Pengadilan Negeri Sumenep dihadiahi puluhan ular

Langkah M. Amin, 34, warga asal Dusun Duko, Desa Sumber Nangka, Kec Arjasa, Pulau Kangean, menyentil banyak pihak. Dia menghadiahi Pengadilan Negeri (PN) Sumenep puluhan ular. Apa yang melatar belakangi ide gila itu?

“SAYA hanya takut ular itu tiba-tiba menggigit dari belakang,” celetuk Amin, memulai perbincangan santai sambil menikmati nasi jagung di pojok Terminal Arya Wiraraja, Sumenep, kemarin.

Menurut Amin yang berprofesi sebagai wiraswasta di Surabaya itu, dalam perjalanan dari Surabaya ke Sumenep, dia sangat khawatir. Sebab, puluhan ular yang disimpan di kabin belakang Suzuki Splash miliknya, sewaktu-waktu bisa lepas.

“Sambil nyetir, saya menoleh ke belakang terus, Mas,” ceritanya sambil menyantap ikan dorang kesukaannya.

Karena didorong keinginan yang kuat membuat “sesuatu”, tindakan nekat itu pun dilakukan. Apalagi, kasus sengketa tanah yang sudah divonis PN Sumenep itu memakan waktu lama.

Bukan itu saja. Kasus sengketa tanah SDN Duko I, Kec Arjasa, Sumenep, itu membuat keluarganya harus mengeluarkan banyak uang.

“Saya berpikir, kalau hanya dengan cara-cara biasa tidak akan didengarkan,” ujarnya.

Apalagi, sambung mantan aktivis salah satu perguruan tinggi di Surabaya itu, kasus sengketa tanah antara koleganya dan Pemkab Sumenep terkesan bertele-tele. Prosesnya panjang dan berlangsung bertahun-tahun.

“Dulu pernah ada pertemuan untuk membahas tanah SDN Duko I itu. Semua pihak datang ke pemkab. Tapi, tidak ada ujung pangkalnya. Akhirnya, kasus ini harus disidangkan di PN,” bebernya dengan nada kesal.

Puncak kekesalan pihak pemilik tanah SDN Duko I tersebut ditumpahkan Senin (6/2) lalu. Versi Amin, majelis hakim PN tiba-tiba memutus perkara No 13/Pdt.G/2011/PN.Smp dengan putusan yang tidak dapat diterima.

Saat sidang putusan, pemilik lahan selaku penggugat tidak diundang ke persidangan. “Kami jadi bingung. Kok bisa tiba-tiba diputus. Putusan itu tidak dapat kami terima,” jelasnya.

Karena kesal dengan putusan majelis hakim, Amin mengajak sejumlah koleganya yang mayoritas mahasiswa menggelar aksi unik.

Semula Amin berencana menyewa sejumlah kuda dari Kangean. Mereka akan menunggangi kuda-kuda itu sambil berorasi di depan Kantor PN Sumenep. Tapi, karena dipandang sulit, Amin mengurungkan niat tersebut.

Saat berkumpul dengan koleganya, Amin tiba-tiba memiliki ide gila dengan cara membawa ular ke PN Sumenep. Tanpa berpikir panjang, Amin mencari orang yang bisa menyediakan ular.

Pilihannya jatuh kepada pawang ular di daerah Porong, Sidoarjo. Amin lantas mengeluarkan kocek pribadinya untuk membeli puluhan ular itu. Ular-ular itu lalu dibawa ke PN Sumenep.

Aksi Amin ini membuat heboh sejumlah pegawai PN. Para pengunjung dan pegawai PN lari tunggang langgang ke lantai dua. Sejumlah polisi yang ada di PN pun ikut semburat. Apalagi, setelah mereka melihat ada ular kobra yang juga dilepas di sekitar ruang tunggu PN.

Kejadian itu pun membuat heboh lantaran diliput hampir semua media. “Kami ini kurang apa? Puluhan tahun tanah kami dikuasai negara untuk sekolah tanpa kompensasi. Setiap musyawarah kami selalu terbuka,” sesal Amin.

Di akhir pembicaraan, Amin berjanji terus menuntut keadilan atas sengketa tanah tersebut. Karena itulah, sebelum putusan hukum tetap (inkracht), dia akan datang lagi ke semua instansi terkait.

“Lihat saja nanti. Kami akan datang ke pemda dan dispendik. Kalau perlu, dengan ular yang lebih banyak,” ancamnya.

Menurut dia, ular-ular tersebut sebagai simbol perlawanan terhadap “tikus-tikus” kantor. “Tikus itu hanya bisa dibasmi dengan ular,” ingatnya.

Panitera PN Sumenep A. Suja’i mengatakan, kasus sengketa tanah SDN Duko I memang sudah diputus oleh majelis hakim. Putusannya, gugatan penggugat tidak dapat diterima. “Putusannya pada Senin (7/2) lalu,” terang Suja’i kemarin.

Apa benar diputus tanpa kehadiran pihak penggugat? Menurut Suja’i, pihak pengadilan sudah menghubungi pihak penggugat. Namun, pada saat persidangan pihak penggugat tidak hadir. “Ya, tetap diputus oleh majelis hakim,” jelasnya.

Suja’i menerangkan, Amin tidak termasuk para pihak yang beperkara. Suja’i menduga Amin hanya pihak luar. Karena itu, PN melaporkan Amin ke polisi atas dugaan perbuatan tidak menyenangkan. Terkait dengan laporan itu, kemarin Amin diperiksa penyidik Satreskrim Polres Sumenep.


AKHMADI YASID, Sumenep (fiq/jpnn/c2/ib/jawapos)

Tinggalkan komentar

Filed under Hukum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s