan AKP memimpin pemerintahan Turki -dan berumur panjang, sudah lebih dari satu dasawarsa- menjadi bukti akan hal itu. Dalam lawatannya ke negara-negara Arab, Erdogan menganjurkan agar mengadopsi sistem sekuler dengan mencontohkan pengalaman negaranya: bahwa tidak ada alasan untuk menghalangi seorang muslim memerintah negara sekuler.

Keempat, hubungan militer-sipil Turki. Sejak 1930-an, militer Turki bermain sebagai ”penjaga” rezim dan prinsip dasar sekularisme. Militer menjadikan islamis sebagai ancaman bagi keberlangsungan sekularisme dan pada masa Perang Dingin (Cold War), komunisme turut dijadikan justifikasi bagi militer Turki. Hingga 60 tahun kemudian, militer Turki tetap bermain demikian dan bahkan mereka sempat melakukan pemberontakan untuk menghadang laju islamis ke panggung politik.

Kendati demikian, militer Turki jelas tidak sama dengan negara-negara Arab yang digunakan sebagai alat otoritarian rezim. Tidak ada Gamal Abdul Nasser atau Mubarak di Turki. Apalagi, sejak Konstitusi 1982, medan gerak militer Turki mulai terbatas. Mereka diatur sesuai dengan konstitusi oleh Dewan Keamanan Nasional Turki.

Poros Baru

Satu hal yang bisa diharapkan mampu membawa transisi politik Arab lebih sukses ialah mendorong AKP Turki agar lebih berperan. AKP diharapkan mampu membawa Islam politik ke arah yang lebih terbuka terhadap pluralitas partai dan tidak eksklusif dalam berhadapan dengan faksi liberal. Sebab, jika islamis justru berbalik menjadi rezim otoriter baru, transisi Arab menuju demokrasi bisa gagal. Politik Islamis rawan bersikap pragmatis: begitu mendapat kuasa, mereka akan memaksakan ideologi Islam ke negara -sehingga kekhawatiran publik Mesir terhadapa naiknya Salafis cukup bisa diterima.

Kendati demikian, jalinan politis antara AKP Turki dengan partai-partai Islamis yang kini mendominasi partai politik Arab cukup membawa harapan baru. Saat Erdogan melawat ke negara-negara di kawasan, dia menyatakan akan membantu faksi-faksi islamis agar bersikap terbuka dan menerima sistem sekuler. IM Mesir, an-Nahdhah Tunisia, dan bahkan Hamas Palestina, kini sudah membangun jalinan kuat dengan AKP Turki.

Bentuk ”aliansi” IM Mesir dan AKP Turki ke depan akan menjadi kekuatan ideologi besar yang mampu mengimbangi dominasi ideologi Iranisme, arabisme, dan sekularisme-liberalisme Barat di Timur Tengah.

*) Pengajar mahasiswa di Ponpes Nurul Ummah, Kotagede, dan sedang menyusun buku tentang revolusi Arab
dimuat di JawaPos 02/02/2012

Tinggalkan komentar

Filed under politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s