Sepak Bola dan Politik ”P” Kecil

DI penjara Robben Island, Afrika Selatan, yang dihuninya hampir tiga dekade, sepak bola adalah eskapisme bagi Nelson Mandela: tempat tokoh antiapartheid itu bisa merasa sejajar dengan para sipir kulit putih yang mengurungnya sekaligus menumbuhkan harapan akan kebebasan.

Di lapangan-lapangan berdebu Kota Algiers, Aljazair, sembari berdiri menjaga gawang, Albert Camus menemukan pelajaran yang kelak turut membentuknya menjadi filsuf berwibawa: moralitas.

Sepak bolalah yang menghentikan untuk sementara perang saudara di Pantai Gading saat negara bekas jajahan Prancis itu lolos ke Piala Dunia 2006. Sepak bola juga membuat Iraq berpesta sesaat, di tengah kecamuk bom dan pembunuhan karena sentimen sektarian, saat timnas Negeri 1001 Malam itu menjadi juara Piala Asia 2007.

Tapi, sepak bola pula yang menjadi perantara perang antara Honduras dan El Salvador pada 1969. Juga, seperti yang kita simak pada Kamis dini hari lalu (2/2) di Port Said, Mesir, olahraga yang dimainkan 22 orang tersebut mengakibatkan 74 nyawa melayang dan sekitar 1.000 orang terluka.

Namun, sangat tergesa-gesa kalau kita lantas mengatakan sisi destruktif sepak bola seperti yang terjadi Mesir itu muncul karena olahraga terpopuler sejagat tersebut disusupi kepentingan politik. Sebab, politik bukanlah barang haram untuk dikawinkan dengan cabang yang kini punya beberapa varian tersebut. Asalkan politik dengan ”P” besar: politik untuk kemaslahatan bersama.

Di Indonesia, misalnya, sepak bola pernah menjadi medium untuk menggumpalkan spirit melawan kolonialisme Belanda. Lewat Piala Dunia ”tandingan”, negara-negara ”semenjana” seperti Somaliland, Trans-Dniester, atau Ossetia Selatan berusaha menunjukkan eksistensi mereka di hadapan dunia.

Sepak bola dan politik dengan ”P” besar itulah yang tidak kita lihat di Mesir. Diduga kuat, dewan militer yang berkuasa sengaja merekayasa kerusuhan di Stadion Port Said saat laga antara Al-Masry versus Al-Ahly tersebut untuk interes mereka sendiri. Yaitu, dikembalikannya Undang-Undang Keadaan Darurat yang dicabut setelah Presiden Hosni Mubarak lengser pada Februari tahun lalu.

Undang-undang itu bakal memberikan wewenang yang lebih luas kepada militer untuk bertindak represif atas nama keamanan negara. Legislasi itulah yang menjadi senjata andalan kediktatoran Mubarak selama tiga dekade.

Kecurigaan kepada militer itu punya sejumlah fondasi kuat. Kerusuhan di Port Said tersebut hanya berselang sehari setelah permintaan Kementerian Dalam Negeri agar UU Keadaan Darurat itu diberlakukan kembali ditolak parlemen. Juga, tak hadirnya para petinggi militer dan pemerintah dalam laga dua klub yang dikenal sangat bermusuhan itu, sesuatu yang tak pernah terjadi selama ini.

Yang paling mencolok mata tentu pembiaran yang dilakukan aparat saat tanda-tanda kerusuhan bakal meletus sudah sedemikian kuat. Mereka juga tak segera membuka pintu keluar stadion dan tim penolong datang sangat terlambat. Banyak saksi yang juga bersumpah, petugas keamanan membiarkan saja para suporter membawa senjata tajam masuk ke dalam stadion.

Memang, masih harus dibuktikan lewat investigasi independen benarkah militer yang mendalangi kerusuhan terburuk terkait sepak bola sejak 1996 tersebut. Tapi, jika benar, sungguh mengerikan. Menghalalkan segala cara untuk menabalkan premis: tanpa militer yang memiliki wewenang luas, kekacauanlah yang terjadi.

Ini juga sekaligus peringatan bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia yang sepak bolanya terus dilanda kisruh: jangan coba-coba mengawinkan sepak bola dengan politik ”p” kecil politik untuk kepentingan sesaat dan segelintir orang. Darah bisa tumpah di sana. (Tajuk JawaPos)

1 Komentar

Filed under politik

One response to “Sepak Bola dan Politik ”P” Kecil

  1. ulasan yg luar biasa, salam kenal mas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s