Jangan Cari Uang di Bank

UPAYA Bank Indonesia di bawah kendali Gubernur Darmin Nasution untuk terus menurunkan tingkat bunga kredit belum menunjukkan kemajuan berarti. Persaingan sengit menekan suku bunga kredit hanya terrjadi di penyaluran kredit konsumsi, sedangkan penurunan bunga kredit usaha dan investasi sangat lambat.

Masalah lama namun belum kunjung ditemukan solusinya ini kembali mencuat pekan lalu. Pemicunya adalah pernyataan Ketua DPR Marzuki Alie yang merasa geram dengan lambatnya kesepakatan di antara bank-bank pemerintah atau BUMN terkait dengan penentuan bunga Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Fasilitas pembiayaan perumahan bagi masyarakat kalangan bawah dengan bunga rendah itu belum kunjung bisa dijalankan tahun ini karena bank penyalur dana keberatan dengan rendahnya suku bunga yang dipatok pemerintah. Ironisnya, bank yang getol menolak itu justru bank milik pemerintah sendiri, yakni BNI, BRI, Bank Mandiri, dan BTN. “Mereka itu kan bank pemerintah, dibentuk oleh pemerintah, dan menggunakan uang rakyat, seharusnya juga memikirkan rakyat. Jangan hanya mikir untung saja,” keluh Marzuki di Jakarta Selasa (14/2).

Bagi sebagian besar banker di Indonesia, tingkat bunga rendah memang masih dianggap sebagai momok mencemaskan. Para banker itu menganggap bisnis perbankan hanya akan tumbuh manakala ditopang oleh rezim bunga tinggi yang memberikan margin bunga besar.

Pola pikir konvensional itu mendapat tepuk tangan dari kalangan analis pasar uang yang berpola pikir serupa. Tingkat bunga acuan yang rendah dianggap sebagai berkurangnya insentif bagi investor asing untuk membawa uangnya ke Indonesia karena berkurangnya imbal hasil.

Karena tidak kunjung dikoreksi, pola pikir yang salah bertahun-tahun itu mendorong terciptanya segmen deposan yang menganggap tingkat bunga acuan yang rendah akan mengancam return simpanan mereka. Dari data BI akhir 2011, jumlah nasabah penikmat laba bunga ini sebetulnya tidak banyak, hanya 122.593 orang pribadi. Namun, dengan total tabungan Rp 1.303 triliun, derajat mereka sangat mulia di mata banker. Merekalah yang tanpa henti melobi bank untuk mendapatkan gift rate bagi simpanan mereka di atas bunga pasar.

Seakan menjadi lingkaran setan, kebiasaan itu kemudian dijadikan alasan perbankan enggan menurunkan suku bunga kredit. Pemerintah yang mempunyai kewenangan melakukan apa yang harus dilakukan sepanjang itu untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat harus memutus lingkaran setan itu dengan segera mengubah sesat pikir di perbankan.

Banker harus dipaksa lebih berkeringat dengan turun langsung ke masyarakat untuk mencari usaha potensial. Jika menemukan, bank harus membiayai dan membina usaha itu. Ujungnya, jika usaha sukses, bank ikut meneguk untung. Nasabah juga harus meninggalkan paradigma simpanan bank sebagai salah satu instrumen investasi. Para deposan perlu semakin membuka diri terhadap instrumen investasi yang lain, yang tetap aman dan menguntungkan.

Sudah bukan eranya lagi bisnis bank semata-mata mengandalkan selisih margin bunga yang tinggi. Seperti efek spiral, jika itu terjadi, pertumbuhan ekonomi akan lebih kencang karena didukung dinamika bisnis korporasi yang lebih berdaya saing dan meningkatkan daya serap terhadap lapangan pekerjaan. (Tajuk JawaPos)

Tinggalkan komentar

Filed under Ekonomi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s