Napak Tilas Atlet Sukses

SEMAKIN hari, semakin sulit saja bangsa ini menerima kabar gembira yang berkaitan dengan prestasi olahragawan. Jangankan di tingkat internasional, di tingkat regional saja, atlet-atlet kita masih belum mampu bersaing.

Padahal, puluhan tahun lalu, atlet-atlet negeri ini sungguh disegani. Kita tentu belum lupa kehebatan maestro bulu tangkis Rudy Hartono yang merajai turnamen bergengsi All England.

Kita juga tentu tidak lupa dengan Liem Swie King. Atau, ganda putra yang begitu disegani, Tjun Tjun/Johan Wahyudi atau Christian Hadinata/Ade Chandra, yang membuat nomor tersebut seakan hanya menjadi milik dua pasangan itu secara bergantian. Yang belum lama, tentu kita masih ingat Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, Ardy B.W., dan lain-lain.

Tapi, itu dulu. Kini untuk meloloskan pemain bulu tangkis ke Olimpiade London 2012 saja, harus diperlukan perjuangan ekstrakeras. Peringkat pebulu tangkis Indonesia di kancah internasional terus merosot.

Mungkin tidak sedikit yang bertanya, mengapa pebulu tangkis kita pada masa lampau lebih berprestasi dibanding junior-juniornya saat ini? Mengapa prestasi tersebut, tampaknya, terputus begitu saja?

Ah, seandainya para pendekar bulu tangkis tersebut mau meluangkan waktunya untuk menulis. Ya, menulis. Bukan saja pemain, namun juga pelatih. Andai saja ada sebuah buku yang menceritakan bagaimana perjuangan, persiapan, dan latihan yang dilakukan Rudy Hartono hingga sukses menjuarai All England sampai tujuh kali berturut-turut.

Andai saja ada buku yang menggambarkan upaya dia mencapai kesuksesan demi kesuksesan yang diraih. Tentu, ada banyak hal yang bisa dipelajari dan ditularkan dari proses kepelatihan pada masa-masa kejayaan olahraga tepok bulu Indonesia saat itu.

Menulis memang berat. Sistem pendidikan kita juga belum banyak mengajarkan pelajaran menulis kepada siswa. Jangankan atlet yang kesehariannya jauh dari aktivitas tulis-menulis, mahasiswa dan pendidik yang seharusnya selalu bersentuhan dengan dunia corat-coret itu pun sulit untuk menulis. Buktinya, masih banyak ditemukan karya tulis mahasiswa atau pendidik yang ternyata dibuatkan pihak lain.

Andai saja pelatih Rudi menuliskan semua program latihan yang diberikan kepada sang maestro bulu tangkis itu. Pasti banyak yang bisa belajar dari keberhasilan-keberhasilan programnya. Pada gilirannya, kegagalan-kegagalan yang dialami bisa diperbaiki dan dicarikan solusi inovatif.

Andai saja Rudi, Alan, dan Susi mau menuliskan pengalaman-pengalamannya menjalani program latihan yang berat dan cara mereka mengatasi beban mental selama berlatih atau bertanding hingga akhirnya meraih medali emas di Olimpiade. Pasti akan banyak calon atlet yang sudah mau belajar dari kegagalan dan keberhasilan yang mereka alami.

Setidaknya, tulisan para atlet itu bisa menjadi kajian tersendiri dalam proses evaluasi dan inovasi kepelatihan olahraga. Dengan demikian, pengalaman-pengalaman keberhasilan mereka bisa terus dikembangkan dan kegagalan yang terjadi bisa direduksi.

Patut diacungi jempol upaya yang sudah dilakukan pemain sepak bola Bambang Pamungkas. Selain memiliki situs pribadi, Bepe -panggilan Bambang Pamungkas- sudah menerbitkan buku.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari tulisan Bepe. Meski belum sampai pada teknis yang menyangkut kepiawaiannya menggocek si kulit bundar, berbagai persoalan yang berkaitan dengan karirnya di bidang sepak bola bisa dijadikan pelajaran bagi generasi penerusnya. Sebab, itulah salah satu cara mengikuti napak tilas atlet yang sukses. (Tajuk JawaPos)

Tinggalkan komentar

Filed under Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s