Ancaman Emas Hitam

UNTUK kali kesekian, tim ekonomi pemerintah menunjukkan sikap ragu dan gamang. Gara-gara menjadi polemik berkepanjangan, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi yang sedianya diberlakukan mulai 1 April kembali mengambang. Opsi yang ada pun makin berkembang. Tak hanya membatasi BBM bersubsidi, mengerek harga Rp 500-Rp 1.000 per liter atau menaikkan harga secara bertahap Rp 500 sampai tingkat keekonomian pun menjadi pilihan.

Entah opsi mana yang akan diambil pemerintah nanti. Yang jelas, waktu terus berdetak seiring merangkaknya harga minyak mentah di pasar dunia. Saat ini acuan harga minyak mentah Indonesia (ICP) menembus USD 110 per barel. Angka itu sudah jauh meninggalkan asumsi ICP dalam APBN 2012 yang dipatok USD 90 per barel.

Dengan asumsi USD 90 per barel pun, pemerintah harus menaikkan tarif dasar listrik (TDL) rata-rata 10 persen dan membatasi konsumsi BBM mulai 1 April. Jika salah satu atau dua kebijakan itu batal diterapkan pada 1 April, bisa dipastikan subsidi energi bakal membengkak. Tahun ini subsidi energi ditetapkan Rp 168,559 triliun yang terdiri atas BBM dan elpiji Rp 123,559 triliun serta listrik Rp 44,96 triliun.

Di antara sekian banyak opsi yang mengemuka, menaikkan harga BBM dinilai yang paling memungkinkan. Selain tidak ribet, penerapannya relatif mudah dan cepat. Namun, opsi tersebut terbentur ketentuan dalam APBN 2012 yang sudah menutup kenaikan harga BBM. Jika akhirnya opsi kenaikan harga yang diambil, DPR dan pemerintah harus menunggu selesainya APBN Perubahan 2012. Itu berarti penyesuaian harga baru bisa dilakukan pada semester kedua.

Namun, bila melihat konstelasi politik di Timur Tengah antara Iran dan AS-sekutunya saat ini, bisa jadi mengambil keputusan pada pertengahan tahun bakal terlambat. Pengamat perminyakan Kurtubi memperkirakan, apabila Iran menutup Selat Hormuz atau terjadi perang Iran-Israel, dalam hitungan jam harga ”emas hitam” itu bisa melonjak USD 20-USD 40 per barel.

Apabila krisis berlanjut, dalam beberapa pekan harga bisa bertengger di atas USD 200 per barel. Entah apa yang terjadi pada APBN 2012 bila harga miyak benar-benar naik gila-gilaan.

Mumpung belum terlambat, pemerintah harus membuat kebijakan yang tepat dan akurat. Langkah Menkeu Agus Martowardojo yang bakal mengurangi belanja negara untuk mengantisipasi pembengkakan anggaran patut diapresiasi lantaran bisa meningkatkan efisiensi. Tapi, hal itu bakal mubazir bila tak diikuti oleh instansi atau lembaga lain yang masih gemar memboroskan anggaran.

Langkah lain yang mesti diambil ialah mencari solusi komprehensif mengatasi krisis energi di tanah air. Sebagaimana kita tahu, produksi migas terus menurun dari tahun ke tahun. Berdasar catatan terbaru BP Migas, produksi 36 kontraktor kerja sama (KKKS) per Januari 2012 tercatat hanya 739.491 barel per hari (bph) atau jauh dari target 817.423 bph. Di antara 36 KKKS itu, hanya delapan yang produksinya mencapai target. Sedangkan sisanya termasuk pas-pasan. Tanpa optimalisasi produksi dan pembukaan blok-blok migas baru, mustahil Indonesia bisa menambah produksi.

Karena itu, sudah saatnya seluruh komponen bangsa disadarkan bahwa Indonesia saat ini sudah menjadi net importer minyak. Masa bonanza minyak pada 1970-1980-an yang sempat mencapai produksi 1,5 juta bph telah lewat. Harga energi pun kian mahal seiring menipisnya cadangan. Di antara sekian banyak opsi, kemungkinan menaikkan harga Rp 200-Rp 500 secara bertahap tiap bulan atau dua bulan sampai angka keekonomian bisa menjadi pilihan. Bila telah mencapai harga keekonomian, BBM tak akan lagi menjadi beban pada masa mendatang. (Tajuk JawaPos)

Iklan

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s